Cantik

1036 Kata
Cantik. Gallen tidak menampik fakta itu. Wajah Quintessa dengan Shareness juga bagai pinang dibelah dua. Membuat Gallen merasakan kehadiran kekasihnya untuk sesaat. Namun kemudian, dia langsung menguasai dirinya. Gallen melepaskan tangannya perlahan. Membuat Quintessa tersipu dan menunduk dalam. "Maaf," ujarnya seraya menggigit bibir. "Tak apa. Kau hanya belum terbiasa," jawab Gallen sembari memandang ke arah lain. Quintessa menghirup napas panjang. Seumur hidup, belum pernah terlintas dalam pikirannya untuk terlempar seperti ini. Menjadi pengantin pengganti, pula. Gadis itu kemudian memandang pada langit gazebo. Sejenak, dia bertanya-tanya mengapa semua ini bisa terjadi? Kenapa pula harus dia yang berada dalam posisi ini? Quintessa tidak mengerti sama sekali. Tanpa sengaja, Gallen melihat ekspresi sedih gadis itu. Dia lantas bertanya, "Ada yang mengganggu pikiranmu, Sweetheart?" Quintessa tersentak, tidak menyangka kalau sang pangeran akan memperhatikan dengan detail seperti itu. Dia lantas berkata, "Saya ... saya hanya tidak tahu kenapa bisa sampai di sini." "Mungkin sudah takdir. Atau, aku memang harus merelakan Shareness," jawabnya getir. Quintessa dapat merasakan kesedihan di dalam ucapan Gallen. Dia berinsiatif untuk bertanya, "Anda melakukan hal buruk pada Putri Shareness?" "Mungkin," jawab Gallen, menggantung. Batinnya menerawang ke masa lalu. Saat di mana dia mengutarakan perasaan pada Shareness. Gadis itu tak langsung mengiyakan. Bahkan Gallen seratus persen yakin kalau Shareness memiliki cinta lain. Menarik napas panjang. Mengingat semua itu hanya membuat dadanya terasa sangat sesak. Terasa seperti ada beban berat yang meminta dikeluarkan dari sana. Quintessa jadi sadar kalau dia telah bertanya hal yang terlalu pribadi. Dengan canggung, dia berlatih mengangkat cangkirnya lagi. Masih kaku, memang. "Practice makes perfect," gumamnya di dalam hati sambil meminum teh berkualitas tersebut. *** Setelah seharian mengajarkan berbagai hal pada Quintessa, Gallen mengantar gadis itu ke sebuah ruangan. Itu adalah tempat yang paling Gallen benci. Sebab, dia tidak bisa melihat apa yang tengah dilakukan oleh pujaan hatinya. Mengembuskan napas kencang. Sebelah tangannya bergerak lembut, membelai kepala Quintessa bagian belakang. Membuat gadis itu terkejut, bagai terkena sengatan listrik. "Mandilah. Aku akan menjemputmu jam tujuh. Persiapkan dirimu," pesan Gallen. Sebelum pergi, dia menyempatkan diri untuk mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi. Terasa hangat meski hanya sekejap mata. Bahkan saking cepatnya, Quintessa sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk merespon. Tahu-tahu, lelaki itu sudah pergi. Quintessa menoleh, mendapati punggung Gallen yang telah menjauh. Bahkan derap kakinya yang tegas, hampir tak terdengar lagi. Tenggelam di dalam keremangan malam. Malam pertamanya di negeri asing ini. "Itu tadi ... kenapa?" Tangan Quintessa membelai lembut bagian yang tadi sempat dikunjungi oleh Gallen. Sampai sekarang, dia masih mengingat rasanya. Sebab ini yang pertama kali. Belum pernah ada orang lain yang melakukan. Sang ibu sekali pun. Hati gadis itu dibuat berantakan akibat tingkah Gallen yang menyamakan dirinya dengan Shareness. Membuat Quintessa mengacak rambutnya frustrasi. "Lama-lama, aku bisa jatuh hati," keluh Quintessa sambil masuk ke dalam ruangan milik Shareness. Mewah. Sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan kamar ini. Quintessa sampai dibuat melongo akan furniture yang terdapat di dalam kamar milik Shareness. Sungguh di luar dugaan dirinya. Rasa kesalnya pada Gallen pun hilang, berganti dengan kekaguman yang berlebih pada ruangan ini. Semua barang tertata dengan rapi. Juga, tidak ada debu sedikit pun. Sangat bersih, sungguh kamar idaman. Langkah kaki Quintessa membawa dirinya ke sebuah ruangan di dalam kamar. Itu adalah kamar mandi. Ada bathub di sana, sangat terawat dan berhiaskan mawar emas. "Keren," puji gadis itu sambil menyentuh bathub tersebut. Bel bertentang enam kali. Quintessa tersentak. Sebab waktunya tidak banyak. Dia harus bersiap-siap, atau akan terlambat menyambut Gallen. Dengan panik, gadis itu menutup pintu dan mengisi bathub dengan air. Selagi menunggu, dia mengambil peralatan mandi dan melepas pakaian. Berendam di dalam bathub dengan durasi yang singkat. "Sial." Quintessa mengumpat saat membuka botol sabun. Harum mawar menyeruak di sore hari ini. Memenuhi indra penciumannya, hingga terasa menyesakkan. Namun Quintessa tidak memiliki pilihan lain. Ini semua demi kelangsungan hidupnya sendiri. Meski sulit, gadis itu berhasil menyelesaikan agenda mandi yang cukup menyiksa. Quintessa pun keluar, bermaksud mengambil baju. Namun sampai berkeringat, dia tidak bisa membuka pintunya. Seperti dikunci, tapi Quintessa tidak melihat keberadaan lubang di sana. "Kenapa tidak bisa dibuka?" tanyanya heran sambil mencoba mencari lubang kunci. Saat itu pula, pintu dibuka tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Quintessa langsung menoleh. Mendapati Gallen yang berada di ambang pintu. Tidak berkedip menatap dirinya. Quintessa sama sekali tidak menyadari kalau Gallen tengah melihat pada dirinya yang hanya mengenakan handuk sebatas lutut. Dengan percaya dirinya, gadis itu melangkah mendekat. "Bisa bantu aku membuka lemari?" tanyanya penuh harap. Gallen mereguk saliva. Lelaki itu lantas mengalihkan pandangan dari Quintessa. Takut kalau kebablasan bila menatap Quintessa terus menerus. Dia sendiri yang repot nantinya. Berdehem sebentar, lelaki itu lalu menjawab, "1221." "Apa?" tanya Quintessa tidak mengerti. Pangeran tampan tersebut pun memperjelas maksudnya. Dia berkata, "Putar saja mawarnya. Satu kali ke kanan, dua kali ke kiri, satu kali ke kanan." "Ada banyak hiasan mawar di sana. Ayo tunjukkan padaku," desak gadis itu. Gallen terkesiap saat tangannya ditarik oleh Quintessa untuk masuk ke dalam kamar. Padahal, gadis itu hanya mengenakan sehelai handuk. Hanya butuh satu kali tarikan untuk dapat melihat apa yang selama ini tertutup rapat. Lelaki itu menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran liar yang baru saja mampir. Gallen masih mencoba untuk mengendalikan dirinya sendiri. Jangan sampai dia melakukan hal yang akan merugikan dirinya di kemudian hari. "Yang mana?" Pertanyaan Quintessa itu cukup membantu Gallen untuk kembali mendapatkan kesadarannya. "Ini," ujar sang pangeran sembari menunjuk pada sebuah mawar emas yang berada di tengah. Perlahan, lelaki itu memutarnya ke kanan hingga terdengar bunyi klik. Setelahnya, Gallen memutar ke kiri sebanyak dua kali bunyi klik. Terakhir, dia memutar mawar tersebut ke kanan. Membuatnya kembali ke posisi semula. Setelah itu, Gallen memutar kenop pintu. Membuat mata Quintessa dimanjakan oleh berbagai gaun cantik. "Ini semua boleh kupakai?" tanyanya sembari menyentuh sebuah gaun berwarna putih dengan gradasi merah muda. Pangeran tampan tersebut menganggukkan kepala. "Kecuali satu." "Yang mana? Aku takut kalau tidak sengaja memakainya." Quintessa menatap intens pada Gallen dengan mata yang bulat dan manis. Lelaki itu pun langsung berdehem. Menyingkirkan pemikiran absurd-nya lagi. "Jangan pakai yang warnanya full silver," balas Gallen sambil berbalik, bermaksud untuk keluar dari dalam ruangan. Sejurus kemudian, langkah lelaki itu terhenti. Sebab tangannya dipegang oleh Quintessa. Terasa hangat dan sedikit panas. "Sial! Apa mau gadis ini?" batin Gallen sambil mencoba menahan dirinya lebih lama lagi. "Pilihkan, ya?" ujar Quintessa manja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN