Oleng

1042 Kata
Tidak banyak yang dibicarakan ketika makan malam berlangsung. Quintessa merasa lega. Sebab dia takut kalau kedoknya terbongkar dan berakhir di atas tumpukan kayu bakar. "Perlu kuantar?" tawar Gallen ketika keduanya berada di ambang pintu ruang makan. Quintessa menggeleng. "Tidak perlu, aku ingin mencoba mengingat jalannya." "Yakin?" Gallen bertanya dengan alis yang naik sebelah. Gadis bergaun ungu itu menganggukkan kepala dengan mantap. Namun Gallen tetap memaksa. Gayanya tak mau Quintessa tersesat, padahal dia hanya tak mau berpisah lebih cepat. "Aku akan mengawasi dari belakang. Kau jalan duluan saja," paksa lelaki itu sembari menepuk pundak Quintessa. Quintessa hanya bisa mengangguk. Berdebat dengan pangeran bukanlah ide yang bagus. Lebih baik dia menurut, bisa lebih cepat beristirahat pula. Lorong istana terlihat sangat sepi ketika malam hari. Meskipun demikian, ada banyak penjaga di berbagai sisi. Mereka kompak memberi hormat saat melihat Pangeran Gallen melintas. Memberikan scene ala drama kerajaan bagi Quintessa. "Tidurlah dengan nyenyak," ujar lelaki itu ketika mencapai ambang pintu. Suara Gallen terdengar sedih. Quintessa pun berbalik badan untuk memastikan. Benar saja, dia melihat wajah pangeran yang sedikit sayu. Dia pun memberanikan diri untuk bertanya, "Ada apa, Tuan? Mengapa wajah Anda begitu sedih? Ada sesuatu yang mengganggu?" "Tidak, tidak ada." Gallen terkesiap, lelaki itu menjawab spontan sambil menggelengkan kepala. Membuat Quintessa makin yakin kalau ada sesuatu yang Gallen pikirkan. Baru saja akan bertanya lagi, pangeran tampan tersebut terlebih dahulu memotong, "Satu lagi, jangan bicara formal padaku. Aku tahu kau belum terbiasa, tapi tolong biasakan dirimu." "Baik," jawab perempuan berparas cantik tersebut sembari menganggukkan kepala. "Itu lebih baik," komentar Gallen sembari merangkum jemari di rambut Quintessa. Gadis cantik itu terdiam di tempat saat merasakan bibir hangat Gallen menghampiri keningnya. Terasa begitu lembut dan ... agak menyenangkan. Bahkan tanpa terasa, Quintessa menaikkan jemari yang semula bebas di samping. Dia alihkan untuk meremas kemeja yang dikenakan oleh Gallen. Sementara Quintessa ingin tetap seperti ini lebih lama, Gallen sedang bertarung dengan pikirannya sendiri. Merasa menyesal telah menyia-nyiakan waktu yang telah dia lalui bersama Shareness. Semenjak pertama bertemu hingga membahas pernak-pernik pernikahan, tak sekalipun dia melakukan ini. Saat kehilangan, barulah dia merasakan kekosongan di dalam hati. Separuh jiwanya hilang, entah bersembunyi di mana. Apa pun yang dimulai pasti diakhiri. Begitu pula dengan perlakuan lembutnya ini. Perlahan sekali Gallen menjauhkan wajah. Menatap pada wajah gadis di hadapannya yang terlihat salah tingkah dengan pipi memerah. "Apa aku marah? Atau justru menyukainya?" tanya Gallen tanpa basa-basi. Akibat ucapan frontal pangeran, Quintessa membulatkan mata. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan ditanyakan oleh Gallen. "Jawab aku, Sa." Gallen mendesak sembari mengangkat tangannya. Mengukir lukisan abstrak di pipi putih milik Quintessa. Gadis bersurai pirang merinding seketika. Dia lantas mengambil langkah seribu. Tak lupa untuk menutup pintu. Meninggalkan Gallen yang belum beranjak dari tempatnya. Lelaki itu menatap kepergian Quintessa penuh tanya. Otaknya tidak bisa memahami jawaban yang diberikan. Seperti abu-abu, tak jelas antara hitam atau putihnya. "Jadi, kau menyukainya atau tidak?" lirih Gallen sembari menggenggam tangan kanan yang semula dia gunakan untuk menggelitik pipi Quintessa. Di balik pintu, gadis bersurai pirang sibuk mengatur napasnya. Jantung Quintessa berdegup tidak karuan akibat serangkaian perlakuan Gallen. Dia terlalu manis untuk ukuran orang asing. Menatap pada langit-langit kamar sambil membatin, "Semoga aku tidak berakhir seperti seekor semut yang mati karena manisnya gula." *** Esok harinya, Quintessa mengenakan gaun yang dikirimkan secara mendadak oleh maid istana. Ada keterlambatan dalam pengiriman gaun karena cuaca buruk yang melanda kota sebelah dua hari lalu. Sehingga barangnya baru sampai pagi ini. Padahal seharusnya, sudah datang kemarin sore. Selesai bersiap dengan dibantu para maid, Gallen pun menjemput di ambang pintu. Lelaki itu tak melepaskan pandangan dari gadis cantik di hadapannya. Bahkan kalau tidak ingat kalau mereka akan menghadiri acara penting, Gallen pasti sudah mencubit pipi dan mengacak rambut, sekadar menyalurkan rasa gemas yang tak dapat dikeluarkan karena Quintessa tidak menjawab pertanyaannya tadi malam. "Sudah siap, Sweetheart?" tanya Gallen untuk membuka percakapan. Gadis itu menganggukkan kepalanya malu-malu. Ada debaran di dalam hati ketika melihat Gallen terpana memandang dirinya. Quintessa merasa dikagumi oleh seorang lelaki. Suatu hal yang tidak dia dapatkan di dunia asalnya. Gallen lantas mensejajarkan diri dengan Quintessa. Menekuk tangannya, memberi kode pada gadis itu untuk segera bergandengan. Untung saja Quintessa paham. Jantungnya berdegup kencang saat meraih tangan Gallen. Lengan kokoh itu begitu terasa. Dia kini tidak heran saat Gallen dapat menggendongnya dengan mudah ala bridal style. Ternyata ototnya saja sekeras ini. Pasti rajin berolahraga. "Rileks. Apa aku menakutkan?" canda Gallen saat menyadari sikap kaku Quintessa. Bahkan gadis itu menggigit bibir bawahnya. Salah satu tanda seseorang sedang ragu atau gugup. Quintessa tersentak. Pandangannya pun naik, terkunci pada wajah tampan milik Gallen. Membuat aliran waktu seperti berhenti sejenak. Menjawab ragu, "Iya. Kau menakutkan, seperti monster." "Benarkah?" Alis Gallen terangkat sebelah ketika dia menjeda kalimatnya. Lelaki itu kemudian melanjutkan, "Apa ada monster yang setampan diriku ini?" Para maid yang baru membereskan pernak-pernik berdandan langsung membungkam bibirnya sendiri. Gombalan dari Pangeran Gallen membuat mereka bernostalgia. Merasakan kembali jadi anak muda yang sedang mencari arti cinta dan kebahagiaan. Itu pula yang terjadi pada Quintessa. Tapi dia segan untuk menutup bibirnya sendiri. Dia lebih memilih untuk memalingkan wajah. Menyamarkan rona kemerahan di pipi. "Mana kutahu. Barangkali saja, memang ada monster tampan," sahut gadis itu tanpa memandang wajah Gallen. Mengulas senyum tipis. "Kalau ada monster yang lebih tampan dariku, apa kau akan memilihnya dibanding aku?" tanya Gallen lagi. Pipi yang semula memerah itu bertambah merah. Quintessa langsung mengalihkan topik pembicaraan, "Kapan kita akan berangkat?" Sengaja dia katakan agar terhindar dari pertanyaan-pertanyaan aneh lainnya. Gallen tertawa kecil. Pandai sekali gadis ini menghindari pertanyaan darinya. Tapi tak apa, biarlah waktu yang menjawab. Toh meski Quintessa memilihnya, Gallen tidak bisa berbuat apa-apa. Sesuai perjanjian awal, dia akan mengusahakan kepulangan Quintessa ke dunia asalnya. Dan yang penting, mengakhiri hubungan dengan gadis itu. Meneruskan sisa hidup bersama Shareness. "Baiklah, ayo. Berhati-hatilah karena lantainya agak licin," sambut Gallen sambil mulai melangkah. Kedua orang itu pun berjalan dengan cukup canggung di lorong istana. Hingga akhirnya, mereka sampai di gazebo. Tempat yang kemarin sempat digunakan Quintessa berlatih meminum teh bersama Gallen Windemere. Di kursi, seorang lelaki tampan tersenyum. Quintessa terpana sebentar. Sebab dia sangat tampan. Bahkan menurutnya, melebihi Gallen. Ehem. Pangeran berdehem saat melihat calon istri palsunya mengagumi lelaki lain. Hatinya jadi panas dan langsung memberi kode keras. "Anda tertarik pada saya, Nona?" tanya lelaki itu tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN