Bab 19

1651 Kata
Setiap kesuksesan yang kamu dapatkan, pasti ada saja orang yang merasa tidak suka dengan kesuksesan yang kamu dapatkan. Melodi sadar jika dia tidak bisa membuat semua orang suka dengannya, bagaimanapun dan apapun yang dia lakukan pasti akan salah di mata orang yang sudah dari awal tidak menyukainya.   Seperti lampu sorot yang hanya menyoroti tempatnya, seharusnya Melodi waspada dengan kegelapan di sekitarnya. Dia terlalu polos mengiyakan ajakan seorang yang sedari awal tidak menyukainya.   Keheningan kembali menyapa di antara keduanya. Melodi sekarang tidak seberani tadi menatap Arwin. Arwin yang tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Melodi membuat Melodi merasa jengah. Helaan napas Arwin terdengar, Melodi melirik Arwin dengan ekor matanya.   “Masalah polisi yang datang menangkap kita, itu semua karena bukti chat m*******i dengan pemesan yang ternyata salah menyebutkan nomer kamar, entah ini disengaja atau tidak yang jelas si pelaku yang sebenarnya lolos. Setelah kita tertangkap si m*******i pingsan dan dia tidak bisa menjelaskan ketidak terlibatan kita.” Arwin menjelaskan semua hal yang dia ketahui dari masalah ini.   “Jadi bukan Alice yang melapor?”   Arwin mengangguk mengiyakan. “Dia sepertinya hanya berniat membuatmu mabuk dan rekaman mabukmu akan disebarkannya di media sosial.”   Melodi mengangguk mengerti, Alice jelas ingin merusak citranya agar terlihat buruk di masyarakat. Sekarang Alice sepertinya akan tambah senang karena kariernya benar-benar hancur.   Kedua tangan Melodi menggenggam erat pinggiran ranjang. Kenyataan kariernya sekarang sudah hancur seperti yang diharapkan oleh Alice membuat rasa marah bergejolak di hati Melodi.   “Apa fakta itu akan disebarkan di media juga?”   “Tentu saja, satu masalah sekarang sudah mendapatkan titik terangnya, selanjutnya kita harus membersihkan namamu.”   Melodi tahu maksud Arwin, namanya mungkin sekarang terbebas dari embel-embel artis yang melakukan prostitusi, tapi bermalam dengan seorang pria di hotel itu tidak bisa dipungkiri. Pada akhirnya dia tetap akan hancur dan Arwin yang ingin membersihkan namanya?   “Jika Anda sampai ikut campur bahkan muncul di publik, itu sama saja dengan bunuh diri.”   Melodi sudah sangat hapal bagaimana kasus seperti ini berakhir. Di setiap kasus prostitusi artis, tidak pernah ada pemberitaan yang menyebutkan siapa pria yang bersama sang artis. Pada akhirnya hanya sang artis yang menanggung malu walau itu memang salah dia sendiri terjun ke dunia yang tidak seharusnya. Terasa tidak adil dan begitulah kenyataannya.   “Kita melakukannya sama-sama, kita pun harus mengakhirinya secara bersama-sama, aku bukan orang yang lepas dari tanggung jawab.” Arwin tak habis pikir kenapa Melodi dengan gampang menyuruhnya lepas tangan pada masalah ini. Dia tahu bahwa hanya Melodi yang mendapat sorotan dan dengan diberikan penjelasan dari pihak kepolisian atas salah tangkap saja tidak akan membuat hidup Melodi kembali seperti semula.   “Dengan cara apa kita mengakhirinya?”   “Menikah.” Arwin tanpa ragu mengatakan itu, kalimat sakral itu sukses membuat Melodi kaget.   Melodi melihat Arwin lekat-lekat, tidak ada wajah yang suka menggoda ataupun nakal itu. Wajah itu terlihat sangat serius, tapi Melodi tidak pernah membayangkan dirinya mendapat ajakan menikah dengan seperti ini. Arwin jelas melakukannya karena dia merasa bertanggung jawab.   “Untuk apa Anda melakukan sampai sejauh itu? Toh, nama baik Anda akan baik-baik saja. Kenapa Anda malah mau berbuat sampai sejauh itu? Menikah, saya tidak habis pikir.”   “Setidaknya dengan cara itu kamu bisa menjalankan hidupmu dengan lebih baik setelahnya.” Lagi-lagi Arwin menjawabnya dengan cepat dan tanpa ragu.   Baik? Melodi rasa hidupnya tidak akan baik-baik saja walau menikah dengan Arwin sekalipun karena Melodi tahu apa yang akan menimpanya dan Arwin jika sampai menikah. Melodi mengambil napas panjang sebelum mengatakan, “Jika kita sampai menikah, semuanya akan terbongkar di mana saya tidur dengan Anda pada saat penangkapan itu. Menikah setelah kejadian penangkapan, orang-orang akan menghujat kita seperti itu.”   “Aku sudah memikirkan hal itu, jadi kamu tidak perlu khawatir.”   “Maksud Anda bagaimana?”   “Aku akan mengadakan konferensi pers. Di sana kita akan mengaku jika kita adalah pasangan suami istri yang sah secara agama dan kita akan melangsungkan pernikahan secara resmi setelah proses syuting filmmu selesai. Katakanlah aku terlalu dimabuk cinta hingga memaksamu menikah denganku lebih cepat karena tak ingin kamu terlibat cinta lokasi.”   Sebuah kebohongan yang direncanakan sedemikian rupa, rencana yang terdengar sangat menggiurkan karena hanya dengan itu Melodi bisa membersihkan namanya. Arwin sudah memikirkan ini, hanya ini cara yang bisa mereka lakukan.   “Apa mereka akan percaya?”   “Tentu saja mereka akan percaya, mengingat kasus fansmu yang menyerang aktor lain. Itu adalah alasan yang paling logis saat ini.”   “Bagaimana dengan hidup Anda? Kenapa Anda sampai repot-repot melakukan ini?”   Pandangan Arwin melembut. “Aku memiliki kesempatan untuk tidak melakukannya tapi aku malah tetap melakukannya. Aku merasa sangat bertanggung jawab atas hidupmu sekarang.”   Mendengar itu Melodi terdiam. Kalimat itu membuatnya ingatannya langsung berputar kembali ke kejadian itu. Melodi tidak ingin mengingatnya, dia benci mengingat dirinya yang sudah tidak perawan lagi. Sekarang, tawaran yang ditawarkan oleh Arwin itu yang terdengar sangat menguntungkannya.   Membayangkan dirinya hidup serumah dengan Arwin membuat d**a Melodi terasa sesak. Sayangnya Melodi tidak punya pilihan lain karena jika dia menolak tawaran itu, Melodi sadar jika bukan hanya dia yang akan dihujat, keluarganya juga akan mendapatkan hujatan itu. Semua keluarganya akan menanggung malu yang sangat besar.   “Jadi bagaimana? Kamu maukan?”   Sekarang Melodi harus mengeyampingkan perasaannya demi nama baik keluarganya. Perlahan Melodi menganggukkan kepalanya kemudian berucap, “Aku akan menikah dengan Anda. Satu tahun, setelah itu kita akan berpisah.”   “Jika itu keinginanmu, aku setuju.” Arwin mengulurkan tangannya, uluran tangannya itu langsung dijawab gelengan Melodi, Arwinpun menarik tangannya lagi.   Arwin bangun dari tempat duduknya kemudian dia berucap, “Aku akan mengurusnya jadi siapkan dirimu agar terlihat baik-baik saja karena kamera akan menyoroti kita, dan semua pertanyaan itu biarkan pengacaraku yang menjawab semuanya.”   Senyum singkat Arwin berikan sebelum dia berbalik dan pergi meninggalkan Melodi seorang diri.   “Dia masih bisa tersenyum di saat seperti ini?” Melodi memandang kepergian Arwin.   Tak berselang lama Tiara masuk kembali ke dalam ruangan kesehatan itu, diikuti dengan Putri yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan Melodi dan baru sekarang bisa bertemu dengan Melodi.   Begitu sampai di depan Melodi, Putri memeluk Melodi dengan erat. Isak kecil keluar dari Putri, sambil menahan isak tangisnya Putri berucap, “Maafin Mbak yang enggak bisa ngejaga kamu dengan baik.”   Putri yang menangis dan menyalahkan dirinya sendiri membuat Melodi melepaskan pelukan Putri. Melodi mengusap air mata Putri kemudian berucap, “Ini bukan salah Mbak, ini salah aku sendiri, jadi Mbak enggak usah nyalahin diri sendiri, oke?”   “Ini juga salah Mbak, andai aja Mbak ikut kalian liburan, ini pasti enggak akan kejadian.”   “Ini juga salah aku Mbak Put karena enggak ngejagain Mbak Melo.”   Melihat orang-orang terdekatnya saling menyalahkan dirinya sendiri membuat Melodi merasa sangat bersalah karena tidak becus menjaga dirinya sendiri. Ini jelas kesalahannya yang dengan bodohnya mau saja diajak ke bar. Melodi tidak ingin melihat Putri maupun Tiara menyalahkan diri mereka lagi.   Senyum lebar Melodi paksakan di bibirnya, terlihat baik-baik saja itu yang terbaik saat ini.   “Aku udah enggak apa-apa kok, jadi kalian enggak usah ngerasa bersalah.”   “Kamu menyetujui rencana Pak Arwin?” Putri lebih dahulu tahu rencana itu dan dia juga tahu bahwa hanya dengan itu Melodi bisa terbebas dari semua pemberitaan buruk, tapi Putri tak percaya jika Melodi mampu mengiyakan rencana itu dan bisa tersenyum seperti ini.   “Ya, aku menyetujuinya, jadi Mbak enggak usah khawatir lagi.”   “Mbak tahu ini sangat berat, jadi kapanpun kamu butuh Mbak, Mbak akan selalu ada buat kamu. Sekarang, wajah kamu harus dibenerin dulu karena kita mau keluar.” Putri memberi kode pada Tiara agar Tiara segera mendandani Melodi.   Ruangan itu kembali sepi tak kala Tiara mulai mendandani Melodi. Mereka semua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tiara membuat wajah Melodi terlihat senatural mungkin karena akan sangat aneh jika Melodi keluar dengan make up tebal dan semakin aneh jika mata bengkak Melodi terlihat jelas. Orang-orang pasti akan bertanya, jika tidak salah kenapa sampai menangis?   Beberapa puluh menit berlalu dan akhirnya Tiara berhasil memperbaiki Melodi yang tampak kacau dengan matanya yang bengkak. Melodi terlihat jauh lebih kuat dibandingkan saat dia ditangkap.   “Kamu udah siap?”   Melodi mengangguk mengiyakan, sekarang yang perlu Melodi lakukan hanya berakting, berakting seakan tidak terjadi apa-apa. Dia pasti bisa melakukan ini, dia harus bisa terlihat baik-baik saja.   Di luar Arwin sudah menunggu dengan pengacaranya. Arwin berjalan mendekati Melodi, dia menyodorkan tas Melodi yang menjadi barang bukti di kasus ini. Melodi tidak menunjukkan reaksi apa-apa saat menerima tasnya itu.   “Kalian sudah siap?” tanya pengacara Arwin.   Melodi melirik Arwin dan Arwin tampak biasa saja, Melodipun mengangguk mengiyakan. Dia sudah terbiasa melakukan akting di depan kamera, hal ini seharusnya tidak menjadi masalah baginya.   Bersama dengan pengaca, Melodi berdiri tepat di samping Arwin. Arwin yang tiba-tiba menggenggam tangannya membuat Melodi mendongakan kepalanya hendak protes, dia tidak ingin Arwin melakukan kontak fisik dengannya.   “Akan sangat aneh jika kita terlihat tidak seperti seorang pengantin baru.”   Melodi tidak bisa membantah apa yang dikatakan Arwin karena apa yang dikatakan Arwin benar adanya.   Begitu mereka keluar dari sana, wartawan sudah ramai menunggu mereka. Suara bising karena jepretan kamera yang diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar begitu saja sukses membuat Melodi kaget.   Langkah mereka terhenti agar bisa memberikan klarifikasi. Melodi berdiri dengan kaku, dia mendadak merasa sesak dan takut karena kamera yang menyorotinya. Melodi ingin segera mengakhiri ini, dia tidak tahan dikelilingi oleh banyak wartawan seperti ini.   Tanpa sadar Melodi dengan erat menggenggam tangan Arwin.   “Aku ada di sampingmu,” bisik Arwin yang menyadari bahwa Melodi tengah ketakutan saat ini. Apa Melodi mengalami serangan panik?   Putri yang ada di sisi lain tubuh Melodi sadar akan Melodi yang terlihat takut pada sorotan kamera. Ketakutan Melodi itu membuat Putri merasa sedih melihat Melodi yang terlihat seperti ini, ingin rasanya Putri segera membawa Melodi pergi dari sini tapi Melodi harus menghadapi hal ini agar nama baiknya bisa kembali lagi.   “Saya, saya Kim Melodia meminta maaf karena sudah membuat keributan sebesar ini. Sekali lagi saya ucapkan perminta maafan sebesar-besarnya.” ucap Melodi dengan susah payah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN