Selagi Quintessa mencuci piring, Villana membereskan sisa kayu bakar. Diikatnya dengan baik, lalu dicoba untuk dibawa. Hasilnya tidak cukup buruk. "Darimana kau mendapatkan kayu-kayu itu? Kulihat di sini, tidak ada pohon. Paling-paling, kaktus berduri tajam," tanya Gallen seraya memasukkan pakaian basah mereka ke dalam tas khusus. Villana hanya mengulum senyum. Gallen pun berdecak sebal. Kadang-kadang, Villana memang pelit membagi rahasianya. Gallen jadi super kepo mengenai asal muasal kayu bakar itu. "Dasar pelit," gumam lelaki itu sambil meneruskan aktivitasnya. Setelah selesai, mereka bertiga kembali berjalan sebelum mentari terbit dari ufuk timur. Jika terlambat berangkat, Villana takut kalau mereka malah terpanggang di bawah teriknya sinar raja siang. Tidak banyak hal menarik di

