"Tolong turunkan saya, Tuan!" cicit Quintessa sembari menjejak-jejakkan kakinya di udara.
Pangeran Gallen terkekeh. Baginya, Quintessa sangat menggemaskan. Tak ubahnya seperti seekor kucing anggora yang menggeliat saat tidak ingin digendong.
"Aku tidak mau kau kabur saat menunjukkan tempat di mana kau jatuh dari pohon," balas Pangeran Gallen sembari berdiri di depan pintu.
Quintessa menyipitkan mata. Dirinya merasa dongkol karena lelaki satu ini sulit untuk percaya dengan apa yang dia katakan. Padahal Quintessa tidak berbohong. Dia menceritakan yang sebenarnya. Tidak dikurangi atau pun ditambahi.
Pada saat bersamaan, Pangeran Gallen memberi perintah pada para penjaga untuk membukakan pintu. Sebab dia tengah menggendong Quintessa dan tangannya hanya dua. Tidak bisa membuka pintu yang tertutup seperti ini.
"Baik, Tuan," sahut kedua penjaga sambil bergerak. Masing-masing membuka satu pintu.
Setelah terbuka sempurna, Quintessa memejamkan mata. Sebab sinar matahari terasa langsung menusuk mata. Dia tidak ingin kehilangan penglihatannya dalam waktu dekat. Masih sayang dengan kesehatan mata.
Pangeran Gallen tersenyum ketika melihat tingkah calon istrinya. Dia lalu segera keluar dari ruangan ini. Membawa Quintessa menuju halaman belakang istana. Sebab hanya di sanalah mereka dapat menjumpai pohon apel di kompleks istana.
Sepanjang perjalanan, tingkah mereka tidak luput dari penglihatan para pelayan istana. Rata-rata, mereka iri dengan Quintessa. Sebab tak lama lagi, gadis itu akan menikah dengan pewaris takhta Kerajaan Windemere.
Gallen terlihat tidak peduli, sedangkan Quintessa membenamkan wajahnya dalam-dalam karena merasa malu dengan apa yang dilakukan oleh para pelayan. Sejak kecil, dia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Rasanya geli saat diperhatikan seperti ini.
"Tahan sebentar, Sweetheart," lirih Pangeran Gallen.
Quintessa tidak menjawab. Untuk apa dia membuka mulut jika ujungnya sama? Lebih baik, dia sedikit menghemat tenaga untuk tak berbicara terlebih dahulu.
Sementara itu, Gallen sengaja memperlambat langkahnya. Ingin menikmati waktu menggendong Quintessa. Sebab dia belum pernah menggendong seorang wanita, kecuali di dalam angan. Saat keinginannya itu terkabul, Gallen tidak membiarkannya berlakhir dengan cepat.
"Tuan, saya sungguh tidak akan lari. Tolong turunkan saya," pinta Quintessa lagi. Gadis itu masih mencoba peruntungan untuk dapat menaklukkan Gallen.
Pangeran tunggal Kerajaan Windemere tetap teguh pada pendiriannya. Dia tidak ingin menurunkan Quintessa sebelum mencapai halaman belakang istana. Akibatnya, terjadi perdebatan sengit sepanjang perjalanan yang diakhiri dengan kekalahan Quintessa.
Gadis itu menggembungkan pipi. Terlihat seperti seekor tupai yang menyimpan banyak kenari di dalam mulutnya. Gallen jadi gemas dan ingin mencubit. Namun dia segera sadar kalau sedang menggendong Quintessa. Gadis itu bisa jatuh ke tanah jika dirinya nekat mencubit pipi. Sepertinya, Gallen harus sedikit menahan diri.
Tidak berapa lama, sampailah mereka di halaman belakang istana. Tempat ini sangat sejuk dengan rumput hijau dan semilir angin sore hari. Ditambah dengan rimbunnya dedaunan pohon apel. Semakin membuat suasana jadi nyaman untuk bersantai.
"Jadi, pohon apel mana yang rantingnya kau patahkan?" tanya Gallen.
Pangeran tampan tersebut menurunkan Quintessa. Lalu, gadis itu mengedar pandang ke sekeliling. Tempat ini terasa sedikit asing. Atau, cuma perasaannya saja?
Bertanya sambil menoleh, "Maaf, Tuan. Sepertinya tadi, saya tidak jatuh di sini. Atau ini karena saya melihat dari sudut pandang yang berbeda?"
Gallen ikut mengernyitkan dahi. Masa iya ada pohon apel yang tumbuh selain di tempat ini. Apa Quintessa salah ingat?
"Coba saja kau lihat dari berbagai sudut. Barangkali akan ketemu," saran Gallen. Dagunya menunjuk pada beberapa arah yang berbeda.
Tanpa diminta pun, Quintessa pasti akan melakukannya. Sebab dia juga penasaran dengan pohon mana yang membuatnya terbanting cukup keras di atas tanah. Bahkan Quintessa sempat berpikir kalau tulangnya akan patah. Tapi ternyata tidak. Dia masih sehat walafiat.
Cukup lama gadis itu berjalan sambil mengedar pandang ke sana ke mari. Tapi pohon apel yang tadi tidak kunjung ditemukan. Dia lelah dan akhirnya kembali pada Pangeran Gallen.
"Tidak ketemu?" terka lelaki itu saat melihat ekspresi wajah Quintessa. Terlihat bagaikan benang kusut.
Quintessa menganggukkan kepala, membenarkan tebakan Pangeran Gallen. Membuat lelaki itu langsung menepuk-nepuk pundak. Mencoba menghibur gadis cantik berambut pirang tersebut.
"Nanti biar aku yang tanya ke Madame Emerald," bujuk Gallen.
Gadis di hadapannya langsung mendongak. Tatapan yang semula penuh keputusasaan itu mulai menampakkan rona kekesalan.
Quintessa memprotes, "Kalau Anda bisa bertanya, untuk apa susah-susah membawa saya kemari, Tuan?"
Gallen terkekeh. Ucapan Quintessa ada benarnya juga. Dia jadi merasa salah mengambil keputusan, tapi malu untuk mengakui.
"Aku cuma mau gendong kamu, Sweetheart. Jangan marah, ya," bohong Gallen seraya melingkarkan kedua tangannya di punggung Quintessa.
Memutar bola matanya ke atas sambil menggembungkan pipi. Dia sungguh kesal. Ternyata lelaki ini cuma mau modus. Dasar!
Pangeran Gallen kembali menggoda, "Ada apa dengan pipimu? Apa kau ingin aku menusuknya seperti ini?"
Usai mengatakan kalimat itu, Gallen menusukkan jari telunjuknya di pipi. Udara yang terkumpul di dalam rongga mulut Quintessa langsung kocar kacir. Bersamaan dengan sorot mata tajam yang mulai dia keluarkan.
"Ck! Ini semua salahmu karena kau begitu menggemaskan," ujar Gallen sebelum gadis di hadapannya marah besar.
Quintessa terlihat tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh lelaki satu ini. Padahal di dalam hati, dia memekik kegirangan karena dibilang menggemaskan oleh seorang lelaki.
Pangeran Gallen kemudian menambahkan, "Aku jadi penasaran. Apakah anak-anak kita akan menggemaskan seperti dirimu? Kurasa, iya."
"Apa?" serunya di dalam hati.
Quintessa tersentak sambil membulatkan kedua matanya lebar-lebar. Dia sungguh terkejut dengan pertanyaan Pangeran Gallen barusan.
"Bukankah saya hanya menjadi pengantin pengganti? Kita tidak perlu memiliki anak. Cukup bersandiwara hingga menemukan Putri Shareness yang asli!" protes Quintessa.
"Jadi, kau setuju menikah denganku, Sweetheart?" tanya Gallen.
Mata Quintessa membola untuk kesekian kalinya. Sudah tidak terhitung berapa kali Gallen membuatnya terkejut. Sungguh orang yang menyebalkan.
Pangeran Gallen terkikik geli. Sebelah tangannya lalu menyibak poni yang menutupi dahi. Membuat jantung Quintessa kembali berpesta. Lelaki satu ini sungguh tahu caranya mengambil hati seorang perempuan.
Bertanya di dalam hati, "Apa Anda sering melakukan ini dengan perempuan lain?"
Entah kenapa, sudut hati Quintessa terasa sesak ketika memikirkan Pangeran Gallen tengah bersandar manja di bahu Putri Shareness. Atau, mengambil daun yang kebetulan jatuh di rambutnya. Itu sangat romantis dan sukses membuat hati Quintessa bak teriris pisau tajam.
"Ada apa, Sweetheart?" tanya Gallen ketika menyadari bahwa Quintessa memandang kosong pada dirinya.
Gadis itu pun terkesiap. Lamunannya buyar seketika. Dia langsung balik bertanya, "Ma-maaf, Tuan. Apa yang baru saja Anda katakan?"
Gallen mengembuskan napas kasar. "Lupakan," pintanya sambil mengurai pelukan.
Gallen kemudian memandang pada mentari senja. Di saat seperti ini, biasanya Shareness tengah membaca buku sambil minum teh.
"Membaca! Bagaimana bisa aku melupakan hal itu?" sentaknya kaget.
Quintessa ikut berjengit. Dia kira, Gallen marah. Tapi ternyata tidak. Lelaki itu hanya sedang menyalurkan apa yang ada di dalam pikiran.
Menarik tangan gadis itu. "Ikut aku! Atau semua orang akan curiga kalau kau bukan Shareness!"