Bimo menurunkan Sevi di atas sofa dekat pintu masuk dan membenarkan posisinya hingga terlentang. Seketika Sevi tersadar, dia membuka matanya dan mendapati Bimo ada dekat dengannya. Masih dalam keadaaan terlentang, Sevi memeluk Bimo,
Bimo menolak, lalu Sevi menarik kerah baju Bimo sehingga posisi wajah Bimo sangat dekat sekali dengan wajahnya.
"Bimo, gue cinta banget sama lo. Jadilah kekasih gue." Nadanya pelan, masih dengan mulut berbau khas alkohol.
"Kamu lagi mabuk, Sev. Jangan bicara ngawur."
"Enggak, gue sadar, gue enggak ngawur. Gue sungguh-sungguh dengan apa yang gue bilang." Sevi semakin menarik kerah baju Bimo. Pegangannya beralih pada leher Bimo. Dia memeluk leher Bimo erat, sehingga Bimo sulit untuk melepaskan diri.
Sementara itu, Aleyra baru pulang dari acara tausiah ustaz di desa seberang. Dia berjalan sembari membawa goodie bag yang berisi mukena dan tasbih.
Sesampainya di depan rumah, Aleyra melihat sebuah mobil Toyota Yaris yang terparkir di halaman rumah bibinya. Dia bertanya-tanya siapa yang malam-malam bertamu ke rumah bibinya? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di dalam otaknya. Dia bergegas mendekati pintu masuk yang memang sudah terbuka.
"Assalamualai ... kum." Suaranya mendadak meredup, dia terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Matanya membelalak.
Praakk ...
Tiba-tiba Handphone Aleyra terjatuh setelah melihat Bimo sedang memeluk Sevi di atas sofa dengan posisi Bimo berada di atas dan Sevi di posisi bawah.
"Bi-mo ... " Matanya berkaca-kaca, raut kekecewaan terlihat sekali di wajah Aleyra.
"Apa yang kalian lakukan?" Aleyra berteriak lalu terdiam, bulir-bulir bening keluar dari sudut matanya.
Bimo menoleh saat tahu yang datang ternyata adalah kekasihnya, dia cepat-cepat menarik dirinya dari pelukan Sevi. Sevi terlihat tersenyum puas melihat Aleyra yang pastinya akan salah paham tentang yang mereka lakukan.
"Ley, dengerin dulu penjelasan gue, ini gak seperti yang lo pikirin." Bimo berdiri hendak mendekati Aleyra.
"Tega kamu, Bim." Aleyra berlari menuju kamarnya, Bimo memanggilnya, tetapi Aleyra tak menghiraukan panggilan Bimo.
"Sial, dia salah sangka," gumam Bimo.
Tomi yang sedari tadi keluar untuk mengambil HP-nya yang tertinggal di mobil Bimo, bertanya-tanya ada kejadian apa yang membuat Bimo terlihat mengerutkan kening.
"Tom, Lo kemana aja, sih. Lama banget ambil HP di mobil aja. Lo liat nggak tadi ada Aleyra, dia jadi salah paham." Bimo mengomeli Tomi.
"Kukira lo tau kalau Aleyra tinggal di sini. Bukannya kemarin lo nganterin dia pulang, ya!"
"Iya, tapi gue lupa karena kemarin kan sore gue nganterinnya."
"Salah lo sendiri!" Tomi tak mau disalahkan karena dari awal dia sudah berusaha mencegah Bimo agar tak mengantarkan Sevi pulang, tapi dia malah menuruti kemauan kedua sahabat Sevi dengan alasan iba.
"Sudah ah, ayo kita pulang!" ajak Bimo hendak berjalan ke arah pintu keluar.
Dengan kepala masih pusing Sevi bangun dan memanggil Bimo, "Bim, lo mau kemana? Di sini aja temenin gue."
Langkah Bimo seketika terhenti, lalu menolah ke arah gadis yang tadi diangkatnya. "Ogah, gue pamit, permisi!" Bimo dan Tomi melangkah keluar dari rumah Sevi.
***
H-2 ujian pun telah tiba. Siswa dan siswi sudah berada di kelas masing-masing. Sebelum jam istirahat, mereka mendengarkan pengumuman yang disampaikan oleh Bu Murni wali kelas mereka tentang ujian nanti. Aleyra nampak duduk seperti biasa di kursinya bersama Lani. Bimo berkali-kali memandangi Aleyra dan berusaha mencari perhatian agar dia menengok ke arah Bimo. Namun, usahanya sia-sia. Aleyra tidak sedikitpun memalingkan muka ke arah Bimo.
Bukannya dia tidak tahu kalau Bimo mencari perhatiannya, tetapi dia masih kecewa setelah kejadian itu. Dia masih mengingat bagaimana Bimo dan Sevi berpelukan, memandang satu sama lain. 'Kenapa lo permainan perasaaan gue, Bim,' batinnya. Dia memegang da**nya yang mulai sesak dan jantung yang berdegup lebih cepat saat mengingat itu. Dia menghela napas, mengembuskan perlahan, membuat dirinya lupa sejenak akan hal itu dan kembali fokus tentang pengumuman ujian besok yang disampaikan oleh Bu Murni. Rupanya gerakan Aleyra diperhatikan oleh Bu Murni.
"Aleyra, kamu sakit?" tanya Bu Murni.
"Ah ... enggak, Bu." Pandangan Aleyra tertuju pada Bu Murni.
"Ibu perhatikan dari tadi pandangan kamu kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu."
"Nggak, Bu. Aku baik-baik aja."
"Ya sudah, perhatikan ibu, ya."
"Iya, Bu."
Bimo memperhatikan Aleyra, memandangi wajahnya yang menunduk, kemudian memandang ke arah Bu Murni. Tak sekalipun Aleyra menengok kepada Bimo.
'Lo benar-benar marah sama gue, Ley? Lo belum dengar penjelasan dari gue. Lo salah paham. Maafin gue, Ley. Gue akan jelasin semuanya nanti ke lo,' batin Bimo.
Setelah pengumuman selesai, beberapa siswa terlihat keluar untuk membeli jajanan. Aleyra masih terdiam di tempat duduknya, Sevi merasa aneh dengan sikap aleyra yang akhir-akhir ini terlihat murung. Dia belum cerita apa-apa mengenai Bimo dan Sevi. Lani mencoba mengajak Aleyra ke kantin agar dia mau menceritakan apa masalahnya. Ajakan Lani rupanya ditolak oleh Aleyra, dia lebih memilih untuk membuka-buka buku dan belajar untuk persiapan ujiannya besok.
Di luar, Lani melihat Bimo dan menghampirinya. "Bim, Aleyra kenapa? Gue perhatiin kok kalian diem-dieman dari tadi, kalian lagi ada masalah, ya?
"Iya, Lan. Aleyra salah paham." Bimo mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dia dan Aleyra.
"Ooh ... jadi gitu ceritanya. Pantesan aja dia diam aja. Kalian marahan, toh!"
"Lo mau nggak bantuin gue Lan?" bujuk Bimo.
"Dengan cara apa, Bim?"
"Pulang sekolah tolong ajak Aleyra ke taman belakang sekolah, ya. Gue mau jelasin semuanya ke dia. Gue nggak perduli nanti gimana keputusan dia, yang penting gue sudah jelasin kesalahpahaman di antara kami.
"Gue nggak yakin dia mau, Bim. Besok itu ujian, dia pasti akan menolak karena mau belajar buat besok. Gimana kalau Lo jelasinnya setelah ujian aja, Bim," saran Lani.
***
Bel pulang telah dibunyikan, Lani pulang terlebih dulu karena hari ini papanya akan pulang untuk memantau bisnis yang sedang dijalankannya. Sebagai anak satu-satunya, Lani tentu saja akan diminta papanya untuk meneruskan bisnis yang papanya jalani. Dia akan menjadi pewaris tunggal keluarganya. Aleyra masih duduk di tempat duduknya, dia tak ingin pulang cepat karena ingin mengulas pelajaran yang baru saja dia pelajari. Dia mengeluarkan buku, membacanya dengan seksama. Ujian sudah di depan mata, saat ini tak ada yang lebih penting baginya melainkan fokus terhadap ujian dan dia harus berupaya semaksimal mungkin agar nilai yang dia dapatkan bagus.
Bimo berjalan hendak keluar kelas, tapi dia sempatkan untuk menyapa Aleyra. Namun, Aleyra tetap bergeming seribu bahasa seolah menganggap Bimo tak ada. Tak banyak yang bisa Bimo lakukan, dia tahu kalau Aleyra masih marah kepadanya, dia tak tahu bagaimana caranya meminta maaf kepada Aleyra. Karena tak ingin mengganggu Aleyra, akhirnya Bimo pun memutuskan untuk meninggalkannya sendirian di kelas dan akan memikirkan cara untuk mendapatkan maaf dari kekasihnya.
Semua siswa sudah terlihat pergi meninggalkan sekolah satu-persatu. Suasana mulai sepi, biasanya sekolah tak sepi seperti ini kalau ada anak yang sedang latihan ekskul, tapi hari ini tidak ada ekskul yang latihan. Yang ada hanya terlihat Pak Amir─seorang penjaga sekolah─yang sedang membersihkan sampah-sampah di halaman sekolah dan juga memastikan kalau kelas sudah kosong yang kemudian akan dia kunci.
Beberapa kelas sudah Amir check dan dia kunci. Tiba di kelas Aleyra, dia masih melihat gadis manis itu masih fokus dengan buku pelajaran yang sedang dia manjakan dengan tangan halusnya.
“Neng, kok belum pulang saja?” panggilan Amir mengagetkan dan membuat tubuhnya tersentak.
“Eh, Pak Amir. Ya ampun, ngagetin aku saja ini.” Aleyra mendongak ke arah penjaga sekolah itu.
“Habisnya sendirian saja, yang lain sudah pulang loh, Neng.”
“Aku masih mau di sini dulu ya Pak, tanggung ini bentar lagi juga selesai Pak, jangan dikunci dulu ya.” mohon Aleyra pada Amir. Amir pun mengiyakan kemauan Aleyra dan meminta izin untuk keluar dari sekolah karena ada keperluan yang mendesak, dia akan kembali lagi sore hari untuk mengunci pintu gerbang sekolah.
“Hati-hati ya Neng, bapak permisi dulu ya. Oh iya, cuaca di luar sudah mendung lho,” pesan Amir.
“Siap Pak Amir.” Amir pergi meninggalkan Aleyra yang masih terus mempelajari buku pelajaran untuk ujian besok.
Saat kondisi sekolah sudah benar-benar sepi, Sevi dan teman-temannya ternyata belum pulang. Mereka tahu kalau Aleyra masih ada di dalam kelas. Mereka akan mulai meluncurkan rencana yang mereka buat. Saat ini dirasa waktu yang tepat untuk melaksanakan niatan mereka untuk memberi Aleyra pelajaran karena dianggap merebut Bimo dari Sevi.
Sevi masuk ke dalam kelas Aleyra, sedangkan Widia dan Afni memastikan kalau tidak ada seorang pun di sekolah. Mereka berlari ke pintu gerbang dan menutup gerbang sekolah. Setelah itu mereka kembali menyusul Sevi ke kelas Aleyra. Sevi menggebrak meja Aleyra, gadis itu pun terkejut dan mendapati Sevi ada di hadapannya.
“Ikut gue!” Sevi menarik tangan kiri Aleyra, diikuti dengan Widia yang menarik tangan kanan Aleyra untuk menurut mengikuti Sevi. Aleyra berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sevi, tapi Sevi semakin menggenggam erat sehingga membuat tangannya terasa sakit.
“Sev, ada apa ini? Apa salahku?” tanpa mempedulikan pertanyaan sepupunya, Sevi tetap menarik tangan Aleyra, memaksanya berjalan menyusuri teras setiap kelas, dia terjatuh, Sevi menariknya lagi agar terbangun dan terus memaksanya mengikuti hingga mereka sampai di toilet sekolah yang rusak dan tidak digunakan. Letak toilet ini berada di belakang ruang laboratorium. Di dalam toilet ini masih ada air di salah satu bak-nya yang masih lumayan penuh karena guyuran air hujan yang masuk dari atap toilet yang kondisinya sudah bolong.
Sevi memaksanya masuk ke dalam toilet, menyatukan tangan Aleyra ke belakang tubuhnya kemudian menariknya dari belakang hingga bibirnya mendekati telinga Aleyra. “Ini balasan untuk cewek yang sudah merebut Bimo dari gue. Sudah gue bilang, gue sangat mencintai dia. Apa pun akan gue lakukan untuk mendapatkan dia,” bisik Sevi. Sebagai permulaan, dia membenamkan muka Aleyra ke dalam bak yang berisi air, lalu mengangkatnya lagi. Satu tangan Aleyra dia berikan agar digenggam oleh Widia, sementara satu tangannya tetap dia genggam. Dia mengulangi aksinya lagi, membenamkan muka Aleyra berkali-kali.
Widia masih menggenggam tangan kanan Aleyra dan ikut membenamkan muka Aleyra ke balam bak. Afni yang melihat kedua temannya melakukan hal itu, merasa tak sampai hati untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh keduanya. Dia hanya berjaga di depan pintu toilet, mengawasi kalau-kalau ada seseorang yang datang, maka dia akan segera memberitahukannya kepada mereka.
Aleyra mulai gelagapan, wajah dan bajunya sudah basah kuyup, napasnya terengah-engah, dia sudah banyak menelan air, hidungnya pun terasa sakit. Dia mencoba melepaskan diri dari tekanan yang dilakukan oleh Sevi dan Widia, tapi badannya sudah terasa lemas, tenaganya tak kuat, matanya mulai sayup. Dia merasa sudah tak kuat lagi, apakah ini adalah hari terakhir baginya. Menjemput maut di tangan sepupunya sendiri. Setan apa yang sudah merasuki hati Sevi sehingga tanpa belas kasihan dia berbuat semaunya terhadap Aleyra. Setelah ke sekian kalinya puas menyiksa Aleyra, akhirnya Sevi melepaskannya dan Aleyra pun jatuh pingsan.
Melihat Aleyra lemas tak berdaya dengan muka pucat dan kerudung yang setengah terbuka, Widia mengecek denyut nadinya. Ada perasaan takut di dalam hatinya bagaimana kalau apa yang mereka lakukan sampai membuat Aleyra kehilangan nyawa. Mereka pasti akan dalam maslah besar dan akan mendekam di balik jeruji besi.
“Sev, dia masih hidup. Gila lo ya Sev, tadi-tadi gue gak mau ikut-ikutan deh. Bisa bahaya kita, kalau dia mati bagaimana coba? Kita bisa membusuk di penjara Sev.” Widia tak menyangka kalau Sevi akan terus-menerus dan membuat Aleyra sampai jatuh pingsan. Dia pikir Sevi hanya memberi pelajaran saja dan tidak sampai seburuk itu, tapi kenyataannya Sevi malah membuat Aleyra jatuh tak berdaya.
“Oh my god, apa yang kalian lakuin sama Aleyra, kita bakal kena hukuman guys, bagaimana kalo Aleyra mati? Aku gak mau masuk penjara, di sana tidak bisa makan banyak, aku pasti kurus di dalam jeruji besi itu.”
“Ah lo mikir kejauhan, dia gak mati kok, cuma pingsan doang. Palingan bentar lagi juga sadar dia. Sudah, lebih baik kita cabut saja sebelum ada orang yang melihat kita, jangan hiraukan dia,” ajak Sevi. Tanpa rasa bersalah dia menyiksa Aleyra. Dia sadar apa yang dilakukannya pada Aleyra, tetapi karena rasa cemburu yang teramat besar menjadikan Sevi melakukan hal apa pun agar apa yang dia inginkan terwujud. Perubahan terhadap dirinya terjadi saat dia kehilangan sosok ayah yang dia anggap kematian ayahnya itu terjadi karena Aleyra. Setelah saat itu, Sevi berjanji tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang.
Mendengar suara Widia yang cukup keras membuat Afni yang sedari tadi mengawasi di depan pintu toilet masuk dan mengecek keadaan di dalam. Setelah melihat Aleyra jatuh pingsan, Afni terkejut. Dia mengatupkan kedua telapak tangannya ke bibir. Badannya gemetar, terlintas dalam pikirannya tentang apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya sehingga Aleyra lemas tak berdaya dengan tubuh yang menyandar di tembok toilet. Keadaannya sangat memprihatinkan bagi Afni, setidaknya dia masih punya hati, tak tega melihat Aleyra diperlakukan seperti itu oleh sahabatnya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dari pada dia dijauhi oleh sahabatnya, lebih baik dia menurut setiap kemauan mereka.
***
Bimo pulang dengan sedikit lesu. Dia mengucapkan salam, membuka pintu, dilihatnya seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa mewah berwarna putih sembari menonton sinetron di Televisi.
"Assalamualaikum, Mah. Mamah Enggak denger ucapan salam aku, ya."
"Eh, waalaikumsalam. Maaf sayang, mamah lagi nonton FTV, jadi mamah Enggak denger kamu ngucapin salam." Sarah melihat anak laki-lakinya sedikit lesu tanpa gairah. "Anak mamah kenapa, kok lesu banget kayaknya? Lagi ada maslah ya di sekolah?" tanya Sarah.
"Enggak, sih, mah. Di sekolah enggak ada masalah, tetapi aku lagi ada masalah sama pacarku."
"What? Pacar? Kamu sudah punya pacar lagi? Siapa pacar kamu?" Sarah menjejali Bimo dengan pertanyaan-pertanyaan.
Dulu di Jakarta Bimo memang sering Gonta-ganti pacar, maklum Bimo memang dari keluarga kaya, jadi banyak cewek-cewek seumurannya yang berlomba-lomba menarik perhatian Bimo agar menjadi pacarnya. Tidak sulit bagi Bimo mendapati cewek yang dia mau untuk menjadi gebetannya.
"Aleyra, Mah. Yang tempo hari Bimo bawa ke sini waktu mamah habis jatuh."
"Oh, si cantik Aleyra, ya. Mamah suka sama dia. Baik, lho, anaknya. Eh tapi, kalian lagi ada masalah apa?"
"Ada kesalahpahaman di antara kami, Mah. Ya sudah, Bimo masuk ke kamar dulu, Mah.” Bimo melenggang ke kamarnya.
Dia duduk di atas kasur, mengeluarkan HP dari dalam saku celananya, membuka kontak Aleyra. Dia mencoba mengirim pesan w******p yang berisikan puisi kepada Aleyra.
[Dear, Aleyra Aurora. Rasanya aku tidak bisa melupakanmu barang sekejap saja. Entah di sana kamu rasakan hal yang sama denganku atau tidak, tetapi jujur kekuranganku dapati dirimu jadikanku menggilaimu. Bukan kali ini kurasakan cinta, tetapi dirimu tak dapat aku samakan dengan yang lain. Duhai sayang, apa jadinya diriku tanpa dirimu. Maafkan aku yang menyakitimu. Aku sungguh merindukanmu, merindukan senyuman di bibir manismu, keluguanmu, paras cantikmu. Maafkan aku, sungguh bukan maksudku membuatmu kecewa, tetapi kau hanya salah paham. Beri aku waktu untuk menjelaskannya kepadamu tentang kejadian sebenarnya. Kumohon, tetaplah tersenyum, karena senyumanmu adalah semangatku. Yours, Bimo]
Satu menit,
Dua menit,
Lima menit.
Bimo tak kunjung melihat ceklis Biru, padahal Hp-nya masih aktif. Tak biasa-biasanya Aleyra tak membuka pesan darinya, apakah kemarahannya membuat dia tidak ingin lagi membaca pesan dari Bimo. Bimo mengacak rambutnya.
***
Aleyra terbangun dari pingsannya, dia mengerjapkan mata, memegang kepala karena merasa masih pusing. Dia ingat semua apa yang dilakukan Sevi dan teman-temannya tadi. Perlahan dia mencoba berdiri, berpegangan pada dinding tembok, berjalan menuju ruang kelas meski kepalanya masih terasa berat. Dia mengambil tasnya lalu dengan langkah perlahan keluar dari kelas untuk menuju parkiran. Badannya terasa remuk, tulang-tulangnya terasa nyeri, rasanya dia tak kuat berjalan, tapi dia harus menguatkan dirinya untuk pulang. Sebelum sampai di parkiran, Pak Amir kembali ke sekolah, dia melihat baju dan kerudung Aleyra basah. Bukan hanya itu, mukanya pucat dan lemas. Dia berusaha menutupi kejadian yang dia alami di toilet tadi. Dia tidak mau seorang pun tahu tentang hal itu, biar dia menyimpannya dan suatu saat dia akan mengatakannya tapi bukan saat ini.
“Neng, kok basah kuyup, muka neng juga pucat. Neng nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa kok pak, tadi aku ngantuk jadi biar lebih fresh aku basahi baju dan kerudungku.” Aleyra tersenyum tipis ke arah Amir, tapi di dalam hati dia menangis mendapatkan perlakuan tak baik dari sepupunya sendiri. Aleyra berpamitan pada penjaga sekolah dan mengambil motor kemudian mengemudikannya perlahan. Sepanjang perjalanan air mata bercucuran tak henti-henti dari pelupuk matanya, sesekali dia mengusapnya agar pandangannya tak kabur saat menyetir. Dia berjanji tidak akan memberitahukan hal ini kepada Runi karena dia tidak mau membuat bibinya memarahi Sevi.
Sesampainya di rumah, dia bergegas masuk, untung saja saat itu Runi sedang tidak ada di rumah jadi dia tidak usah memikirkan alibi apa yang akan dikatakan kepada bibinya karena melihat keadaannya yang acak-acakan. Di ruang tamu dia bertemu dengan Sevi, melihatnya seperti ada kepuasan tersendiri sembari tersenyum sinis ke arah Aleyra. Sementara Aleyra tak mampu membendung air mata hingga menetes membasahi pipi.
Sevi berjalan mendekati Aleyra dengan mata yang berbinar melihat keadaan sepupunya yang berantakan karena dia. Tentu saja dia bahagia merasa sudah memberi pelajaran berharga yang mungkin tidak akan dia lupakan dalam sejarah hidupnya.
“Itu balasan bagi orang yang sudah menyebabkan aku kehilangan ayahku dan merebut cowok yang aku suka. Nikmatilah itu Aleyra Aurora,” bisik Sevi yang sukses membuat Aleyra banjir air mata dan dia berlari menuju kamarnya, merebahkan diri di ranjangnya dan menangis tersedu-sedu sambil membenamkan kepala di bantal agar tangisannya tak terlalu terdengar dari luar
“Ibu pulanglah, aku rindu ibu. Ayah, aku rindu ayah. Aku rindu kalian berdua.” Tangisnya makin pecah.