Bab 12 - Diusir

1908 Kata
Bruk ... Sebuah koper berwarna hitam dilemparkan ke luar rumah. "Pergi Lo, sana. Ini rumah gue. Sudah cukup Lo jadi benalu hidup gue!" usir Sevi melemparkan koper berisikan pakaian Aleyra. Aleyra terdiam berfikir ada apa dengan Sevi, kenapa dia bisa mengusirnya. "Kenapa kamu ngomong begitu, Sev? Aku salah apa?" tanyanya dengan muka memelas. "Salah apa kata Lo? Lo pikir gue nggak tau kalau kemarin Lo jalan berdua sama Bimo ke laut." "Lo tau dari mana, Sev?" Aleyra kebingungan, padahal kemarin dia tidak melihat Sevi di laut. Bagaimana bisa sepupunya itu tau kalau kemarin dia dan Bimo pergi ke laut. "Gue ngikutin lo? Sudah cepat sana pergi!" Sevi mendorong keras bahu Aleyra hingga ke depan pintu dan Aleyra pun gelimpangan ke lantai. "Astaghfirullah, Sevi. Kamu tega banget, sih sama Aleyra." Runi yang baru keluar dari kamar kaget melihat Aleyra diusir dan langsung memeluk Aleyra. "Udah, Ibu jangan ikut campur! Ini urusanku sama dia. Aku enggak suka sama dia, dia harus pergi dari sini!" Napas Sevi mulai tak beraturan akibat amarah. Dia tak ingin ibunya berlama-lama menahan Aleyra agar tetap tinggal, apalagi kalau sampai menahan dia agar tak mengusir Aleyra. dia tak akan lagi memberi toleransi padanya. Sudah saatnya Sevi lepas dari cewek yang dianggapnya musuh, hanya karena tidak suka melihat sepupunya dekat-dekat dengan cowok yang disukainya. Kalau Aleyra masih di sana, dia tidak akan bisa tenang. Rasa cemburu melatar belakangi semuanya, hingga hubungan sepupu di antara mereka tak lagi terlihat. "Dia ini sepupumu, Sev, sadar. Ibunya mengamanahkan dia sama Ibu." “Ibu lupa siapa yang menyebabkan bapak meninggal, itu karena dia, Bu. Dia yang sudah membuat bapak meninggal.” “Sevi! Tidak seharusnya kamu berkata seperti itu. Semua itu terjadi bukan karena kesalahan Aleyra, tapi murni karena kecelakaan,” terang Runi yang menaikkan nada bicaranya kepada Sevi. “Kecelakaan ibu bilang, nggak! Itu bukan sebuah kecelakaan. Kalau saja waktu itu bapak tidak menolong dia, mungkin saat ini bapak masih hidup dan berada di tengah-tengah kita, biar dia yang mati, bukan bapak!” Plak ... Spontan Runi melayangkan tangannya kepada Sevi. Aleyra terkejut melihat Runi mengangkat tangan hanya demi membelanya, padahal dia tidak ingin bibi dan sepupunya terlibat percekcokan hanya karena dirinya. Runi tidak tahu kenapa sacara spontan tangannya dia arahkan kepada putri semata wayangnya. Dia menyesal karena telah melakukan hal yang tak sepantasnya dia lakukan. Sevi memegang pipinya, menatap ibunya penuh Amarah. “Ibu jahat, Ibu sudah gak sayang lagi sama aku! Ibu lebih sayang dia ketimbang aku? Sekarang Ibu pilih dia atau aku? Kalau Ibu pilih aku maka dia yang harus pergi, tetapi kalau Ibu memilih dia, maka aku yang akan pergi." Seketika Runi terdiam. Dia tak tau mana yang harus dia pilih. Keduanya sangat berarti baginya. Dia tak mungkin membiarkan Aleyra pergi. Akan tetapi, dia juga tak mungkin membiarkan anak semata wayangnya meninggalkan rumah. Saat Runi masih menimbang-nimbang, Aleyra berusaha menenangkan Runi. "Bi, sudah biar Aleyra aja yang pergi. Enggak apa-apa." "Tapi, Ley. Kamu tidak punya siapa pun di sini. Mau tinggal di mana kamu dan dengan siapa?" Runi meneteskan air mata. Dia rasanya tak sanggup melepas keponakan tersayangnya tanpa siapa pun. Aleyra menahan segala rasa di hatinya. Dia tak ingin menangis di depan Runi. Dia harus kuat di hadapan bibinya itu. "Aku masih punya tabungan, Bi. Bibi enggak usah khawatir." "Bagus, memang seharusnya kamu pergi dari dulu. Sudah cepat pergi sana. Ingat, jangan pernah kembali lagi!" teriak Sevi. Aleyra berdiri kemudian memeluk bibinya. Setelah itu, dia pergi ke kamar dan membereskan baju-baju dan dimasukkan ke dalam koper. Sevi tersenyum puas menyaksikan saingannya pergi dari rumah. Kemudian dia pun masuk ke kamarnya dengan perasaan puas. Tak apa meski sakit sebentar karena tamparan ibunya, tapi dengan perginya Aleyra membuatnya merasa puas, akhirnya dia bisa mengusir orang yang dianggap sudah membunuh bapaknya sekaligus orang yang sudah merebut cowok impiannya. *** Dreet ... dreet Hp Runi bergetar. Runi mengambil HP-nya dari atas meja dekat sofa ruang tamu. Dilihatnya panggilan yang masuk. Nama mba Anita ̶ ibu Aleyra ̶ terpampang jelas di layar handphone. 'Ya Allah, mbak Anita. Bagaimana ini, bagaimana kalau dia tau Aleyra diusir sama Sevi. Apa yang harus aku katakan padanya?’ Dia bingung, berjalan mondar-mandir ke kanan dan ke kiri, tak langsung mengangkat panggilan dari Anita, sampai panggilannya terhenti. Dia memikirkan apa yang akan dia sampaikan kepada adiknya. Tiga kali Anita mencoba meneleponnya, kali ini dia mengangkat panggilan dari Anita. [Hallo, assalamualaikum.] suara Anita terdengar bersemangat. [Wa ... walaikumsalam, Mbak,] sahut Runi. [Run, kenapa lama sekali angkat teleponnya? Habis dari mana? Oh iya, Minggu depan aku pulang. Aleyra ada? Aku mau bicara sama Aleyra.] Runi bergeming beberapa saat, dia tak tau apa yang harus dia ucapkan pada Anita. [Run, ko mbak tanya diam saja? Aleyra baik-baik saja, kan?] [Aleyra ... ] [Aleyra kenapa? Jawab aku.] suaranya terdengar resah. [Aleyra diusir Sevi. Maafin aku mba, Nit. Aku tidak bisa melawan ancaman Sevi.] [Ancaman? Ancaman apa?] [Sevi suruh aku memilih antara dia atau Aleyra. Maafin aku, Mbak. Hiks ...] Runi menangis menceritakan kejadian yang dialami keponakannya. [Ya Allah, Runi. Ya sudah aku akan coba hubungi Aleyra saja.] Runi menutup teleponnya, dia mengusap air matanya. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena tak bisa mencegah anaknya mengusir keponakannya. Dia duduk di sofa memikirkan Aleyra. Ke mana dia akan pergi. Dia merasa tidak berhasil menjadi seorang ibu, padahal dulu Sevi tak seperti ini. Dia harus bicara pada sevi. Dia bangkit dari sofa berjalan menuju kamar Sevi. Tok tok tok "Sevi, Sev kamu belum tidur ‘kan?" Runi mengetuk beberapa kali pintu kamar Sevi. Tanpa persetujuan dari Sevi, Runi masuk kamarnya. Saat dia masuk, Sevi sedang berbaring mendengarkan musik memakai headset. "Pantas saja dia tidak menyahut, rupanya dia sedang asik mendengarkan handphone," gumamnya. Beberapa saat Runi berdiri, dia melihat tangan Sevi mengikuti alunan musik yang dia dengar dari headsetnya sembari kepalanya di geleng-gelengkan. Dia tak habis pikir, tak ada sedikit pun rasa menyesal dalam diri Sevi yang baru saja mengusir Aleyra. Runi mendekatinya dan mencoba menggugah Sevi yang masih asik dengan musik. "Sev, ibu mau bicara." Sevi tak menghiraukan apa yang ibunya katakan. Sampai ibunya menggugah sedikit dengan nada tinggi. "Sev, kamu denger nggak sih ibu bilang ibu mau bicara. Kamu lama-lama ngelunjak!" nada Runi makin tinggi. Sevi mencopot headset-nya keras. "Apa, sih, Bu. Ganggu aku aja." Sevi memicingkan mata ke ibunya lalu duduk dengan kasar. "Kamu tuh kenapa sih tega banget sama Aleyra? Kamu punya masalah apa sama dia? Sampai-sampai kamu tega ngusir dia." "Bu, sudah cukup ya Aleyra ngerebut perhatian ibu dari aku. Ibu ngerasa enggak sih kalau ibu tuh lebih memperhatiin Aleyra dibanding aku. Semenjak ayah tiada, hanya ibu yang aku punya. Dulu ibu sayang banget sama aku. Tapi semenjak Aleyra Dateng, semuanya berubah. Ibu bukan ibuku yang dulu lagi." Sevi mengusap kasar air mata yang jatuh dari pelupuknya. Mendengar Sevi mengatakan hal itu, ibunya menyadari apa yang Sevi katakan memang ada benarnya. Dia mendekat lalu memeluk putrinya. "Ya sudah, maafin ibu, ya kalau selama ini kurang memperhatikan kamu. Ibu sayang sama kamu. Kamu baikan ya sama Aleyra, biarin dia tinggal di sini lagi." "Apa?" Sevi melepas pelukan ibunya. Kemudian melanjutkan ucapannya, "Enggak, aku enggak bakal biarin dia balik lagi ke sini. Ibu ingat kan dia yang sudah buat bapak mati. Dia sudah buat aku jadi anak yatim, Bu.” “Bukan, Sev. Itu adalah sebuah kecelakaan, bukan salah Aleyra,” bela Runi karena memang yang terjadi kepada almarhum suaminya adalah sebuah kecelakaan dan bukan salah keponakannya. Namun, tetap saja Sevi selalu menyalahkan Aleyra tentang yang terjadi kepada bapaknya. “Terus saja ibu belain dia, aku muak sama dia. Apalagi dia udah merebut cowok yang aku suka. Aku nggak akan maafin dia, enggak akan!" Dia beranjak dan pergi meninggalkan ibunya. "Seeev ... dengerin ibu dulu." Gebragggg Pintu di tutup Sevi dengan keras. Dia tak habis pikir dengan ibunya, baru saja dia mengusir Aleyra, tapi ibunya malah menyuruhnya untuk memberi maaf kepada Aleyra. Sampai kapanpun dia takkan pernah melupakan kejadian yang sudah membuat bapaknya meregang nyawa karena menyelamatkan Aleyra. *** Flasback On Malam itu, Sevi bersama Pak Albi─bapaknya─sedang mencari makanan untuk mengganjal perut yang sedari tadi sudah berbunyi. Mereka berdua menaiki motor menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah warung lamongan pinggir jalan raya. Albi memarkirkan motor, lalu berjalan sambil menggandeng anaknya ke dalam warung lamongan. Suasana warung malam itu cukup rame, mereka harus bersabar mengantri sesuai dengan saat kedatangan mereka. Setelah tiga orang sudah selesai dengan pesanannya, tiba giliran Sevi dan bapaknya memesan. Seperti biasa, Sevi memesan lauk kesukaannya yaitu pecel lele plus nasi. Sementara itu, Albi memesan pecak lele, nasi goreng, dan juga ayam goreng untuk istri dan juga Aleyra yang saat itu baru ditinggal ibunya ke luar negeri. Semula mereka berdua berencana akan makan di rumah bersama-sama. Namun, karena Sevi yang merajuk meminta bapaknya untuk makan di warung saat itu juga dan tak akan sabar kalau harus makan di rumah, maka akhirnya Albi pun tak bisa menolak keinginan anak semata wayangnya yang terus menerus memohon padanya. Cukup lama mereka makan di tempat itu. Runi yang menunggu di rumah tak sabar dan menyuruh Aleyra untuk menyusul Albi dan Sevi ke warung tampat mereka biasa membeli lauk. Sevi makan dengan sangat lahap, dia sengaja makan diperlambat agar Aleyra menunggu lebih lama untuk makan. Albi lebih dulu menghabiskan makanannya, lalu dia meminta Sevi agar makan lebih cepat dan tak ingin membiarkan anak dan keponakannya menunggu lauk terlalu lama di rumah. Sevi masih makan dengan santainya, sampai kemudian Albi melihat keponakannya datang dan memarkirkan motornya di seberang jalan. Albi melambaikan tangan pada Aleyra, Aleyra pun membalas melambai dengan diiringi senyuman ke arah uwaknya. Saat Aleyra hendak menyeberang jalan, Albi melihat ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Aleyra. Dengan segera dia bangkit dari tempat duduk dan berlari untuk menyelamatkan Aleyra. Braakk Albi terkapar di aspal jalan dengan wajah bersimbah darah, Sevi berteriak melihat bapaknya tertabrak sebuah mobil, dengan berderai air mata lalu berlari menubruk tubuh yang sudah tak berdaya bersimbah darah. Dia menangis sesenggukan tak henti-henti sambil memeluk bapaknya. Sementara mobil yang menabraknya berhenti sesaat, tapi saat supir mobil itu tahu kalau orang yang ditabraknya meninggal, dia langsung kalang kabut karena takut dihakimi masa. Beberapa orang berusaha mengejar mobil itu, tapi mobil itu semakin cepat melaju dan tak terkejar oleh orang yang mengejarnya. Satu orang terlihat menelepon ambulance agar segera datang ke tempat kejadian perkara. Beberapa orang lainnya membangunkan Aleyra, dia berusaha bangkit, memegangi kepalanya yang masih pusing karena jatuh tersungkur di pinggir jalan. Dia merasa ada yang mendorongnya. Saat dia menoleh ke belakang, dimana orang berkerumun. Dia langsung berdiri dengan dibantu oleh beberapa orang untuk berjalan. Saat dia tahu orang yang berlumuran darah itu adalah Albi dia langsung terduduk lemas, tulang-tulang kakinya terasa patah dan tak mempunyai tenaga. Dia memeluk tubuh Albi yang sudah menyelamatkannya, tapi buru-buru ditampik oleh Sevi. Dengan tatapan penuh amarah, deru napas yang tak bisa dia atur, dan air mata yang membasahi pipi. “Semua ini gara-gara kamu! Dassar pembunuh! Kau sudah membunuh bapakku!” Deg ... jantung Aleyra seolah berhenti se-persekian detik saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh sepupunya. Rasa bersalah itu muncul menggelayuti pikirannya. Pandangannya kosong dengan luka di bagian wajahnya. Ini bukan salahnya, dia tidak ingin semua ini terjadi, sungguh ini di luar dugaannya. Bayangan pamannya yang beberapa saat lalu melambai padanya terlintas di pikirannya. Andai saja tadi dia tak menyusul Sevi dan pamannya, andai saja tadi dia tak buru-buru menyeberang, mungkin pamannya tak akan meregang nyawa seperti saat ini. Sejak saat itu, Sevi sangat memebenci Aleyra, dia berjanji akan membuat hidup Aleyra tidak bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN