BAB 9 – Kafe Nirwana

1804 Kata
Malam itu Sevi, Widia, dan Afni berencana melepas penat dengan datang ke sebuah kafe. Mereka pergi menggunakan dua motor. Widia dan Afni berboncengan sedangkan Sevi mengendarai motor sendirian. Beberapa menit mengendarai sepeda motor di jalanan Pantura, lalu mereka berbelok ke kiri. Dari jalan raya nampak gerbang putih yang lumayan tinggi, mereka pun segera memasuki gerbang. Terlihat Pak Robi─Satpam kafe nirwana─yang sudah tak asing dengan kedatangan mereka bertiga. Mereka bertiga kerap kali datang ke kafe ini sekedar untuk nongkrong dan ngobrol segala hal. Terkadang mereka juga minum-minuman beralkohol. Sebenarnya dari ketiga sahabat ini, hanya Afni yang tidak suka dengan minuman beralkohol. Widia yang lebih dulu mengenal alkohol karena hidupnya yang bebas tanpa pengawasan orang tua serta hanya di jejali harta tanpa ilmu agama. Sevi terjerumus ke dalam dunia hitam semenjak ayahnya tiada dua tahun yang lalu. Dia merasa frustrasi hingga mencoba-coba di dunia malam sampai akhirnya dia bertemu dengan Widia yang juga tengah mempunyai masalah dalam keluarganya. Jika ditanya dari mana mereka mendapatkan uang untuk nongkrong di kafe? Mereka mendapatkannya dari Widia. Sevi adalah orang pertama yang Widia kenal di sekolah. Jadi, tidak masalah mengeluarkan banyak uang demi sebuah pertemanan dari mulai shoping sampai klub malam. Sejatinya mereka tau apa yang mereka lakukan itu tidak baik, tetapi tetap saja masih dilakukan. Kini, mereka sudah ada di parkiran motor kafe nirwana. Mereka melenggang melewati rerumputan yang sengaja ditanam untuk mempercantik jalanan menuju ruang masuk kafe. Di samping kanan dan kiri terlihat ada kursi-kursi dan ayunan dari besi yang digunakan untuk tempat bersantai para pengunjung. Mereka memasuki pintu depan, lampu berwarna-warni menghiasi ruangan itu. Suasana di dalam cukup ramai. Pemandangan di dalam menyuguhkan wanita-wanita cantik yang memakai rok mini. Ada beberapa dari mereka yang sedang duduk-duduk bersama p****************g sembari menghimpit rokok di bibirnya, membiarkan mereka merayu, bermesraan tanpa malu, bersandar satu sama lain dengan lawan jenisnya, bahkan terkadang mereka beradu bib*r dengan disaksikan oleh yang lain. Entah, tidak sedikit pelanggan di sana yang sebenarnya sudah punya pasangan, tapi berjalan dengan orang lain. Pemandangan semacam itu sudah tidak aneh di tempat malam seperti kafe Nirwana. Pengunjung di sana bervariasi. Rata-rata laki-laki yang berkunjung adalah seorang pekerja dan bos. Hanya ketiga sahabat itu yang masih anak SMA tetapi sudah berani nongkrong di tempat kurang baik. Sungguh miris, tidak sepatutnya anak seumuran mereka bersenang-senang di tempat seperti itu. Seharusnya seumuran mereka diisi dengan ilmu agama, berorganisasi, kegiatan sosial, dan banyak hal positif lainnya yang bisa mereka lakukan selain nongkrong di kafe-kafe malam. Sevi, Widia dan Afni berjalan menuju meja bartender. Mereka memesan minuman. Widia yang tidak suka alkohol hanya memesan soft drink, sedangkan Widia dan Sevi memesan minuman beralkohol. Mereka duduk di bawah lampu remang-remang yang ada di sudut ruangan. Alunan irama musik dari DJ wanita dengan lincah memainkan musiknya. Tangannya sangat mahir berpindah-pindah dari musik satu ke musik yang lainnya. "Sumpah ya, gue ga habis pikir sama si sialan itu. Bisa-bisanya dia jalan sama cowok incaran gue." Sevi membuka pembicaraan. Rupanya dia masih kesal dengan foto Aleyra dan Bimo yang kemarin di kirim oleh sahabatnya dengan nada tinggi. "Lo nggak tau aja, Sev, gimana deketnya mereka kemarin," tutur Widia. "Iya, bener Sev. Mereka berdua itu di pantai berduaan, bahagia banget kayanya mereka. Ya, walaupun sebenarnya mereka di sana nggak berduaan saja sih, karena ada Lani dan juga Tomi yang kita lihat duduk di warung makan begitu. Eh btw, apa mungkin mereka jadian, Sev?" tanya Afni. Perkataan Afni semakin membuat da**nya bergemuruh, rasa cemburu menguasai dirinya membayangkan ucapan yang mereka katakan. Kalau saja saat itu dia ada di sana, mungkin dia akan langsung menghampiri mereka dan menjambak rambut sepupunya. "Enggak, gue nggak bakal biarin dia dekat sama Bimo. Aarrggh ...." Sevi melampiaskan kemarahannya dengan memukul meja di depannya. “Lihat saja ya, gue akan kasih dia pelajaran karena sudah merebut Bimo dari gue. Kalian berdua harus bantuin gue!” Sevi merasa Bimo adalah miliknya, padahal Bimo tak pernah mempunyai rasa terhadapnya. “Apa ide lo Sev?” tanya Widia. Sevi mengangkat salah satu sudut bibirnya karena dia menemukan ide untuk membuat Aleyra menyesal. “Gue akan buat dia mengingat kejadian yang akan kita lakukan nanti sampai kapan pun. Kita akan beraksi di sekolah. Saat semua orang sudah pulang dan kondisi sekolah sudah sepi. Kita atur jadwal nanti, oke girls.” “Oke Sev, kami ikut rencana lo saja. Salah dia kenapa membuat harimau terbangun, ya pasti harimau itu akan membalas dendam lah, iya kan Sev,” celetuk Afni sambil memakan camilan yang sengaja dia bawa dari rumah. Kemana pun, Afni takkan jauh-jauh dari yang namanya camilan. “Eits dah, lo samain gue sama harimau gitu?” tanya Sevi membulatkan netra ke arah Afni serasa seperti harimau sungguhan yang hendak menerkam mangsanya. Dengan segera Afni membenarkan perkatannya adar sahabatnya tak salah paham dan nantinya dia bisa kena marah oleh Sevi. “Jangan mangsa aku, Sev, aku masih mau makan,” mohon Afni meledek Sevi. “Sint*ng ini anak!” Afni membalas ucapan Sevi dengan tergelak tawa. Tertawa sekeras apa pun di sana tak akan terlalu terdengar, karena suara musik yang dimainkan DJ lebih kencang dibandingkan suara gelak tawa mereka. Sevi mulai menuangkan gelas demi gelas minuman beralkohol dan meminumnya dengan kasar. Kemarahannya belum mereda akibat mendengar semua cerita tentang Aleyra dan Bimo dari kedua sahabatnya. Afni dan Widia yang melihatnya mencoba menghentikan Sevi, tetapi dia saat ini dalam kemarahan besar sehingga dia tidak menggubris apa yang dikatakan sahabatnya. Dia sudah menghabiskan beberapa gelas minuman alkohol. Sampai akhirnya dia mabuk. Dari pintu masuk terlihat dua cowok yang baru masuk dan terlihat mencari-cari tempat duduk yang kosong, lalu mereka melenggang ke tempat duduk kosong di samping Sevi, Widia, dan Afni. Sevi setengah tidak sadar tidak menyadari kalau ada Bimo di dekat tempat duduknya. Afni yang lebih dulu melihat kehadiran Bimo langsung memberitahunya kepada kedua sahabatnya. "Sev, Wid, coba liat itu ...." Afni menghentikan ucapannya. "Liat apa? Ada siapa, sih?" Widia menengok ke belakang dan dia melihat Bimo sedang berjalan di samping tempat duduknya, lalu duduk tepat di samping tempat duduk mereka. "Ssst ... ssst ... Sev, ada Bimo sama Tomi, tuh." Widia mengerucutkan bibirnya memberi kode sambil menengok ke arah Bimo dan Tomi duduk. Dengan setengah tidak sadar, Sevi melihat ke tempat duduk Bimo. "Hah, cowok idaman gue datang. Gue mau samperin dia." Sevi bangkit dari tempat duduknya hendak ke tempat duduk Bimo dan Tomi. "Sev, jangan, Sev, lo lagi mabuk," saran Afni sambil memegang tangan Sevi, bermaksud menghalanginya menemui Bimo. "Iya, Sev, udah diem aja di sini," celetuk Widia. Sevi melepaskan tangan Afni dari lengannya seraya berkata, "Lepasin, gue mau datengin pangeran gue." Mana mungkin Sevi mau melewatkan begitu saja ada pangeran yang dia idam-idamkan datang ke hadapannya. Dengan mulut berbau alkohol dan sempoyongan Sevi melangkah perlahan mendekati meja Bimo dan Tomi. Bimo masih belum menyadari kehadiran Sevi yang menuju ke arahnya. "Hai, Bim. Lo ke sini pasti nyamperin gue 'kan?" Sevi menyapa Bimo lalu duduk di kursi kosong samping Bimo dengan mata yang sudah sayup karena terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol. "Sev, lo mabuk?" tanya Bimo yang melihat langkah gadis itu yang gontai dan bau alkohol yang menyengat. Dia bisa mengetahui kalau saat ini Sevi sedang mabuk. "Enggak, Bim, gue nggak mabuk, kok. Gue cuma mabuk cinta sama lo aja." Sevi menyandarkan kepalanya di bahu Bimo sembari memegang erat lengan kiri Bimo. Bimo dan Tomi menengok ke meja kanan di sampingnya. "Wid, Af, temen kalian mabuk, nih. Di bawa pulang, kek!" celetuk Tomi agak geram melihat kedua teman Sevi yang malah diam saja. Widia dan Afni berdiri lalu mendekati meja kedua cowok itu. "Iya, Tom, Bim,” jawab Afni. "Ayo, Sev, kita pulang saja!” ajak Afni memegang lengan Sevi agar beranjak dan mau pergi bersama mereka. "Enggak! Gue nggak mau pulang! Gue mau nemenin pangeran gue di sini.” Matanya yang sayup memandang ke netra biru Bimo. “Dia kan ke sini buat gue, ya 'kan sayang!" lanjut Sevi semakin mempererat genggamannya. "Sayang-sayang, kepala lo peang. Lo bukan pacar Bimo, tau! Pacar Bimo itu ... aww." Tomi menghentikan kata-katanya karena Bimo menginjak kaki Tomi menandakan Bimo tidak mau Tomi membuka hubungannya dengan Aleyra di depan Sevi. "Siapa pacar Bimo? Aleyra? Gue enggak peduli ya, yang jelas lo milik gue, Bim. gue jatuh cinta sama lo dari pertama kali bertemu di kantin. Lo memang benar-benar cowok idaman gue banget, Bim." Kepala Sevi sudah terasa pusing, dia mulai berbicara ngawur. "Sev, lebih baik kamu pulang. Wid, Af, cepat antar Sevi pulang!" suruh Bimo pada kedua sahabat Sevi. "Enggak, gue bilang enggak ya enggak! Gue cinta sama lo, Bimo. Gue cinta banget sama lo." Pandangan Sevi mulai mengabur, seketika dia pingsan di pangkuan Bimo. "Sev, Sev, bangun." Bimo berusaha menggoyah badan Sevi, tetapi Sevi tidak kunjung tersadar. Kedua sahabatnya pun kebingungan harus bagaimana karena mereka datang ke sana naik motor. "Bim, kita naik motor pulangnya. Dia mabuk berat. Bagaimana kalau lo aja yang anterin Sevi pulang, ya, Bim. Please!" bujuk Widia. "Enak aja, kan dia datang sama kalian, kenapa Bimo yang suruh anterin dia pulang? ketus Tomi. "Ya sudah, biar aku anterin dia pulang." Bimo menyetujui saran Widia. "T-tapi Bim ...." Tomi menghentikan ucapannya manakala Widia menaruh tangannya ke bibir manisnya. "Ssst ... diem napa, lo, tuh. Bimo aja nggak keberatan, kenapa lo yang keberatan," omel Widia. "Sudah, tidak apa-apa, Tom. Sebelum pulang kita antar Sevi pulang dulu, ya. Lo tau rumah Sevi, Tom?" "Iya, tau." Tomi mengangguk dengan wajah masih terlihat tidak suka. "Ya sudah, ayo kita antar dia." "Mba, kita nggak jadi pesan, ya. Gara-gara cewek-cewek ini, nih." Tomi mengarahkan dagunya pada kedua sahabat Sevi. "Sialan, lo,” jawab Widia. Bimo mengangkat tubuh Sevi segera menuju ke dalam mobilnya. Afni dan Widia berpamit pulang, lalu Bimo dan Tomi meninggalkan kafe untuk mengantarkan Sevi ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Tomi mencoba meyakinkan Bimo agar tak jadi mengantarkan Sevi pulang ke rumahnya. “Bim, mending lo urungin, deh niat lo mau nganterin Sevi balik ke rumahnya. Nanti kalau ibunya nyangka kita yang enggak-enggak bagaimana coba?” “Sudah lo tenang saja, kita tinggal jelasin saja kan ke ibunya apa yang terjadi sebenarnya.” “Lo yakin, Bim?” Tomi melirik Bimo. Dia tak habis pikir kenapa sahabatnya itu mau mengantar cewek pemabuk itu ke rumahnya. Apa dia tidak tahu kalau pacarnya tinggal di rumah yang sama dengan cewek yang dia bawa ini. Apa jadinya kalau Aleyra tahu Bimo mengantarkan Sevi dalam kondisi mabuk, Aleyra pasti berpikir yang tidak-tidak tentang Bimo. “Iya, sudah tenang saja.” Bimo meyakinkan Tomi sambil tersimpul senyuman tipis di sudut bibirnya. “Tapi, Bim ....” “Sudah ya jangan banyak bicara, entar gue enggak fokus nyetirnya.” Bimo terus melajukan mobilnya dengan fokus. “Iya, baiklah.” Tomi mengalah yang penting dia sudah mengingatkan Bimo. perihal nanti Aleyra melihat mereka atau tidak, itu urusan nanti. 'Semoga saja Aleyra sedang tidak ada di rumah agar tidak melihat mereka saat di rumahnya nanti', harap Tomi di dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN