Ponsel pintar di meja kerja Pram bergetar. Dahi pria itu mengernyit saat tatapannya jatuh di layar ponsel. Ia tidak mengenal nomor yang masuk. Namun dari dua angka setelah tanda plus, ia tahu itu sambungan internasional. Freya. Mungkinkah gadis itu? Sejak berangkat tempo hari hanya sekali ia menghubungi Pram. Itu pun melalui ponsel Gita. Ragu, ia menjawab panggilan tersebut. "Ya?" ujarnya. "Kakak." Terdengar nada halus di ujung panggilan telepon. "Maaf, mengganggu." "Kamu apa kabar?" Pram sengaja mengalihkan. "Baik." "Ooh." Sesaat hening. "Kakak? Semoga baik juga ya." Terdengar suara gadis itu lagi. "Alhamdulillah." Sesaat kembali hening. Kaku. Nyatanya kebekuan belum benar-benar mencair di antara mereka. Pram tahu itu. Namun anehnya gadis itu sangat banyak bicara

