Pangeran Gallen membawa Quintessa menuju sebuah pilar di dekat dapur. Di sana, dia menceritakan segala kebiasaan Shareness ketika mengambil senampan teh untuk teman membaca di petang hari.
Quintessa memiliki keraguan di berbagai hal, tapi dia berniat untuk mencobanya terlebih dahulu. Sedikit perbedaan mungkin bukan masalah besar.
Dengan percaya diri, perempuan berambut hitam tersebut bersandar di ambang pintu. Netranya mengedar pandang sambil menebar senyum kepada para juru masak yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Kau terlambat tujuh menit, Nona," ucap Madame Varlette, perempuan yang bertugas menyiapkan keperluan minum teh bagi Shareness.
Quintessa mengembangkan senyum manis. Perlahan, gadis cantik tersebut melangkahkan kaki untuk memasuki dapur. Menerima senampan teh dari Madame Varlette.
"Terima kasih, Madame," balasnya singkat, sesuai instruksi dari Pangeran Gallen.
Tadi lelaki itu berpesan bahwa apa pun yang terjadi, Shareness pasti tak mau menjelaskan sesuatu secara panjang kali lebar. Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan Quintessa yang lebih memilih berpidato daripada disalahkan terus menerus.
"Bagaimana keadaan Anda, Nona? Saya dengar dari Madame Emerald kalau Anda jatuh dari pohon," tanyanya lagi.
Quintessa meringis. "Saya baik-baik saja, Madame. Permisi," sahut gadis cantik tersebut seraya pamit undur diri.
Madame Varlette menggeleng-gelengkan kepala. Sejak kecil, Shareness selalu bersikap seperti ini. Tertutup dan tak pernah membagi perasannya pada orang lain.
Sementara itu, Quintessa merasa sangat lega setelah keluar dari dapur. Dia pun mempercepat langkah, buru-buru menemui Gallen yang terlihat sedang menahan senyum.
"Kenapa, Tuan? Apa Anda mengerjai saya?" duga Quintessa sembari memicingkan mata. Rasanya aneh melihat Gallen cengar-cengir tidak karuan seperti ini. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Pangeran tunggal itu tak bisa menahan tawa. Dia akhirnya merebut nampan yang dibawa Quintessa. Membuat gadisnya menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Bagaimana rasanya menjadi orang lain? Seru?" tanya Gallen sembari terus berjalan.
Wajah Quintessa langsung merah padam. Jadi, Gallen menertawai dirinya hanya karena hal sepele macam ini? Receh sekali humornya.
"Anda suka kalau saya berada dalam kesulitan, Tuan?" tanya Quintessa sebal. Dia bahkan tak mau lagi menatap pada pangeran.
Gallen mengangguk. "Bisa dibilang begitu. Salahmu karena datang ke sini."
"Maaf saja, tapi saya tidak pernah berpikiran untuk dapat sampai ke tempat yang terkesan kuno seperti ini," balasnya sewot.
Mendengar hal itu, Gallen sedikit kesal. Apa maksud dari kata kuno? Mungkinkah Quintessa tidak menyukai kerajaannya ini?
Perubahan ekspresi pangeran tampan itu langsung terbaca oleh Quintessa. Dia langsung menyimpulkan kalau Gallen salah paham. Sebelum masalah ini berlarut-larut, Quintessa menyambung, "Kuno bukan berarti saya tidak menyukainya. Lebih seperti mimpi bagi saya untuk berada di tempat seperti ini."
"Sungguh, Sweetheart?" tanya Gallen memastikan.
Quintessa menganggukkan kepala. "Seperti saya sedang melakukan perjalanan ke masa lalu. Tapi itu tidak mungkin terjadi, 'kan?"
Kali ini, giliran Gallen yang menganggukkan kepala. Dia setuju dengan ucapan Quintessa mengenai tidak dapat kembali ke masa lalu. Yang bisa dilakukan hanya berusaha keras supaya penyesalan masa lalu tidak kembali terulang di kemudian hari.
Tanpa terasa, sampailah mereka di sebuah gazebo yang dikelilingi oleh semak mawar. Kebetulan sebagian bunganya sedang mekar. Menghasilkan aroma harum yang masuk ke dalam hidung.
Quintessa memejamkan mata. Menghirup dalam aroma bunga yang sudah lama tak dia hirup selama beberapa tahun terakhir. Sebab, aroma mawar membuatnya bernostalgia tentang Asquilla Verdana.
"Kau menyukainya juga, Sweetheart?" tanya Gallen.
Tangannya meletakkan nampan di meja. Sedangkan matanya mengamati Quintessa yang terlihat menikmati udara sekitar.
Gadis itu pun menggeleng. "Aroma mawar hanya akan mengingatkan saya pada luka lama, Tuan."
"Benarkah? Aku minta maaf, tapi ...," ujar Gallen menggantung.
"Tapi apa?" kejar Quintessa. Tidak sabar untuk mendengar kelanjutan perkataan Gallen.
Mau tak mau, pangeran tersebut memberitahu, "Shareness selalu memakai parfum beraroma mawar."
Mata Quintessa langsung membola. Itu artinya, dia harus mengakrabkan diri dengan aroma menyebalkan satu itu?
"Baiklah," ujarnya kesal sambil mengacak rambut pirangnya.
Gallen tersenyum melihat tingkah Quintessa. Dia lalu menepuk bangku, memberi kode pada gadis itu untuk segera duduk di sampingnya.
Quintessa menurut saja. Toh lumayan, setelah ini dia akhirnya bisa meminum sesuatu setelah sekian lama berteriak tidak karuan. Tenggorokannya kering, seperti gurun yang tandus.
"Kalau tak mau berlama-lama memakai parfum beraroma mawar, kau harus cepat menemukan Shareness," ucap Gallen sembari menuangkan teh pada cangkir miliknya.
Gadis di samping pangeran jadi cemberut. Dia merajuk, "Hanya saya yang mencari?"
"Tidak, aku tentu menemani," sahut Gallen tanpa mengurangi fokusnya dari kegiatan menuangkan teh.
Quintessa jadi sedikit lega. Tapi di saat bersamaan, dia juga heran, "Bagaimana cara kita mencari Putri Shareness? Lalu, apa Anda sungguh tidak apa-apa kalau menikah dengan saya?"
Gallen mengangguk. "Aku yakin Shareness mengalami kejadian ganjil sepertimu, jadi aku akan meminta bantuan temanku. Bersabarlah, lalu kita membicarakan hal ini lagi."
Gadis itu mengangguk setuju. Tangannya lalu mengambil secangkir teh yang mengepulkan asap tipis. Pertanda suhunya masih panas.
"Aku tidak keberatan menikah denganmu, asalkan misteri hilangnya Shareness bisa terungkap. Dengan kata lain, aku membutuhkanmu untuk mengulur waktu," lanjut pangeran sambil menatap pada Quintessa. Barangkali perempuan itu marah karena dimanfaatkan seperti ini.
Namun prediksi Gallen meleset. Quintessa malah menyahut santai, "Tidak masalah, Tuan. Asalkan saya tidak berakhir di tumpukan kayu bakar."
Lelaki itu terkesima. Quintessa yang tadi memberontak untuk menjadi istrinya, kini malah menerima dengan lapang d**a. Sepertinya, penolakan tadi cuma gertakan belaka.
"Terima kasih ... aku tidak tahu lagi harus berkata apa," ujar Gallen sambil mengalihkan pandangan pada teko teh buatan Madame Varlette.
Quintessa sedang meniup teh miliknya ketika Gallen mengucapkan terima kasihnya. Dia pun melipat kedua tangan di atas meja. Tak lupa untuk menunjukkan senyum terbaiknya.
"Anda adalah orang pertama yang mempercayai saya di tempat ini. Sepertinya, saya harus membalas kebaikan Anda itu. Jadi hanya ini yang bisa saya lakukan," balasnya.
Pangeran Gallen tertawa kecil. Lalu, dia menopang dagu. "Shareness asli pasti masih fokus pada buku yang dia baca meski aku mengajaknya berbincang. Kau masih amatir, Sweetheart."
Mendengar komentar itu, Quintessa menampakkan deretan giginya yang putih. Dia lalu berkata, "Terima kasih karena sudah mengingatkan saya, Tuan."
"Dia juga tidak memanggilku Tuan atau berbicara formal," koreksi Gallen lagi.
Quintessa benar-benar kesal. Dia lantas menyambar buku yang ada di atas meja. Ada pun tangan kirinya mengambil secangkir teh.
Bertanya untuk memastikan, "Seperti ini?"
"Hampir," ujar Pangeran Gallen yang sangat hapal dengan seluruh gerak-gerik Shareness.
Lelaki itu lantas membenahi jemari Quintessa. Gallen memaksa untuk menarik jari kelingking Quintessa, hingga akhirnya dapat mendekati postur Shareness.
Karena terlalu fokus mengangkat jari kelingking, gadis itu kehilangan pegangan. Gallen menyadari hal tersebut dan segera menangkap cangkir Quintessa sebelum isinya tumpah.
Akibatnya, jemari mereka bertumpukan, saling menggenggam. Membuat pandangan keduanya langsung bertemu. Memberikan gelitik aneh yang membangkitkan debaran di dalam d**a.