14

1807 Kata
Dua tahun kemudian, Fabian menatap lekat gadis di hadapannya. Dia memiliki rambut yang panjang berwarna hitam legam, tubuhnya juga padat dan molek. Fabian memeluknya dari belakang, sang gadis mengerang. Membisikan namanya seolah bergetar. Fabian sangat menyukai ketika namanya keluar dari bibir gadis itu, menyebut nama Fabian. Terasa sangat seksi dan menggairahkan. Wanginya juga terasa hangat dan menggoda, menerpa hidungnya. Fabian sampai tidak bisa berpikir. Kepalanya hanya dipenuhi oleh bayang-bayang sang gadis. "Aurora." Terdengar suaranya berbisik lembut di telinga gadis itu. Fabian membuka mata, keringat mengucur di keningnya. Bermimpi? Memimpikan wujud Aurora yang telah menjadi wanita dewasa. Dia tidak bisa mengingat lagi sosok yang dia mimpikan. Namun jelas, kalau sosok itu telah memenjarakan dirinya dalam pesona. Kamar Fabian gelap. Jam berapa ini? Fabian duduk. Menghela nafas berkali-kali. Ya Tuhan. Fabian menggelengkan kepalanya keras. Setelah beberapa tahun tinggal bersama Aurora, sekarang dia mulai memimpikan gadis itu. Ini sangat mengerikan dan tidak boleh terjadi. Aurora adalah sosok yang harus dilindungi dan dijaga. Kenapa dia malah memimpikan Aurora di pelukannya? Sosok yang telah dewasa, bermimpi seolah-olah Fabian siap menerkamnya tanpa bisa menunggu dan mengontrol dirinya. Padahal kamarnya dingin, namun, Fabian merasa tubuhnya panas. Dia menghidupkan lampu di sebelah keranjang, mengambil ponsel di nakas. Melihat kalau masih pukul dua dini hari. Fabian beringsut bangun, tenggorokannya terasa kering. Dan tidak ada gelas air seperti biasa tersedia di kamarnya. Fabian menyisir rambutnya dengan tangan, kasar dan tak beraturan. Masih tidak habis pikir, bagaimana dia bisa memimpikan Aurora di dalam tidurnya. Katanya mimpi adalah bunga Tidur. Dan mimpi barusan, membuat darahnya mengalir dengan kencang. Fabian beringsut bangun, dia membuka pintu kamarnya perlahan. Menuju ke dapur. Di sana dia mendengar bunyi-bunyian. Jantung Fabian berdetak kencang, selama ini dia tinggal bersama Aurora tetapi tidak merasakan apa-apa di dalam hatinya. Dan untuk pertama kalinya rasa itu berubah. Berubah? Benarkah? "Pak Fabian." Aurora berada di dapur. Menoleh ke arahnya, senyum terulas dari bibirnya yang merah muda. Bercahaya terkena terpaan lampu. "Aurora." Fabian mengerjapkan matanya, takut kalau dia mulai gila dan membayangkan Aurora. Tapi ternyata itu nyata. "Pak Fabian kebangun?" Fabian menggangguk. "Aku ingin minum segelas air." "Biar Rora ambilkan." Dengan cekatan Aurora mengambil gelas kaca dan mengisinya dengan air. Aurora tersenyum. "Aurora, Apa kau nggak tidur?" Aurora mengangguk. "Akhir-akhir ini, Rora banyak pikiran. Tadinya, sih, mencari cemilan. Soalnya agak lapar." Mereka duduk berhadapan di meja makan. Fabian mulai memandangi gadis itu. Sebentar lagi dia berumur 17 tahun, biasanya Fabian akan menyuruh Idris memberinya hadiah yang dia inginkan. Fabian selama ini memang tidak terlalu berusaha intens untuk dekat dengan Aurora. Fabian mulai melihat dan memikirkan perbedaan Aurora saat ini dibandingkan dengan dengan saat mereka pertama kali bertemu. Rambut Aurora mulai panjang sepunggung, bibirnya juga tampak merah dan ranum. Mungkin dadanya jadi lebih ... Oh astaga? Dia jadi ingat sosok Aurora dewasa di dalam mimpinya, bagaimana dia bisa menggambarkannya sedemikian rupa? Walaupun hanya mimpi. "Pak Fabian?" Fabian tersadar dari lamunannya. "Oh, ya?" Dia dengan cepat meneguk gelas di depannya hingga isinya tinggal setengah. "Pak Fabian, kenapa ngeliatin Aurora kayak begitu?" Aurora tertawa renyah. "Hanya memikirkan waktu yang telah berlalu, tanpa sadar sudah tiga tahun kamu ikut denganku." Aurora terdiam. Matanya mengerjap. Tidak ada yang bisa meragukan kalau Aurora memang memiliki kecantikan yang berbeda. Melihatnya bisa membuat orang merinding. Idris sejak dulu mengatakan pada Fabian. Sebaiknya dia menjadikan Aurora sebagai pasangan di masa depan. Ketimbang mencari wanita lain yang belum tentu kepribadian dan track record-nya. "Apa Pak Fabian bosan melihat Aurora?" Ketika bicara dengan Fabian, ada sedikit nada manja di dalam kata-katanya. Aurora mencecap bibirnya. Aurora manja padanya, harusnya itu wajar bukan? Selama ini, Fabian adalah sosok yang dianggap sebagai pelindung. Memberikan dia rumah, makan dan semua yang dia butuhkan dalam kehidupan. "Apa kau bosan melihatku?" Fabian balik bertanya. Aurora terkejut. "Itu nggak mungkin." dia menjawab. Fabian tersenyum simpul. "Jadi kenapa aku harus bosan melihat kau, Aurora?" Aurora menggelengkan kepala. Dia mengangkat mug di hadapannya dengan dua tangan. Minum dengan bergaya. Fabian memang menyadari, beberapa minggu belakangan. Gerak-gerik Aurora menyita perhatiannya, tidak seperti dulu. "Pagi ini, Pak Fabian nggak berangkat ke kantor?" Aurora bertanya lirih. Mengalihkan pembicaraan. Dua tahun juga telah berlalu sejak Fabian telah membuka sebuah perusahaan. Jauh dari bayang-bayang keluarganya. Walau demikian, dia harus banting tulang. Berusaha sangat keras untuk membesarkan perusahaan yang dia bangun bersama temannya. "Pak Fabian harus semangat, di rumah ini ada dua orang yang perlu diberi makan. Ditambah Pak Idris, Fabian harus menafkahi 3 orang sekaligus." Aurora mengerjapkan matanya lagi, kebiasaan itu membuat pemikiran Fabian penuh. "Belum lagi karyawan di perusahaan." Fabian tertawa, istilah menafkahi terdengar sangat intim, bukan? "Nanti setelah tamat kuliah, Rora akan membantu di perusahaan." Aurora membenarkan kerah piyamanya. Malam itu, dia memakai piyama setelan berbahan licin yang terlihat berkilau saat terkena lampu, warna merah marun dengan garis putih di batas-batas piyama nya. Aurora menatapnya ragu-ragu, dia menopangkan pipi ke tangannya. Kemudian bergerak dengan gelisah. "Pak Fabian diam. Apa Rora sebaiknya nggak membahas soal ini?' "Soal apa?" Fabian menerka ke mana arah pembicaraan gadis itu. "Soal berkuliah." Aurora lanjutkan. Dia menatap Fabian. "Apa Rora boleh lanjut berkuliah. Aurora ...." Fabian menatap dengan nada heran. "Tentu saja, kau harus berkuliah, Rora." Mata Aurora seketika berbinar. "Benarkah, benarkah Pak Fabian mengizinkan? Rora ... Rora akan membayar biaya masuknya dan biaya semesternya dan ..." suaranya terbata. "Apa maksudmu?" Kalimat Aurora semakin membuatnya bingung. Aurora berdiri. "Rora, nggak membahas ini sebelumnya. Tapi Rora ingin berkuliah. Hanya saja, Rora merasa nggak nyaman. Pak Fabian udah menyekolahkan Rora sampai sebentar lagi tamat SMA. Rora kayak orang nggak tau diri ..." Aurora berkata cepat, namun terbata. "Aurora ... wait, kenapa kau berpikir begitu?" "J-jadi Pak Fabian mengizinkan Rora untuk kuliah?' "Kau nggak perlu izin untuk melakukan itu, Rora. Itu memang keharusan." "Tapi ..." "Aku akan minta Idris mengurusi segala sesuatu yang kau butuhkan untuk berkuliah nanti." Jadi tampaknya selama ini Aurora tidak membahas masalah kuliah dengannya, karena dia berpikir sudah terlalu membebani Aurora dengan pendidikannya. Aurora berlari menghambur. Dia memeluk Fabian erat. Tunggu. Fabian merasa kepalanya pusing. Wangi Aurora terasa berbeda, aroma padang rumput yang segar telah berubah menjadi hangat dan menggoda. Fabian merasa tubuhnya kaku Tunggu. Kenapa dia berpikir seperti ini? Fabian merasa tubuhnya tegang, darahnya berdesir naik ke kepalanya. Aurora menangis tersedu. Dan kenapa dia menangis? Semua kejadian malam ini membuat Fabian merasa aneh. Dimulai dari mimpi dan diakhiri dengan pelukan Aurora. "Pak Fabian begitu baik sama Rora. Rora ... nggak tahu harus balesnya gimana." "Hey..." Fabian tidak bisa berkata apa-apa untuk pertama kali dalam hidupnya. Setelah pulih dari kesadarannya, Fabian mengangkat tangan dan membelai rambut Aurora dengan pelan. *** Aurora merasa sangat bahagia, dia kembali ke kamarnya dan bergulingan di atas tempat tidur. Pipi dan tubuhnya terasa panas. Pak Fabian sangat wangi, dia suka sekali menghirup aroma tubuhnya sejak dulu. Aurora menutup wajahnya. Pak Fabian ... Padahal Aurora begitu bingung bagaimana harus mengatakan pada pria itu soal rencana kuliahnya. Pria itu malah bingung kenapa Aurora meminta izin karena merasa dia memang harus berkuliah. Pak Fabian, desah Aurora. Dia akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia nanti. Setelah semua yang dia lakukan untuk Aurora. Aurora belum bisa membalasnya dengan apapun. Aurora jadi tidak sabar memberitahukan pada Daru. Mereka telah mengikuti seleksi di universitas terkemuka. Aurora memegangi dadanya, seperti ingin meloncat karena bahagia. Bahkan tadi rasanya ingin mencium pipi Fabian karena terlalu bahagia. Aurora mengingat lagi sosok Fabian, di matanya, pria itu sangat keren dan gagah. Sebenarnya kehidupan Aurora bersama Fabian tidaklah mulus dan mudah. Dia kerap diganggu oleh wanita-wanita yang ingin berdekatan dengan pria itu. Hanya saja dia tidak peduli, lagipula mereka tinggal berjauhan dengan keluarga Eisen. Ibu Fabian juga tidak bisa berbuat banyak padanya. Fabian sangat keren, dia selalu bisa membungkam dengan Nyonya Eisen saat beliau ingin Aurora dari kehidupannya. Membuat kekaguman Aurora padanya semakin memuncak. Sekalipun orang masih remaja saat itu, dia jelas mengetahui kalau Nyonya Eisen tidak suka mereka tinggal bersama. Nyonya Eisen pastilah mengira kalau dia akan membawa pengaruh buruk pada Fabian. Beberapa orang memang menggosipkan yang tidak-tidak mengenai mereka, tetap Fabian tidak peduli. Aurora belum pernah melihat pria itu mengungkit masalah itu. Sepertinya malam ini memang ditakdirkan untuk menjadi titik awal dalam kehidupannya. Satu langkah lagi, dia akan memasuki kehidupan baru menjadi seorang mahasiswi bersama laki-laki yang dia sukai. Daru. Aurora tersenyum sampai mulutnya pegal. Rasanya nggak sabar menjadi mahasiswi, dia akan menjadi sosok wanita dewasa dan siap menantang dunia. Aurora tertawa, dia semakin tidak bisa tidur. Dia tidak peduli kalau ini masih pukul setengah empat pagi. Aurora segera mengabari Daru kalau dia telah mendapatkan izin untuk berkuliah. *** Di sebuah gedung pencakar langit, seorang pria berusia 40-an, tengah berdiri menatap melalui jendela kaca. Di usianya yang belum menginjak 50, dia telah memiliki segalanya. Hampir segalanya. Kesuksesan, materi juga nama baik. Bisa dikatakan tidak ada yang tidak mengenalnya di dunia bisnis. Irawan Lander. Dia merupakan pengusaha yang terkenal, seorang pekerja keras dan memiliki kepemimpinan yang sangat baik. Karyawan di perusahaannya sangat memuja sosok Irawan, mengaguminya sebagai salah satu panutan, role model. Seorang pria berusia hampir tiga puluh memasuki ruang kerjanya. "Apa itu kau, Mahesa?" Irawan bertanya tanpa menoleh. "Ya, Pak Irawan," jawab pria itu. Irawan menoleh sekilas, kemudian melanjutkan menatap jendelanya lagi, setelah bertahun-tahun, rasanya dia ingin menyerah. Namun, itu tidak benar. Selama ini untuk hal yang terjadi dalam hidupnya Irawan tidak pernah menyerah. "Saya telah mendapatkan informasi mengenai wanita yang bapak cari." Seketika Irawan menjadi terkejut, penantian yang berbuah hasil. "Apa kau serius, Mahesa?" Dia berbalik kali ini, melihat raut wajah Mahesa. Mahesa adalah tangan kanannya sekaligus pemuda yang dia angkat sejak masih remaja dulu. Meletakkannya sebagai seorang asisten pribadi agar lebih dipercaya ketimbang mempekerjakan orang asing yang tidak dikenal. Mahesa mengangguk. "Kenapa selama ini kita tidak bisa menemukan jejaknya?" Irawan bertanya lagi. "Kita tidak menemukannya selama ini karena dia telah berganti nama." Mahesa melanjutkan. "Saya dengar ini juga terkait dengan keluarga Eisen." "Keluarga Eisen?" Mahesa semakin bingung, dengan keluarga Eisen tidak ada yang tidak mengetahui soal permusuhan mereka. Sejak dulu Keluarga Lander dan Eisen telah bertentangan. "Itu benar, saya mendapat informasi kalau wanita itu pernah menjadi pengasuh dari salah satu anak keluarga Eisen. Namun informasi mengatakan kalau pengasuhnya telah meninggal dunia." Jantung Irawan serasa dipecut dengan kencang. "Telah meninggal?" Suaranya terdengar bergetar. "Ya, Pak. Beberapa tahun yang lalu." Irawan merasakan tubuhnya limbung, dia menahan tangannya pada meja. Kemudian terduduk. "Benarkah?" "Saya masih akan mencari informasi dan menyelidiki peristiwa yang berhubungan dengan ini. Perkembangannya akan terus saya laporkan ke bapak." Irawan hanya diam, baru saja dia begitu gembira karena ada kabar mengenai wanita itu. Namun kabar berikutnya membuat perasaannya hancur. Apa beritanya salah? Ya, Irawan berharap demikian. "Selidiki juga di mana dia pernah tinggal, siapa saja yang pernah berinteraksi dengannya dan kenapa dia mengganti identitasnya. Selidiki juga tentang anak Keluarga Eisen yang diasuh. Selidiki semuanya, Mahesa, sampai sekecil-kecilnya." "Baik, Pak. Saya akan melakukan perintah bapak." Setelahnya Mahesa keluar dari ruangan Irawan. Irawan meletakkan kedua tangan di perut, bersandar pada kursi kerjanya. Dosanya tidak termaafkan, apakah karena itu dia tidak diizinkan untuk menebusnya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN