Akhir dari Segalanya

1208 Kata

Quintessa menangis keras. "Harusnya aku tidak menyelamatkanmu! Harusnya aku membiarkan Villana yang mengobatimu! Aku ... aku sangat bodoh, 'kan? Persis seperti yang diucapkan oleh pegasus hitam." "Sst! Itu tidak benar." "Lalu apa yang benar?" tanya Quintessa sedikit kesal. Sudah jelas kalau dia memiliki tanda sebagai wadah penyihir Quintessa. Sudah akan dirasuki pula. Bagian mananya yang tidak benar? Gallen hanya bisa menjawab, "Kita cari solusinya bersama di istana. Ya?" "Kau mau aku mengulur waktu dan melihatmu mati?" sentak Quintessa sambil mencengkram erat bahu Gallen. "Aku tidak akan mati!" balas sang pangeran, tak mau kalah dari istrinya. Quintessa mendengus. Dia lalu meminta, "Biarkan aku pergi." "Jangan bercanda! Kau tak boleh kemana-mana!" larang Gallen. Tangis istrinya

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN