Hadirlah dalam Mimpiku

1446 Kata

"Kenapa?" Gwen terperanjat saat pintu kamarnya kembali terbuka. Ia tertangkap basah tengah bergulingan sambil memukul-mukul spring bed. Wajahnya kian memerah saat menyadari sang kakak menatapnya bingung. Seketika ia gelagapan. "Aku senang banget, Bang," sahutnya. Ia merasa beruntung karena bisa berpikir dengan cepat sehingga jawabannya tidak memalukan. Tak peduli dengan kerut di dahi sang kakak yang makin banyak. Meski pada akhirnya pemuda 23 tahun itu mengangguk. "Ooh, baiklah. Artinya Abang harus secepatnya memperkenalkan kalian." Gwen mengangguk. "Tentu," sahutnya. "Ee ... tapi nanti dulu aja. Aku kan mau ujian?" "Ya nggak masalah kali, kan hanya beberapa kali pertemuan dalam seminggu. Itu pun jadwal bisa kita sendiri yang tentukan." Gadis itu terdiam. "Gitu ya?" "Ya." Setela

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN