BAB 11 - Minta Maaf

1765 Kata
Hari ujian nasional tiba, beberapa siswa terlihat ada yang bermuka tegang dan beberapa lainnya terlihat enjoy. Bimo dan Aleyra mendapatkan ruang ujian terpisah. Waktu ujian dimulai, semua siswa dengan serius mengerjakan ujian agar hasilnya pun memuaskan. Ujian hari pertama yaitu mapel bahasa Indonesia. Dua jam berlalu, siswa yang sudah selesai mengerjakan soal-soal diminta memeriksa kembali barang kali ada soal yang belum dijawab. Beberapa siswa yang sudah selesai dipersilakan untuk keluar ruangan. Bimo keluar ruangan lebih dulu dibandingkan Aleyra. Dia duduk di teras kelas Aleyra untuk menunggu Aleyra keluar. Sepuluh menit kemudian, Aleyra berjalan keluar sembari merapikan resleting tas yang masih terbuka. Dia melihat Bimo ada di depan kelas, tetapi tetap melengos dan berlalu. Bimo buru-buru menghampirinya. "Ley, tunggu, aku mau bicara." "Bicara apa?" Aleyra menghentikan langkahnya dan menengok pada Bimo. "Aku mau jelasin semuanya biar kamu gak salah paham." "Enggak usah! Aku mau fokus dulu sama ujian. Kalau kamu mau jelasin, nanti saja setelah ujian selesai." Aleyra berlalu meninggalkan Bimo. "Oke, Ley. Kita ketemu hari Rabu!" teriak Bimo. Sebenarnya dia merasa kecewa karena tidak bisa langsung menjelaskan kesalahpahamannya dengan Aleyra. Semakin lama Aleyra tidak memberi waktu untuknya berbicara, maka semakin lama pula Aleyra tidak mau bicara dengannya. Bimo sudah sampai rumahnya, dia masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa, istirahat sejenak menenangkan pikiran setelah menghadapi ujian pelajaran Matematika yang cukup membuat otaknya panas. Matematika memang identik dengan hitung-hitungan yang sangat membuat lelah pikiran. Setelah matanya lebih fresh dia membuka handphone mencari kontak Aleyra. Dia ingin mengirimkan pesan, tetapi dia ingat perkataan Aleyra. Dia akan memberikan waktu kepada Bimo setelah ujian selesai. Waktu masih menunjukkan pukul 20.00, rasanya waktu begitu lama berganti agar ujian cepat selesai dan dia bisa berbicara dengan gadis yang membuatnya tak enak makan dan tak enak tidur itu. “Daripada gue pusing mikirin kirim w******p nggak ke Aleyra, lebih baik gue belajar aja deh. Besok hari terakhir gue ujian, gue harus jawab soal dengan baik supaya nilai gue bagus dan bokap, nyokap, sama Aleyra juga bangga ke gue.” *** Hari ini hari rabu, hari terakhir ujian. Waktu ujian baru saja selesai. Rasa lega terpancar di wajah setiap siswa yang keluar dari kelas. Aleyra keluar dari kelas bersama Lani. "Alhamdulillah, ya Ley. Akhirnya selesai juga. Huffth ... lega banget." Lani menghela napas dan mengembuskan keras. "Iya, Lan, aku juga. Eh tapi inget, kita jangan senang dulu, tunggu sampai pengumuman kelulusan dulu, masih dag-dig-dug. "Ya udah, Ley, aku pulang duluan, ya. Aku ada urusan." "Okey." Aleyra mengacungkan satu ibu jari kepada sahabatnya. Saat Lani sudah berhasil jauh dari pandangan Aleyra, Bimo muncul. Aleyra ingat kalau hari ini Bimo mau menjelaskan semua kejadian waktu itu. Tidak ada salahnya dia memberi kesempatan kepada Bimo untuk menjelaskannya. "Ayo, Ley." Bimo menarik tangan kanan Aleyra dan berjalan terburu-buru. "Eh ... mau ke mana?" Bimo tidak menggubris pertanyaan Aleyra. Dia terus membawanya menuju parkiran di depan sekolah. Sevi dan Widia yang baru keluar juga dari kelas, melihat Bimo dan Aleyra yang terlihat terburu-buru. Mereka memutuskan mengikuti Bimo dan Aleyra yang berboncengan. Mereka segera mengeluarkan motor dari parkiran, lalu sesegera mungkin melesat mengikuti ke mana Aleyra dan Bimo pergi. Sevi mengemudikan motor dengan cepat, berharap tak mau kehilangan jejak keduanya. Dia tak mempedulikan kalau teman di belakangnya merasa was-was karena takut dengan cara menyetir Sevi yang bisa dibilang ugal-ugalan. Dia tau saat ini sahabatnya sedang marah karena cowok yang disukainya jalan-jalan berdua dengan sepupunya. Tapi tetap saja, itu bisa membahayakan nyawa mereka apalagi di pantura identik dengan kendaraan besar dan cepat. Widia melingkarkan tangannya di pinggang Sevi, mendekatkan bibirnya ke telinga Sevi. “Sis, jangan cepet-cepet dong, gue takut!” pinta Widia memelas dengan mata yang terus-terusan berkedip karena terpaan angin yang semakin kencang seiring dengan gas yang semakin ditarik oleh Sevi. “Udah lo diem saja! Jangan banyak bicara dulu, pegangan yang erat!” suruh sevi dibalas anggukan oleh Widia, lalu lebih mengeratkan pegangannya. Dia tak mau banyak berbicara dulu karena takut mengganggu konsentrasi Sevi dalam menyetir. Sesekali Sevi melihat speedometer yang semakin ke arah kanan. Dia kali ini tidak mempedulikan berapa kecepatan yang dia tempuh, yang pasti dia tidak boleh kehilangan jejak Bimo da Aleyra. dia harus tau apa yang mereka lakukan dan hendak pergi ke mana mereka. Di berkomat-kamit dengan muka yang terkena terpaan angin yang kencang, dia tidak akan mengampuni Aleyra jika apa yang dia pikirkan benar. Kalau Aleyra dan Bimo memang punya hubungan khusus. * Saat 25 menit perjalanan mereka masuk ke kawasan pantai Bitchi. Mereka berjalan ke tempat duduk kayu dekat dengan pantai, di bawah pohon bakau. Di sana terlihat beberapa orang sedang menghabiskan waktu bermain air. Keduanya duduk, terdiam. Aleyra menatap ke depan, memandangi deburan ombak yang berkejaran tiada henti seperti kisah asmara mereka yang semakin bersemi. Sementara Bimo, hendak memulai percakapan dengannya. "Ley." Bimo menengok ke samping. "Iya," sahut Aleyra sembari menengok ke arah Bimo. "Aku mau jelasin kejadian waktu itu." "Mangga." Aleyra menjawab dengan logat daerahnya. "Waktu itu gue memang ke kafe Nirmala sekedar ingin nongkrong dengan Tomi, tetapi tiba-tiba Sevi yang dalam keadaan mabuk menghampiri kami. Dia ke sana dengan Widia dan Afni. Dia saat itu pingsan. Widia dan Afni tidak bisa membawanya karena naik motor. Jadi mereka meminta kami mengantar Sevi pulang. Gue enggak tau kalau Sevi adalah sepupu lo." "Oh ... gitu." "Lo percaya 'kan sama gue?' Bimo menengok ke wajah Aleyra. Aleyra bangkit dari tempat duduknya dan berjalan tiga langkah ke depan. Dengan lirih dia mengatakan, "Gue enggak tau apa gue harus percaya sama lo atau enggak. Masih sakit rasanya mengingat itu semua." Bimo pun bangkit dan menyejajarkan posisinya dengan Aleyra. "Please percaya sama gue, Ley. Gue enggak lakuin hal sekeji itu. Gue masih punya ilmu agama dan agama gue melarang hal itu. Lagian gue nganterin Sevi sama Tomi, kok. Lo tau itu kan." Bimo meyakinkan Aleyra bahwa malam itu dia tidak melakukan hal apapun dengan Sevi, itu hanya salah paham. Aleyra melihat rona keseriusan dari Bimo. Tak ada kebohongan yang dia lihat di mata Bimo, yang ada rasa penyesalan karena telah membuat dirinya kecewa. Akhirnya Aleyra memaafkan Bimo dan mereka pun tersenyum. "Thanks ya, Ley, udah maafin gue. Gue janji gue enggak bakal buat lo sedih lagi. Oh iya, habis ini lo mau lanjut kuliah atau kerja?" "Gue pengen kuliah, Bim. Gue mau ngejar cita-cita gue jadi seorang guru. Kalau lo?" Aleyra memandang wajah tampan cowok yang ada di sampingnya. "Gue juga kayanya mau lanjut kuliah, bokap gue minta gue nerusin perusahaannya di Jakarta,” jawab Bimo. Dia menengok ke wajah gadis yang dicintainya. "Ley, kalau kita nikah, gimana?" "Ah, kamu ngaco. Kita baru aja ujian udah ngomongin nikah." Aleyra terkekeh mendengar pernyataan Bimo. "Gue serius, Ley." Aleyra seketika terdiam, dia tak tau apa yang harus dia katakan kepada Bimo. Dia menunduk, dia pun sebenarnya mengharapkan bisa menikah dengan Bimo suatu saat nanti, tapi bukan dalam waktu dekat karena Aleyra ingin menggapai apa yang dia cita-citakan, yaitu menjadi seorang guru. Bimo memegang tangan Aleyra, berusaha meyakinkannya akan cinta yang dia rasakan sungguh serius. Aleyra perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Bimo. "Oh, iya, Ley. Maafin aku. Aku enggak bermaksud ...." "Iya, Bim. Bim, kalau kita memang berjodoh, sejauh apa pun kita, sesulit apa pun rintangan yang menghalangi kita. Allah akan mudahkan segalanya, mendekatkan yang jauh, dan menyatukan kita dalam ikatan halal yang dinamakan pernikahan. Tapi beberapa tahun ke depan, aku ingin menggapai cita-citaku dulu. Aku harap kamu mengerti,” terang Aleyra. "Iya, Ley. Gue juga mau buat orang tua gue bangga dulu. Walaupun gue anak satu-satunya, tapi gue akan buktikan dengan kerja keras dan prestasi gue kalau gue mampu meneruskan perusahaan bokap gue. Lo mau janji enggak sama gue, Ley?" "Janji apa?" "Lo janji, jangan dulu menikah kalau tidak sama gue, ya!" Aleyra terkekeh mendengar perkataan Bimo. "Gue serius, Ley, jangan bercanda." "Iya, gue janji. Tapi semuanya kita serahkan lagi kepada Allah SWT. Kita bisa merencanakan, tetapi Allah-lah yang menentukan. Kita akan ketemu lagi setelah cita-cita kita berdua tercapai. Kamu jadi CEO dan aku jadi ibu guru." Aleyra tersenyum sangat manis dan membuat Bimo pun tersenyum. "Berarti empat atau lima tahun lagi. Lama juga, ya. Hahaha." "Ya sudah, kita pulang, yuk. Takut kesorean pulangnya." "Ayo." Mereka berdua berlalu untuk segera pulang. Di perjalanan pulang perut Bimo berbunyi seolah ada konser dangdut di dalamnya. Dia meminta izin kepada Aleyra untuk mencari makanan dulu sebelum pulang, Aleyra pun mengangguk. Bimo menepikan motornya begitu melihat ada penjual bakso yang berjualan di pinggir jalan. Mereka berdua duduk, tukang bakso menghampiri mereka dan menanyakan pesanannya. Setelah bakso matang, keduanya pun menikmatinya hingga habis. Cukup jauhnya perjalanan ternyata membuat mereka lapar dan menghabiskan makanan tanpa sisa. "Alhamdulillah, enak ya basonya," aku Aleyra melihat teman dekatnya yang masih mengunyah suapan terakhirnya." "Iya, Ley. Wiiih, Lo juga abis toh. Laper apa doyan mbak. Wkwk," ledek Bimo melihat bakso di mangkuk Aleyra bersih tanpa sisa. "Eh-eh, dua-duanya lah mas. Ahaha," timpal Aleyra. "Lagian, kalo makan tuh harus habis. Pesennya sesuai porsi kita, biar habis karena kalo gak habis nanti mubazir. Kan di luar sana masih banyak yang gak bisa makan, sedangkan kita mah enak tinggal beli-beli aja, ya 'kan?" "Iya-iya deh tuan puteri. Gak salah gue pilih Lo jadi pacar. Duh jadi gak sabar jadiin Lo tuan puteri di kehidupan gue." Bimo menatap Aleyra sambil tersenyum-senyum. Aleyra yang mendengar perkataan Bimo tiba-tiba tersedak. "Uhuk-uhuk." Bimo segera membukakan tutup botol air mineral di depan mereka dan memberikannya pada kekasihnya. "Bisa tersedak gitu, gak sabar juga ya jadiin aku pangeran Lo," goda Bimo lagi dan Aleyra memukul pelan bahu Bimo. "Preeet, kamu ini ada-ada aja. Ya entar lah, baru aja abis ujian kita. Masih kecil jangan nikah dulu." Untung saja suasana di tempat itu lagi sepi, kalau rame mereka pasti jadi tontonan pembeli lain yang melihat tingkah lucu mereka. "Gapapa lah, kan biar cepet halal, biar kemana-mana Lo ada yang jagain, ada yang nemenin Lo, mau ngapain aja udah halal. Duh, so sweet banget ya kalo udah nikah." Tukang bakso yang sedari tadi ada di gerobak mendengar percakapan mereka, "Eh, Nang, Nok. Masih pake baju SMA udah pada ngomongin nikah. Nti mau dikasih makan apa istri dan anaknya?" "Bakso Abang. Haha," ledek Bimo. Bukannya mengindahkan perkataan tukang bakso malah membalasnya dengan gurauan. "Hmm, gapapa deh kalau mamang baksonya diborong mah, ikhlas saya kalian nikah juga." "Becanda mang becanda, aduh mamang ini serius mulu. Nanti kalo kita udah nikah kita balik lagi deh ke sini buat borong basonya mamang ya." "Oalaah, yang bener mas, ya udah mamang doain moga kalian berjodoh ya, biar bakso mamang nanti diborong." Tukang bakso itu terlihat sumringah, mereka berdua pun terkekeh melihat ekspresi tukang bakso. Setelah menghabiskan makanan, mereka kembali menaiki kuda besi dan melesat menikmati angin yang berhembus sepanjang perjalanan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN