“Sayang, kamu sudah datang,” ujar Sarah menengok ke arah lelaki yang kini ada di hadapannya lalu lelaki itu mencium tangan Sarah. “Iya, Ma.” Lelaki berbola mata biru itu mencium kening Sarah kemudian duduk di sampingnya. Sesekali netranya menatap ke arah perempuan yang ada di hadapan mamanya. Namun, tatapannya bukan tatapan ketertarikan yang dia perlihatkan, melainkan tatapan sinis. “Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Sarah memegang pundaknya dan tatapan mereka masih berhadapan satu sama lain. “Aku nggak mau makan Mah, nanti saja, aku nggak selera makan karena melihat dia.” Bimo menunjuk Sevi dengan memajukan dagunya dengan nada malas. “Oh iya, Sayang. Lihat, Sevi habis ke salon mewarnai rambutnya biar tambah cantik. Bagus kan warna rambutnya?” Sarah menatap ke arah Sevi mem

