Pram menatap tak mengerti. Tiba-tiba saja langkahnya dihadang pria tak dikenal. Secara ukuran tubuh, berikut tampang mungkin mereka berimbang. Andai mereka disandingkan dalam sebuah kontes, pasti juri akan kebingungan untuk menentukan pilihan. Sayangnya pertemuan keduanya bukan dalam konteks itu. Aura permusuhan terlihat begitu kental dari raut wajah sang tamu tak diundang. Namun dari ekspresi Freya, sepertinya gadis itu mengenal sang pemuda. Belum sempat Pram bertanya, tiba-tiba saja tanpa permisi sebuah bogem mentah dilayangkan di wajah tampannya. Beruntung Pram sigap. Hingga pukulan lelaki tak dikenal itu hanya menyapu angin. Satu inci di pelipis kiri Pram. "Apa-apaan ini?" ujar Pram dengan wajah yang memerah. "Siapa kamu?" Bersamaan dengan pertanyaan Pram, Freya berteriak ta

