Bab 8 - Aku Mencintaimu

2358 Kata
Semilir angin mengembara jauh dari kedalaman samudra. Dia datang ke tepi pantai bersama birunya ombak yang bergelombang tak pernah usai. Pasir putih terhampar luas, sesekali ikut terbawa melayang-layang mengikuti arah kemana angin berhembus. Pancaran mentari di tepi pantai membuat kulit terasa hangat. Minggu telah tiba, keempat sahabat berada dalam satu mobil, lalu menghentikan mobilnya di sebuah tempat parkir di dekat jalan raya. Mereka segera turun dari mobil, lalu berjalan menuju pantai Bitchi yang letaknya seratus meter dari jalan raya dan tidak bisa di akses oleh kendaraan roda empat, hanya bisa di akses oleh kendaraan roda dua saja. Setiap hari Minggu pantai Bitchi ramai pengunjung. Keindahan pantai dan pasirnya yang putih membuat pengunjung berbondong-bondong mengunjungi pantai itu. Bimo, Aleyra, Lani, dan Tomi berjalan menapaki jalanan yang ramai. mereka berjalan bersama orang-orang yang hendak menikmati pemandangan dan berenang di pantai. Di sebelah kanan jalan yang menuju ke arah pantai, terdapat aliran sungai yang langsung terhubung ke laut. Di sana berjejer sampan-sampan berukuran kecil yang biasa digunakan nelayan untuk mencari ikan. Tak jarang mereka berpapasan dengan nelayan yang membawa ikan menggunakan keranjang lalu diangkat dan dibawa ke tempat pelelangan ikan yang letaknya ke arah kanan dari jalan menuju pantai. Sepanjang langkah ke pantai itu, mereka bersenda gurau, dan terkadang membicarakan hal yang membuat mereka tertawa lepas. Kini, mereka telah sampai di tepi pantai. Suasana pantai cukup ramai. Beberapa orang tua membawa serta keluarganya berlibur ke pantai. Mengikut sertakan anak mereka. Membiarkan mereka bermain air dengan pengawasan orang tua Mereka bisa melihat ada beberapa warung kecil yang menjual makanan dan minuman. Bahkan ada pula yang menjual ikan bakar di sana. Mereka memutuskan untuk duduk di warung yang menjual ikan bakar. Bimo dan Tomi memilih memesan ikan bakar terlebih dulu agar ketika mereka sudah selesai berenang-renang ria, ikan bakarnya pun sudah matang. Bimo dan Tomi tidak langsung turun ke laut, tapi mereka memesan minuman dan duduk santai di warung. Sementara itu, Aleyra dan Lani memilih menaruh tas, sandal, kemudian mereka berjalan ke tepi pantai, menghabiskan waktu untuk bermain air dan berenang-renang ria di laut. Mereka menyewa pelampung ban di tempat penyewaan di pinggir pantai, lalu berlari ke laut dan menaikinya, membiarkan tubuhnya terombang-ambing ombak. Mereka berdua begitu menikmatinya. "Bim, Tom, sini," ajak Lani sembari berteriak. "Iya, ayo kalian ikut ke sini," tambah Aleyra sembari melambaikan tangan kepada Bimo dan Tomi. "Iya, nanti ke situ," sahut Bimo sambil berteriak. Bimo tidak langsung menghampiri Aleyra dan Lani. Namun, dia malah memandangi Aleyra dari tempat duduknya sambil menyeruput es kelapa muda yang di pesannya. Cukup lama Bimo memperhatikan Aleyra, terkadang dia tersenyum melihatnya. Tomi memandangi Bimo yang tersenyum ke arah Aleyra. "Bim, senyam-senyum aja Lo dari tadi." "Eh ... iya." "Lo pasti liatin Aleyra, ya?" "Iya." "Oh iya, jangan lupa hari ini Lo kan mau menyatakan perasaan Lo ke dia. Priktieww," goda Tomi. "Iya, tapi gue ko agak nerveous ya. Coba deh dengerin detak jantung gue." Bimo meraih tangan Tomi dan menempelkannya ke da** Bimo. "Ih ... Lo apa-apaan, sih, Bim," tolak Tomi menarik tangannya dari pegangan tangan Bimo. "Kan gue bilang, gue lagi nerveous." "Ya enggak gitu juga kali. Dassar Lo itu lebay, hahaha," ledek Tomi. "Suer, gue nerveous. Padahal ini bukan pertama kali gue bilang cinta sama seorang cewek, tapi kenapa kali ini gue nerveous banget." Bimo mengusap-usap kedua telapak tangannya. "Udah, Lo tenang aja, Bim. Tarik napas dalam-dalam, keluarin perlahan. Lo pasti bisa. Semangat." Bimo menarik napasnya, lalu mengeluarkannya perlahan seperti yang disarankan oleh Tomi. "Iya, gue pasti bisa. Thanks ya, Tom," ucap Bimo. Kemudian, Bimo melanjutkan minum es kelapa muda dan menghabiskannya. Mereka mulai membahas tentang rencana mereka dan juga rencana Bimo untuk menyatakan cinta kepada Aleyra. "Bim, mending sekarang Lo ke sana, susul Aleyra. Nanti Lani gue kasih isyarat buat ke sini," saran Tomi. "Iya, ya udah cepat Lo panggil Lani. Gue udah deg-degan ini." Setelah itu, Tomi beranjak dari duduknya, berjalan beberapa langkah ke depan warung dan memanggil Lani, melambaikan tangan padanya. Lani yang sudah tau kode dari Tomi, meminta Aleyra untuk tetap di sana dan melanjutkan permainannya. Lani berlari menuju warung, membiarkan Aleyra di laut yang masih asik bermain-main di sana. Sesampainya di warung, Lani memberi semangat pada Tomi yang kala itu sudah berdiri dan hendak melangkah menyusul ke laut untuk menemui Aleyra. "Good luck ya, Bim," ucap Lani memberi semangat kepada Bimo. "Thanks, Lan. Doain gue ya." Bimo menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Bimo mengumpulkan tenaga untuk memberanikan diri agar tidak gugup di depan Aleyra. Dia memikirkan ucapan apa dulu yang akan di utarakan pada Aleyra. Dia sempat membuka Handphone-nya, lalu browsing kata-kata romantis di google. Agak lama dia mencari, scroll banyak kata-kata di layar ponselnya, sampai akhirnya dia menemukan kata-kata yang pas yang akan dia ucapkan di hadapan Aleyra. 'Ah, ketemu,' batin Bimo. Tomi dan Lani melihat Bimo yang tak kunjung menyusul Aleyra terlihat menggelengkan kepala lalu salah satu dari mereka gemas dan memanggil Bimo. "Bim, Lo ngapain lama-lama di situ, cepat pergi sana, susul Aleyra." Lani mengisyaratkan dengan tangan agar Bimo segera menghampiri Aleyra. Lalu Bimo mengangkat kedua jempolnya kepada dua sahabatnya itu. Bimo mulai melangkah perlahan, sembari mulutnya berkomat-kamit pelan, melatih, merapalkan kata-kata agar lancar ketika berbicara di depan Aleyra. Bimo menceburkan diri ke laut, mendekati Aleyra yang masih asik duduk menaiki pelampung dan terombang-ambing oleh ombak. Dia duduk menghadap ke langit, lalu mulai tersadar kalau ada Bimo menghampirinya. "Ley, aku ...." "Eh, Bim." Aleyra memercikkan air ke muka Bimo sambil tertawa membuatnya semakin manis di mata Bimo. Bimo yang tadinya sudah menunjukkan ekspresi nerveous, tiba-tiba mencair lalu terbawa suasana hingga dia pun ikut memercikkan Aleyra dengan air laut. Keduanya tertawa lepas. Agak lama mereka menikmati memercikkan. Lalu Bimo teringat kembali akan tujuannya ke sini, yaitu ingin mengungkapkan perasaannya kepada Aleyra. "Hmm ... Ley, aku mau bicara." Bimo menatap ke arah Aleyra yang masih asik bermain air. Aleyra menghadapkan wajahnya ke arah Bimo seraya berkata, "Kenapa, Bim?" Bimo tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aleyra. Dia terdiam beberapa saat, merasakan gemuruh detak jantungnya, napasnya mulai tidak teratur. Hembusan angin di laut itu menambah dingin raganya akibat nerveous yang dirasakannya sekarang. Bimo mencoba menghela napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Saat dia sudah bisa mengendalikan perasaannya, dia menatap dalam mata Aleyra. Aleyra nampak kebingungan menanti apa yang akan dikatakan oleh Bimo kepadanya. "Ley, aku ...." Bimo menahan perkataannya. Aleyra menunggu perkataan Bimo selanjutnya dengan ekspresi kebingungan. 'Apa dia mau mengatakan cinta padaku? Ah, sudahlah, jangan berharap lebih, Ley' batin Aleyra. "Aku mencintaimu Aleyra Rafasya Aurora." Bimo mengatakannya dengan sekali tarikan napas. Setelah itu dia menghembuskan napas. "Aku menyukaimu dari pertama kita bertemu di warung seberang jalan sekolah kita. Aku tidak tau kenapa, tapi yang jelas aku merasakan hal yang berbeda saat aku melihatmu. Terlebih lagi saat aku tau ternyata kita satu kelas," lanjut cowok bermata biru itu. Aleyra hanya terdiam. Dia tertunduk menyembunyikan senyuman yang tertahan di bibirnya. Sebenarnya dia sangat senang, ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Cowok yang selama ini menggelayuti perasaannya ternyata menyatakan cinta padanya. Bimo menatap mata Aleyra, Aleyra pun menatap mata Bimo. Kemudian, Bimo memegang tangan Aleyra. "Ley, gue cinta sama lo. Lo mau enggak jadi pacar gue?" Da** Aleyra mendadak terasa sesak, dia berusaha mengontrol perasaannya. Lalu dia menunduk. "Gimana, Ley?" tanya Bimo penasaran menunggu jawaban dari Aleyra. Kemudian Aleyra mengangguk. "Iya, Bim. Aku mau jadi pacar kamu." Seketika Bimo melepas tangan Aleyra lalu berjingkrak-jingkrak kegirangan. "Woy, Tom, Lan, gue diterima. Yes!!!" Orang-orang di sekitar yang mendengar teriakan Bimo tercengang dan seketika dia jadi pusat perhatian orang-orang. "Bim, jangan teriak-teriak. Kamu enggak lihat orang-orang pada ngeliatin kita!" omel Aleyra. "Biarin aja, Ley. Yang penting sekarang gue lagi seneng banget." "Ah, kamu ini ada-ada saja. Malu tau aku tuh." Meskipun cahaya mentari siang itu sempurna menyengat kulit mereka, tetapi semua itu seolah tidak terasa bagi dua orang yang sedang terpaut cinta. Keduanya terdiam saling menatap satu sama lain, hanya senyuman yang tak henti-henti tersurat di bibir mereka, sesekali Aleyra mengalihkan pandangannya dari Bimo agar Bimo tak tau bagaimana bahagia hatinya saat ini. Mencintai orang yang mencintai kita ternyata sangat membahagiakan. Bimo juga tak kalah bahagianya dengan Aleyra. Dia tak menduga kalau gadis yang dicintainya beberapa bulan ini ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya. Bukan satu kali ini Bimo mempunyai hubungan dengan seorang gadis, tetapi menurutnya Aleyra berbeda, dia memiliki sesuatu yang spesial sehingga Bimo merasa jatuh hati padanya. 'Ini bukan cintaku yang pertama, tetapi aku jatuh hati padanya saat pandangan pertama. Aku juga pernah mencintai para gadis, tapi tak seperti cintaku pada gadis yang saat ini ada di hadapanku,' batin Bimo. Cukup lama mereka berada di pinggiran pantai dan menjadi pusat perhatian para pengunjung yang melihat mereka berdiam berhadap-hadapan, kadang yang satu tersenyum dan satu lainnya menunduk malu. Tak berapa lama, di antara para pengunjung itu ada dua orang gadis yang sedari tadi memperhatikan mereka. Dua gadis itu adalah Widia dan Afni. Keduanya melihat dengan tatapan tidak suka. Afni buru-buru mengeluarkan Handphone-nya lalu mengambil foto Aleyra dan Bimo dari kejauhan. Setelah berhasil membidik dari Handphone-nya, Afni membuka w******p lalu mengirimkan foto tersebut kepada Sevi. “Bagaimana, Ni? Apa pesannya sudah di read oleh Sevi?” tanya Widia sembari melahap camilan yang satu-persatu masuk ke dalam mulutnya. “Belum, Sevi lagi enggak aktif. Ya sudah ayo kita pergi saja! Nanti mereka keburu melihat kita,” ajak Afni. Kemudian mereka pergi. Aleyra dan Bimo kembali bergabung bersama kedua sahabatnya. Namun, sebelum menyantap makanan yang dipesan bersama sahabatnya, Aleyra segera pergi ke kamar mandi sambil membawa baju ganti yang memang sudah dipersiapkannya dari rumah. Dia membersihkan diri dari pasir pantai, setelah itu dia kembali ke warung bersama Lani dan Tomi. Saat Aleyra datang, Bimo masih membersihkan diri dan berganti pakaian. Bimo berganti dengan menggunakan kaos berwarna marun dan celana jeans pendek, rambutnya sudah tertata rapi serta aroma tubuhnya yang wangi. Dia berjalan kembali dan duduk untuk menikmati ikan bakar yang saat itu sudah siap disantap. Tomi yang mencium aroma tubuh Bimo mendekatkan wajahnya ke badan Bimo. “Busyet deh, wangi amat lo, Bim.” Tomi menutup hidungnya karena merasa aroma minyak wangi Tomi menyengat. Sepertinya dia merasa sahabatnya itu terlalu banyak menyemprotkan minyak wangi. Bimo mengangkat lengan mendekati hidung, menghirup aroma minyak wanginya sendiri, memastikan apakah benar yang diucapkan oleh Tomi kalau dia terlalu banyak menyemprotkan minyak wangi ke badannya. “Ah enggak, biasa saja Tom. Gak menyengat kok, gue pakai sewajarnya saja. Wah ... wah, ini hidung lo aja nih yang kayanya bermasalah.” Sebenarnya dia juga merasa sedikit berlebihan memakai minyak wangi, tapi dia tidak mau mengakui di hadapan Aleyra dan Lani. “Ah, masa sih hidung gue bermasalah.” Tomi memegang hidungnya, menggoyang-goyangkannya. Melihat kelakuan kedua cowok di hadapan mereka, Aleyra pun terkikik pelan sambil menutup mulutnya. Sementara Lani malah tertawa terbahak-bahak. “Kalian itu lucu banget sih, ada saja tingkahnya.” Lani melanjutkan tertawanya. Melihat kedua gadis di hadapannya menertawakan mereka, Bimo malah menyeletuk. “Ya sudah, ayo kita makan, entar ikannya lari lagi ke laut karena melihat kita tertawa terus.” Jawaban Bimo membuat ketiganya terkekeh. *** Di perjalanan pulang, Aleyra, Bimo, Lani dan Tomi tidak langsung memutuskan pulang. Atas permintaan Bimo, mereka pergi ke sebuah supermarket yang berada di tengah kota. Setelah memarkirkan kendaraan mereka berempat turun. “Wah, kayaknya lo mau bayarin kita ya, pakai mampir-mampir segala ke supermarket.” harap Tomi menaik-turunkan alisnya. “Hari ini ada film yang bagus, kita nonton dulu ya. tenang, gue yang bayarin tiketnya, oke,” ujar Bimo kemudian tanpa persetujuan teman-temannya. Mereka tentu saja mengekor bimo dari belakang. “Cie, rupanya Bimo seneng banget tuh jadian sama lo. Makanya dia mau berlama-lama jalan biar waktu sama lo gak mau dia sia-siain, yang penting bisa sama lo seharian,” bisik Lani menggoda Aleyra lalu menyenggol bahunya. Perkataan Lani tentu saja membuat wajahnya merona bagai kepiting rebus. “Apaan sih, kamu bisa saja deh.” Sudut bibirnya tersimpul manis. “Cieee, itu muka lihat. Sudah kayak udang yang di goreng, merah itu.” Lani terkekeh, Aleyra berlalu meninggalkan Lani. “Eh, Ley tunggu aku.” Di bioskop, Aleyra duduk bersama Lani, di samping kanan Lani ada Tomi, sedangkan Bimo duduk di samping kiri Aleyra. Hampir semua kursi terisi penuh, kebanyakan dari mereka adalah anak muda seumuran dengan Aleyra dan teman-temannya, tapi sebagian lagi diisi dengan ibu-ibu dan bapak-bapak yang masih semangat menonton film bergenre horor. Banyak yang berbisik satu sama lain kalau film yang akan tayang ini adalah film horror terbaik sekaligus sangat menyeramkan. Ada perasaan was-was dalam hati Aleyra karena ternyata yang mereka tonton adalah film horror. Aleyra kurang suka dengan film ini, karena dia merasa sport jantung kalau menonton film bergenre horror. Kalau pun dia menonton, maka tangan kanannya akan menutupi sebagian wajahnya, bagaimana dia melakukannya di tempat umum, sementara dia menonton bersama teman-temannya. Saat film dimulai, suasana masih biasa saja karena belum ada adegan yang membuat penonton merasa seram. Aleyra pun masih berani menonton filmnya tanpa menutup sebagian mukanya dengan tangan. Aleyra melirik ke samping kiri di mana Bimo berada. Bimo terlihat sangat menikmati film yang dipertunjukkan. Saat film sudah samapi pada adegan yang menegangkan, hampir semua penonton cewek berteriak, tak terkecuali dengan Aleyra. Dia pun berteriak terkejut dan secara spontan dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu bersembunyi di samping kanan bahu Bimo. jantungnya terasa mau copot saat menonton adegan yang menyeramkan. Aleyra tak menyadari jika tingkahnya menarik perhatian Bimo lalu mengelus kepalanya. “Ley, kamu takut ya.” “Iya Bim. Aleyra masih meringis tak mau membuka mata dan menonton filmnya. “Eh padahal lagi seru loh, Ley. Liat itu hantunya keluar serem banget,” goda Bimo. Bukannya menenangkan Bimo malah membuatnya semakin ketakutan. “Bimooo, jangan ngeledek, deh. Aku gak suka, tau!” Aleyra mengerucutkan bibir, menunjukkan ketidaksukaan karena saat ini suasananya benar-benar menyeramkan bagi Aleyra. Setiap kali melihat film horror, dia seolah merasa ada di dalam film itu, apalagi yang ceritanya zombie. Sampai rumah pun dia masih terbayang-bayang dengan film horor yang sudah atau pernah ditontonnya. Aleyra memang termasuk orang yang parno, itu sebabnya dia tidak mau sering-sering melihat film horror. Saat adegan horor sudah selesai, Aleyra baru sadar kalau selama adegan menyeramkan di film tadi, ternyata dia menyembunyikan wajahnya di samping Bimo, bahkan sangat dekat dengan wajah lelaki yang sekarang sudah menjadi kekasihnya. Aleyra buru-buru memalingkan wajahnya saat netra mereka bertemu satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN