Dahi Quintessa mengernyit saat perjalanan mereka dihadang oleh sekumpulan orang yang berpakaian cukup seragam. Sudah begitu, wajahnya tidak menampilkan keramahan. Menimbulkan perasaan tidak enak di dalam hati. "Apa yang kalian inginkan?" Villana langsung maju, melindungi Nona dan Tuannya jika diperlukan. Wajah tegasnya mengundang tawa kumpulan lelaki itu. Menyebabkan suasana pasar yang semula riuh ramai jadi sepi. Berganti derai tawa mereka. "Lihat sampah itu! Sok-sokan mau maju," ledek salah satu pria bertopi. Yang memakai celana merah selutut menimpali, "Habis ini nangis, ha ha!" Muka Villana merah padam saat direndahkan seperti ini. Namun dia berusaha menahan diri. Villana ingin tahu apa yang membuat mereka repot-repot menghadang jalan. Sebab dia rasa, mereka tidak memiliki masalah

