Pram meninggalkan pemakaman dengan langkah gontai. Ini hari ketiga sang bunda bersemanyam di balik gundukan tanah yang masih sangat basah itu. Kedatangan Pram kali ini selain untuk mengirimkan doa, juga untuk berpamitan. Besok ia berencana akan kembali pulang ke tanah air. Setelah membersihkan diri, pria itu merebahkan diri di ranjang. Tatapannya menerawang ke langit-langit kamar dengan kedua lengan yang dijadikan penyangga kepala. Dalam sekejap kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan tentang panjangnya waktu membersamai, tapi tentang sebuah ikatan darah yang tak mungkin bisa dipungkiri. Meski hanya sekejap, nyatanya kebersamaan itu menjadi titik balik dalam kehidupan Pram. Kepergian sang bunda dalam pangkuannya seakan ikut merenggut semangat pria itu. Rasa sesa

