Bab 18

1695 Kata
Melodi membiarkan air mengalir membasahi seluruh tubuhnya. Hal yang dialaminya ini membuat Melodi merasa sangat sesak sekali. Tangannya dengan keras menggosok tubuhnya yang memiliki bekas-bekas Arwin di sana. Melodi tidak memperdulikan rasa sakit akibat tangannya yang terlalu keras menggosok setiap inci tubuhnya, yang ada dipikiran Melodi saat ini adalah membersihkan semua bagian tubuhnya yang kotor karena Arwin.   Secepat mungkin Melodi membersihkan dirinya, dia tidak ingin berlama-lama di tempat ini, dia harus segera pergi dari tempat ini. Melodi memandangi tumpukan bajunya, dia tidak ingin memakai baju itu tapi dia tidak punya pilihan lain selain memakai baju itu.   “Aku akan membakarnya habis ini,” gumam Melodi.   Sayup-sayup Melodi mendengar keributan dari luar kamar mandi. Dia tidak perduli jika Arwin sampai menghancurkan seluruh isi kamar atau bahkan kabur, akan lebih bagus jika Arwin tidak ada di sana malahan.   Setelah seluruh pakaiannya terpasang, suara ribut-ribut itu tidak kunjung selesai bahkan Melodi bisa mendengar suara orang lain selain Arwin. Sekarang Arwin sengaja mendatangkan temannya? Melodi mencoba diam tak bersuara. Jangan sampai keberadaannya diketahui oleh orang lain di sini.   Tiba-tiba gedoran pintu kamar mandi terdengar kencang sekali dan itu sukses membuat Melodi kaget.   “Nona yang di dalam kamar mandi, segera keluar!”   Suara asing dengan intonasi yang tegas itu membuat jantung Melodi seketika berhenti berdetak untuk sesaat. Handuk yang Melodi gunakan untuk mengeringkan rambutnya dia singkirkan. Melodi memandangi pintu kamar mandi yang saat ini digedor dengan kencang.   “Jika dalam waktu satu menit Nona tidak keluar, pintu ini akan saya dobrak!”   Ancaman itu seketika membuat Melodi merasa takut karena ada orang asing yang ingin masuk ke dalam kamar mandi yang tengah digunakannya ini. Melodi diam tidak berani bersuara. Melodi yakin jika orang yang tengah menggedor pintu kamar mandinya ini adalah orang suruhan Arwin.   “Nona, saya tahu Nona ada di dalam.”   Wajah kesal penuh amarah tergambar jelas dari wajah Melodi. Melodi melangkah cepat menuju pintu kamar mandi.   “Apa?!” teriak Melodi begitu membuka pintu kamar mandi yang selanjutnya membuat Melodi menyesal telah berteriak. Dua pria berbadan tegap yang saat ini berdiri di depan Melodi bukanlah pria sembarangan karena dari kaos yang digunakan pria itu, Melodi langsung mengetahui bahwa dua pria itu adalah seorang polisi.   Melodi saat itu juga diamankan oleh kedua polisi itu. Melodi yang tidak tahu salahnya di mana tentu saja menolak untuk diamankan seperti itu.   “Apa maksudnya ini!” Melodi berseru panik.   “Bukti sudah kami kantongi, jadi Nona diam saja dan ikut kita ke kantor polisi.” Melodi dibawa dengan paksa mengikuti langkah dua polisi itu.   “Enggak bisa gini dong Pak.” Melodi berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan dirinya tapi dua polisi yang mencekal tangannya ini sama sekali tidak berkutik.   Akhirnya Melodi pasrah mengikut langkah dua polisi yang membawanya. Saat Melodi keluar dari kamar mandi, dia tidak menemukan sosok Arwin di sana. Tapi begitu di ruang tengah, barulah sosok Arwin terlihat bersama polisi yang lainnya.   Apa Arwin membawa n*****a ke kamar hotel sehingga mereka berdua ditahan seperti ini? Pikir Melodi saat itu juga karena tidak mengerti dengan situasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.   Melodi memandangi Arwin yang semakin menjauh darinya. Mata Melodi sedikit memanas, dia masih kaget dengan semua yang menimpanya sekarang.   “Padahal sinetronnya sukses tapi malah jualan, sayang bangat.”   “Itulah kalau gaya hidup lebih besar daripada pemasukan.”   Langkah kaki Melodi terhenti. “Bapak jangan asal ngomong ya!”   “Jika Nona tersinggung, saya mohon maaf. Jadi ayo jalan lagi.”     Melodi hendak memberontak saat dia akhirnya berhasil keluar dari kamar hotel jika saja dia tidak sadar bahwa dirinya menjadi pusat perhatian oleh beberapa staf hotel. Sadar menjadi pusat perhatian, Melodi menutup wajahnya. Sambil mengikuti langkah polisi yang membawanya Melodi sadar kenapa dia dan Arwin sampai ditahan seperti ini. Tidak salah lagi, dia dituduh melakukan prostitusi seperti artis lainnya yang lebih dahulu ditangkap.   Satu hal yang menjadi pertanyaan Melodi saat ini, bagaimana bisa polisi-polisi yang menangkapnya sekarang bisa ada di hotel ini? Hotel ini bahkan terbilang hotel mewah dan polisi tidak bisa sembarangan melakukan penangkapan dengan asal mencari tamu yang tengah berbuat m***m, Melodi yakin betul bahwa polisi yang datang ke kamar hotel yang ditempatinya dengan Arwin saat ini karena ada seseorang yang melaporkannya. Tapi seingat Melodi, polisi tidak mungkin mengurusi hal ini jika ada seseorang yang melihat dirinya dengan Arwin masuk ke kamar hotel yang sama bukan?   Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam? Batin Melodi.   Lift yang berisikan dirinya dan polisi-polisi yang lain membuat Melodi merasa sangat sesak sekali. Begitu pintu lift terbuka, Melodi menutup wajahnya karena tatapan tamu hotel mengarah ke arahnya. Tatapan menusuk yang diterima Melodi membuat dia merasa sedang ditelanjangi. Selama 24 tahun hidupnya, baru kali ini Melodi merasa sangat malu dan hina.   “Liat, bukannya dia Melodi?”   “Iya dia Melodi, katanya dia deket sama Gibran kan?”   “Dia pasti jualan semenjak jadi model.”   “Enggak bisa ninggalin dunianya gitukan?”   “Bener. Artis baru tenar kelakuan minus.”   Tubuh Melodi semakin gemetar ketakutan mendengar gunjingan-gunjingan dari tamu hotel yang melihatnya. Hal itu membuat Melodi semakin berusaha dengan keras menyembunyikan wajahnya.   Inikah akhir perjalanannya hidupnya? Dikenang sebagai seorang yang hina? Melodi hanya bisa tertunduk sedih dengan kenyataan itu   Hampir keluar dari pintu utama hotel, seseorang berseru dengan kerasnya dan memegang tangannya dengan erat.   “Pak, salah Mbak saya apa?”   Melodi tidak berani mengangkat wajahnya. Suara Tiara yang bergetar membuat Melodi tidak kuat. Melodi berusaha mati-matian menahan air matanya dan dia tidak ingin menangis di depan banyak orang seperti ini.   “Kalau Bapak bawa Mbak Melo, ya udah saya juga ikut.”   Melodi memberanikan dirinya mengangkat pandangannya dan di depannya Tiara sudah menangis. Air mata yang sudah Melodi tahan akhirnya lolos. Tiara akhirnya ikut bersama Melodi, di dalam mobil polisi Melodi memeluk Tiara dengan erat.   Tiara tidak berani bertanya, bukan saatnya dia bertanya sekarang. Tapi yang jelas, Tiara sangat tahu bagaimana Melodi dan dia yakin bahwa Melodi tidak mungkin melakukan hal yang jahat. Sambil mengelus pundak Melodi yang bergetar, Tiara sesekali menghapus air matanya.   “Seharusnya kamu enggak ikut tadi, gimana kalau Ibu kamu lihat?” lirih Melodi.   “Mbak enggak salah jadi ngapain mesti malu.”   “Tapikan kamu enggak tahu masalahnya Ra.”   “Tapi aku tahu gimana kehidupan Mbak.”   Melodi mengeratkan pelukannya di pinggang Tiara. Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi Melodi hanya bisa menangis di pangkuan Tiara, saat air matanya tidak keluar lagi dan mobil masih terus berjalan Melodi terdiam. Setelah puas menangis Melodi sadar jika seharusnya dia mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Mencoba mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam membuat kepala Melodi terasa sakit.   “Mbak Melo enggak apa-apakan?”   “Bohong kalau aku enggak kenapa-kenapa.” Melodi menghela napas berat. Dia masih menyembunyikan wajahnya di paha Tiara.   Dari gerbang kantor polisi sudah ada beberapa wartawan membuat Melodi semakin menyembunyikan wajahnya. Dia takut keluar dari mobil polisi, kamera wartawan bagai sebilah pedang yang siap menusuk jantung.   Begitu Melodi keluar dari mobil, blitz kamera menyambut Melodi. Beruntung ada Tiara yang siap menyembunyikan wajah Melodi dari kamera-kamera wartawan. Namanya sekarang sudah rusak, semua orang akan menyebutnya sebagai p*****r, kenyataannya jelas tidak tapi tidak ada yang bisa menutup satu-satu mulu netizen. Membayangkan dirinya mendapatkan hinaan yang besar di luar sana membuat jantung berdebar kencang dan napas yang memendek, Melodi tidak kuat lagi dengan semua hal yang menimpanya sekarang. Seketika tubuh Melodi lunglai tidak sadarkan diri.   Aroma yang menyengat masuk ke hidungnya membuat Melodi perlahan membuka matanya. Tadi Melodi berharap jika dia tidak bangun dari kegelapan yang panjang, sayangnya dia tetap terbangun dengan kenyataan yang pahit menimpanya.   Air mata Melodi mengalir. Dia meringkuk di atas sebuah ranjang yang terdapat di ruang kesehatan di kantor polisi tempatnya sekarang ditahan.   “Mbak Putri sudah datang dan sekarang lagi selesaian masalah sama pengacara Pak Arwin.”   “Sudah berapa lama aku pingsan?” tanya Melodi karena tidak mungkin Putri secepat itu datang ke tempat ini.   “Setengah jam kurang.”   “Semua orang pasti tengah menghujatku sekarang.” Melodi tersenyum pedih. “Aku enggak tahu apa aku bisa lanjutin hidup lagi apa enggak, Ra.”   Guncangan di badannya membuat Melodi tersentak. Tiara menatapnya tajam. “Mbak masalah ini pasti ditangani sampai selesai dan jika terbukti Mbak enggak jualan, Mbak bisa harus tunjukin diri Mbak dengan berani kalau Mbak tu enggak salah.”   “Kamu tahukan aku beneran tidur dengan Pak Arwin?” Melodi tidak bisa mengelak kenyataan bahwa dia memang sudah melakukan itu dengan Pak Arwin.   “Intinya di sinikan Mbak dituduh jualan karena ada m*******i yang ditangkap dan Mbak Melo bukan termasuk anak buah m*******i itu.”   Melodi diam, dia tidak ingin berdebat lagi. Pada akhirnya dia tetap dihujat karena dia ketahuan melakukan s*x before marriage. .   Pintu ruangan itu terbuka dan sosok Arwin masuk ke dalamnya. Napas Melodi tercekat saat melihat Arwin yang tampak biasa-biasa saja. Tidak ada raut penyesalan atau sebagainya. Melodi bangun dari tempat tidur yang ditidurinya.   “Tiara keluar.”   “Bisakkah kamu keluar?”   Arwin dan Melodi berbicara secara bersamaan dengan maksud yang sama pula, yaitu meminta Tiara untuk keluar dari ruangan itu. Tiara tidak membuang waktu lebih banyak lagi, diapun segera meninggalkan Arwin dan Melodi di ruangan itu.   Melodi hendak turun dari atas ranjang namun ditahan Arwin. “Diam saja di sana.”   Melodi duduk di atas ranjang sedangkan Arwin duduk di bangku yang berada tepat di samping ranjang. Arwin tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Melodi, begitupula Melodi.   “Aku tidak mungkin mabuk jika bukan ini rencana yang Anda buat.” Melodi lebih dahulu membuka suaranya. Banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya yang membuat kepala Melodi terasa hampir pecah.   “Temanmu sendiri yang memesan minuman itu dan kamu meminumnya dengan lahap, untuk hal itu kamu tidak bisa menyalahkanku.”   “Kapan aku minum?”   Arwin berdecak. “Coba kamu ingat lagi, kamu pergi ke bar hotel dengan teman wanitamu yang syuting sinetron yang sama denganmu.”   “Teman wanita?”   Arwin mengangguk mengiyakan.   “Dia meminta maaf padamu, tapi sepertinya dia tidak benar-benar berniat demikian.”   Mendengar kata maaf, Melodi seketika teringat kembali kejadian yang dia lupakan.   “Alice,” ucap Melodi begitu ingat dia pergi ke bar dengan Alice.   “Kamu sudah mengingat semuanya?”   Melodi mengangguk mengiyakan, dia mengingat semua kejadian dari awal hingga berakhir dalam dekapan Arwin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN