Tangan Quintessa terangkat dan dia ayunkan sekuat tenaga. Jemarinya dibiarkan terbuka. Sehingga saat mendarat, dia menorehkan bekas telapak tangan di pipi Gallen. Pangeran itu menatap tak percaya pada gadis berambut pirang di hadapannya. Quintessa yang tak pernah berani menamparnya, kini melakukan hal itu. "Ka-kamu?" Gallen meraba hasil karya Quintessa di pipi. Terasa pedih, tapi tidak sebanding dengan luka hati yang bersarang sejak tadi pagi. Dada Quintessa naik turun menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, sekaligus mencoba menetralkan emosinya. Adapun sedari tadi, dia sudah mengeluarkan air mata. Pangeran tertegun ketika melihat bulir kesedihan itu meluncur dari sudut mata Quintessa. Seorang gadis cengeng yang selalu bertingkah kekanak-kanakan. "Itu karenaku?" Gallen

