Bab 7 - Rencana Tiga Sahabat

1914 Kata
Hari demi hari berganti, tak terasa perkenalan mereka telah sampai dua bulan. Aleyra dan Bimo menjadi semakin dekat. Mereka sering belajar bersama di sekolah. Saat istirahat tiba, Bimo terkadang berdalih ingin belajar bersama, padahal Bimo sengaja agar bisa dekat dengan Aleyra. Aleyra yang memang menaruh hati pada Bimo sejak pertama bertemu, merasa senang bisa lebih dekat dengan Bimo hanya saja dia lebih memilih untuk menyembunyikan perasaannya. Hari itu hari Jumat, mereka sedang duduk di gubuk taman belakang sekolah sembari mengerjakan tugas matematika yang diberikan oleh gurunya di jam pertama tadi. Taman belakang sekolah memang menjadi tempat favorit bagi siswa-siswi di sekolah itu. Selain karena tempatnya yang bagus, di sana pun terasa nyaman untuk bersantai menghabiskan waktu istirahat atau untuk belajar bersama. Di sana ditanami banyak bunga yang indah yang dibawa para siswa sebagai tugas mata pelajaran biologi. Selain itu, di sana terdapat empang pembudidayaan ikan lele walaupun tidak besar. Di samping kanan dan kiri empang, di buat semacam gubuk seperti tempat lesehan di rumah makan. Ya, pihak sekolah memang sengaja membuat desain sekolah seperti itu agar siswa yang sekolah di sana merasa nyaman dan betah di sekolah. Jadi mereka tidak hanya datang dan belajar di sekolah, tapi juga merasa kalau sekolah itu adalah rumah ke dua bagi mereka. Perawatan yang baik dari pihak sekolah dan juga peraturan yang tertib dari sekolah, membuat lingkungan sekolah selalu rapi dan bersih. Di sana Aleyra sedang duduk bersama tiga teman lainnya, yaitu Lani, Bimo dan juga Tomi. Mereka hari itu sedang mengerjakan tugas matematika yang di ajar oleh pak Sholeh. Aleyra membantu mereka mengerjakan tugas itu. Aleyra memang pandai di bidang hitung-hitungan dan beberapa mata pelajaran lainnya. Lani meminta Aleyra menjadi tutor dan mengajari mereka agar dapat menyelesaikan tugas matematika. Aleyra meminta ketiga temannya itu membuka buku tugas dari pak Sholeh, lalu Aleyra menjelaskan materi yang telah di sampaikan oleh pak Sholeh secara detail. Dia dengan sabar mengajari mereka sampai mereka bisa dan latihan soal pun akhirnya berhasil mereka pecahkan dengan baik. "Ley, coba lihat, yang ini sudah benar belum?" tanya Lani menyodorkan bukunya pada Aleyra. "Coba aku lihat." Aleyra memeriksa hasil kerja Lani. "Udah bener kok, Lan." Dia tersenyum menghadiahi sahabatnya itu kedua jempol. Bimo yang melihat hal itu memendam senyum, menahan perasaan yang selama ini ada di dalam hatinya. Semakin lama dia mengenal Aleyra, semakin kuat getaran di dalam hatinya. 'Gue suka Aleyra,' batin Bimo. Bimo seolah terpana akan kecantikan alami yang terpancar di wajah Aleyra. Tomi yang ada di samping Bimo melihat pandangan Bimo tertuju pada Aleyra. Dia mengayunkan telapak tangan di depan wajah Bimo, tapi Bimo tak sedikit pun berkedip. Kemudian Tomi menyenggol bahu Bimo. Sehingga mengejutkan Bimo dan membuyarkan lamunannya. "Ah lo ganggu gue aja." "Lo suka sama Aleyra, ya," bisik Tomi lalu menyenggol bahu Bimo. "Iya, lihat aja. Dia cantik, manis, senyumnya menawan. Satu hal lagi yang membuat gue suka, dia baik hati. Perbincangan kedua pemuda itu cukup didengar dengan baik oleh Aleyra dan Lani. Lani mulai meledek Aleyra dengan kata-katanya. "Cie ... ada yang naksir lo tuh," bisik Lani dengan nada menggoda Aleyra. Aleyra yang mendengarnya salah tingkah dan memutuskan untuk pergi ke belakang dulu. "Emm ... aku permisi dulu ya sebentar, mau cuci muka biar nggak ngantuk." Aleyra beranjak dan meninggalkan mereka bertiga. Aleyra merasa lega karena sahabatnya tidak tau kalau dia ke belakang hanya berpura-pura agar tidak ketahuan salah tingkah. Aleyra mencuci mukanya, lalu dia bercermin sembari senyum-senyum mendengar perkataan Bimo tadi. Dia memegang da**nya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dia menghela napas lalu mengeluarkannya perlahan. "Apa iya Bimo juga menyukaiku?" Dia bertanya pada dirinya sendiri tentang perasaan Bimo. "Ah, sudahlah, tak usah Pede dulu, nanti kalau jatuh sakit lagi," lanjutnya. Sementara itu, di gubuk taman sekolah, Bimo dihujani pertanyaan-pertanyaan oleh Tomi dan Lani. "Bim, jujur aja sama kita. Lo suka 'kan sama Aleyra? Jangan menutup-nutupinya dari kami, karena percuma saja, kami sudah mengetahuinya dari gerak-gerikmu," desak Lani pada Bimo. Mereka berdua memandang Bimo, menunggu jawaban atas apa yang mereka sangkakan. "Gue jujur nggak, ya." Bimo menaruh jari telunjuknya di bawah bibir sambil mengerdip-ngerdipkan mata. Melihat hal itu kedua temannya gemas dan langsung mendesaknya agar langsung to the poin dengan jawaban yang mereka tunggu. "Sudah jujur aja, jangan malu-malu. Biasa malu-maluin juga, lo," ledek Tomi sembari terkekeh. "Haha ... lo bisa aja, Tom." Bimo terkekeh mendengar ucapan Tomi. "Udah cepetan to the poin aja," desak Tomi lagi. Bimo terdiam, lalu tersenyum melihat ke arah Tomi dan Lani. "Iya, gue cinta sama Aleyra. Sejak pertama kali gue melihat dia. Gue merasakan ada sesuatu yang berbeda di hati gue. Aleyra manis, sederhana, cantik, tatapannya menyejukkan mata, bicaranya halus. Gue suka kesederhanaan dia." Bimo menatap ke arah bunga-bunga di depan gubuk sambil mengutarakan perasaannya tentang Aleyra kepada kedua sahabatnya. "Sudah gue duga. Yes!!" Lani mengangkat siku, menekuknya, dan mengayunkannya ke bawah. Mengisyaratkan kegembiraan. Teriakan Lani mengejutkan Bimo dan Tomi. "Kalem dong, Lan. Lo enggak liat apa banyak siswa lain di sini. Terus kalau nanti Aleyra tiba-tiba dengar gimana coba," cerocos Tomi. "Eh ... iya, iya. Sorry deh, gue keceplosan. Habisnya gue gemes sih pengen kalian cepat jadian begitu." Lani menunjukkan deretan gigi putihnya di depan Bimo dan Tomi. "Sebenernya gue mau mengungkapkan perasaan gue ke dia, tapi gue belum nemu waktu yang pas aja buat mengungkapkannya," terang Bimo. "Eh, Bim. Gue punya ide." Tomi menaik-turunkan alisnya ke arah Bimo. Sontak Bimo dan Lani mengucapkan kata secara bersamaan, "Ide apa?" "Mau tau apa mau tau banget?" Tingkah Tomi malah membuat gemes keduanya karena bertele-tele tak langsung mengungkapkan apa idenya. "Ah, udah cepat katakan?" decak Bimo. "Oke, begini. Bagaimana kalau lusa hari Minggu, kita ajak Aleyra ke pantai bitchi. 'Kan jaraknya enggak jauh banget, tuh. Jadi bisa naik motor dua, Lani sama Aleyra dan gue sama lo, Bim. Biar Aleyra gak curiga, ya ‘kan?" "Oh ... pantai Bitchi itu yang ke arah barat itu, ya?" sambal menerka-nerka karena dia pernah mendengar nama pantai itu, tapi belum pernah datang ke pantai tersebut. "Iya, Lo pernah ke sana, Bim?" tanya Lani. "Enggak, sih. Lewatnya doang pernah." Bimo menggelengkan kepala. Sejenak Bimo berpikir, dia ragu apakah Aleyra akan mau diajak jalan olehnya. Aleyra pernah bilang kalau dia jarang keluar, karena membantu bibinya berjualan di rumah. "Sebentar, apa kalian yakin Aleyra bakalan bisa pergi sama gue? Dia 'kan suka membantu bibinya di rumah kalau hari minggu," celetuk Bimo. "Kalau soal itu, biar Lani yang urus. Kita pergi berempat. Nanti di sana 'kan ada warung deket pantainya, nah nanti gue sama Lani pura-pura beli minum, atau kita pesen ikan bakar dulu lah, nah nanti Lani ajak Aleyra ke pantainya. Terus lo susul tuh Aleyra, sedangkan Lani nanti balik ke warung sama gue tunggu di warung. Abis itu, silakan waktunya Lo beraksi buat menyatakan perasaan Lo ke Aleyra, gimana?" "Gue setuju tuh," sosor Lani sambil senyum-senyum. "Ah, Lo maen sosor aja, Lan. Gue kan nanya sama Bimo, gimana sih," celetuk Tomi. "Biar cepat aja kan gue jawab iya, Tom. Haha ...," seloroh Lani. "Oke baiklah, gue setuju. Lebih baik jangan naik motor, bagaimana kalau kita naik mobil gue aja. Biar lebih cepet dan juga safety." "Oke, kalau begitu. Deal ya, kita naik mobil Bimo dan lo Bim, siapin mental lo,” ujar Tomi. “Siapin mental? Maksud lo?” Bimo tidak paham apa yang temannya maksud. “Ya siapin mental lo lah buat nyatain cinta sama Aleyra, ya enggak, Lan?” “Ah, bener banget tuh sama yang dikatakan Tomi. Eh but wait, lo kan pindahan dari kota, biasaanya nih ya, kalau dari kota itu ceweknya banyak, lo kaya gitu nggak sih?” Lani mengerutkan keningnya menantikan jawaban yang akan dilontarkan Bimo. “Haha, lo tau aja Lan. Bener sih, gue pernah nyatain cinta ke cewek-cewek di kota. Buka satu atau dua cewek sih, banyak malah. Bimo gitu loh, cewek mana coba yang gak naksir sama gue, haha.” Bimo mulai membanggakan dirinya atas prestasi sebagai playboy yang pernah dinobatkan pada dirinya saat masih sekolah di kota. Siapa yang tak kenal dengan Bimo, dia anak orang kaya raya. Tak sedikit cewek-cewek yang menantikan menjadi pacarnya agar bisa ditraktir atau dibelikan banyak barang yang mereka mau. Bimo termasuk anak yang Royal, dia tak pilih-pilih teman. Dia juga suka mentraktir teman-temannya, bahkan cewek-cewek yang pernah dekat dengannya dimanjakan dengan apapun yang mereka mau. Dari mulai jalan-jalan ke Mall, nonton ke bioskop, makan di restaurant mahal, bahkan ke hotel berbintang. Akan tetapi, Bimo tak sampai melakukan hubungan in*** dengan para cewek itu, dia hanya sebatas bersenang-senang meskipun terkadang ada dari mereka yang rela jika harus berhubungan lebih dengan Bimo. Namun, Bimo menolaknya dan segera mengalihkan perhatian ke arah yang lain. “Ah dasar kamu itu, playboy juga ternyata.” “Ya, itu kan dulu, sekarang udah enggak lagi.” Tak berapa lama, Aleyra terlihat berjalan dan hendak menghampiri mereka. "Ssst ... Aleyra datang." Lani sedikit memajukan bibirnya, mengisyaratkan kepada kedua temannya agar diam karena Aleyra kembali menghampiri mereka. “Jangan ceritakan masa lalu gue sama Aleyra ya, oke,” cicit Bimo. “Iya, udah tenang aja. Gak bakal kok, gue sama Lani bakal jaga rahasia lo. Udah diam, dia datang tuh.” "Ley, Lo lama banget, sih di belakang," tanya Lani. Aleyra duduk di samping Lani dan mulai membuka buku pelajaran matematika tadi dan hendak melanjutkan menjelaskan kepada temannya. Namun, belum sempat Aleyra berbicara, bel tanda masuk sudah berbunyi. "Tuh, udah waktunya masuk. Kita duluan, ya, Ley, Lan. By the way, thanks ya udah mengajari kita tentang pelajaran matematika tadi." Bimo dan Tomi beranjak dan meninggalkan kedua sahabat itu. Lani dan Aleyra membereskan buku-buku yang tadi mereka bawa, lalu bergegas pergi menuju ruang kelas mereka. *** Sepulang sekolah cuaca masih terasa panas, Lani menunggu Aleyra di depan pintu, mengibaskan tangan seolah menjadi kipas karena dia merasa gerah. Dia sengaja ingin berjalan bersama Aleyra agar bisa mengutarakan rencana yang sudah dibuat oleh dia dan kedua sahabatnya. Begitu Aleyra hendak keluar, Lani segera merangkul lengan Aleyra, ditatap netra sahabatnya diiringi memberi senyuman yang menimbulkan pertanyaan bagi Aleyra, tapi belum sempat Aleyra mempertanyakan Lani buru-buru mengajaknya berjalan bersama hingga ke parkiran depan sekolah. Sesampainya di tempat parkir, Lani mengajak Aleyra duduk dulu sebelum mereka pulang. "Ley, temani gue bentar, yuk, minum. Gue haus," ajak Lani. "Ya sudah, ayo." "Halo Bi Esih, pesen jus melon, dong, satu," pesan Lani. "Lo pesen apa, Ley." "Aku air mineral aja, deh." Sesaat setelah minuman datang, Lani mulai mengatakan keinginannya untuk mengajak Aleyra ke pantai Bitchi hari Minggu. Aleyra berfikir sejenak, lalu mengatakan jawabannya kepada Lani. "Ya, sudah, baiklah. Nanti Minggu kita naik motor siapa?" "Kita berangkat enggak berdua, kok, Ley." "Maksudnya? Memang mau mengajak siapa lagi, Lan?" tanya Aleyra penasaran. "Kita pergi berempat." "Berempat? Siapa saja?" Aleyra mengerutkan dahinya karena penasaran dengan siapa saja mereka akan pergi. "Aku, kamu, Tomi sama Bimo." Aleyra melongo kaget, lalu mengatakan, "Hah ... Bimo? Tunggu ... tunggu. Ini sebenernya ada acara apaan, sih, Lan?" "Enggak ada acara apa-apa, Aleyra sayang. Cuma mau jalan-jalan melepas penat karena keseharian kita 'kan belajar dan belajar, jadi apa salahnya dong kita refresh otak dulu, ya 'kan!" cerocos Lani. "Ya ... iya, sih." "Mau ya, please." Lani berbicara seolah memelas dan menggabungkan kedua telapak tangannya. "Iya, baiklah." Aleyra mengabulkan keinginan sahabatnya, tak tega dengan ekspresi memelasnya. Di samping itu, dia juga memang sudah lama tak menikmati pemandangan pantai karena lebih sering membantu bibinya berjualan. "Nanti kita ke pantainya naik mobil Bimo. Dia akan jemput kita di rumah gue aja, ya. Biar Lo taruh motor Lo di rumah gue," terang Lani. "Oke." Aleyra mengacungkan kedua ibu jari ke arah Lani. Mereka melanjutkan menghabiskan minuman mereka, lalu berpisah satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN