Satu butir air mata hampir jatuh. Quintessa pun bergegas menghampiri si pegasus hitam. Dia berpura-pura memiliki kepentingan dengannya. "Cinta segitiga?" Quintessa memilih tidak menyahut. Dia hanya berdecak sebal, lalu duduk memeluk lutut di atas awan buatan Neirra. Menumpahkan kesedihannya di sana. "Ck, ck, ck. Kenapa kau tidak berjuang saja? Lihat lelaki itu. Dia sepertinya menaruh rasa padamu," ujar si pegasus. Gadis di hadapannya pun menoleh. Mendapati Gallen yang memandang kosong pada kepergian dirinya. Tapi hati kecil Quintessa merasa ucapan pegasus tidak mungkin benar adanya. "Dia hanya bingung bagaimana caranya bercerai denganku. Sudah itu saja," jawabnya sok kuat. Pegasus itu tersentak. "Menikah? Tanpa dasar cinta?" "Jangan banyak tanya atau kusumpal mulutmu!" ancam gadis

