Pertemuan ke dua.

1051 Kata
"Kau kuliah di sini?" tanya Samudera pada Jessica. "Kuliah, aku? Tidak. Aku salah satu dosen disini," jawab Jessica. Samudera sampai mendekatkan wajahnya pada Jessica. Karena Samudera tidak percaya kalau Jessica adalah dosen. Karena wajah Jessica terlalu muda untuk menjadi dosen. "Kau pasti bohong," ucap Samudera tidak percaya. "Aku tidak bohong, Aku memang dosen di sini," tegas Jessica. "Ngomong-ngomong namamu Jessica?" tanya Samudera untuk memastikan apakah benar wanita cantik itu bernama Jessica. Setelah tadi Samudera mendengar teman wanita cantik itu memanggilnya dengan Jessica. "Ya, aku Jessica." saut Jessica sambil mengulur kan tangannya untuk bersalaman dengan Samudera. "Aku Samudera," balas Samudera yang membuat semua mahasiswi disana bersorak. Karena cemburu pada dosen mereka, yang bisa mengobrol dan bersalaman dengan Samudera. Padahal dari tadi mereka sudah berteriak memanggil-manggil nama Samudera. Tapi Samudera sama sekali tidak perduli, bahkan menoleh pun tidak ke arah mereka. Tapi saat melihat Jessica, Samudera langsung mendekati dosen cantik itu, dan bersikap ramah padanya. Jessica sampai menutup telinganya. Karena mendengar suara gemuruh dari mahasiswi yang sepertinya tidak rela melihat dia bersalaman dengan Samudera. "Apa kau sangat terkenal?" tanya Jessica pada Samudera. "Tidak juga. Karena buktinya kau tidak mengenaliku, itu artinya aku belum terlalu terkenal, bukan?" tanya Samudera sedikit menyindir Jessica. Karena Jessica tidak tahu kalau dia seorang artis. Padahal banyak poster dan foto-fotonya terpampang di jalan. Jessica sampai malu. Karena tidak tahu kalau Samudera adalah seorang artis terkenal. Karena Jessica memang tidak terlalu aktif memantau sosial media, apa lagi televisi. Bahkan terakhir kali Jessica menonton bioskop saat dia dan Antonio masih pacaran dulu, dan itu sudah sangat lama sekali. Jadi wajar jika sekarang Jessica tidak tahu siapa itu Samudera. "Itu bukan karena kau yang belum terlalu terkenal, itu karena aku yang terlalu ketinggalan berita," ucap Jessica. "Kau tidak tinggal di dalam batu, kan?" tanya Samudera sambil menatap Jessica tajam. "Maksudnya?" tanya Jessica tidak mengerti dengan pertanyaan Samudera. "Iya, apa kau tinggal di dalam batu? Sampai kau tidak mengenaliku?" tanya Samudera yang setelah itu pergi meninggalkan Jessica. Karena Samudera sudah di panggil oleh kakak tingkatnya. "Dasar aneh!" ucap Jessica pada Samudera sambil menatap kepergian pemuda tampan itu. "Bukan Samudera yang aneh! Tapi kau," timpal sahabat Jessica yang bernama Mila, yang sedari tadi sudah seperti tidak ada diantara Jessica dan Samudera. Karena Jessica sampai lupa untuk mengenalkannya pada Samudera, begitu juga dengan Samudera yang sampai lupa tidak berkenalan dengannya. Jessica mengerutkan dahinya setelah mendengar ucapan Mila."aku, aneh? Di mana letak anehnya?" tanya Jessica tidak terima. Jessica sampai berputar di depan Mila untuk menujukkan penampilannya. "Bukan soal penampilanmu, Jessica! Tapi soal kau yang seperti hidup di jaman batu," jawab Mila kesal. "Apa maksudnya?" tanya Jessica tidak paham. Mila yang kesal sampai mengeratkan giginya, bengepalkan kedua telapak tangannya. Karena memiliki teman seperti Jessica, yang pintar dalam akademis. Tapi bodoh dalam menjalani kehidupan. "Apa maksudnya, Mila?" tanya Jessica yang ingin Mila menjelaskan apa maksud dari Kata-katannya barusan. "CARI TAHU SENDIRI! AKU MALAS MENJELASKANNYA PADA MU," teriak Mila pada Jessica sambil pergi ke ruang dosen. Meninggalkan Jessica yang masih menatapnya penuh tanya. Setelah pertemuan di lapangan tadi pagi. Samudera dan Jessica tidak bertemu lagi sampai mereka sama-sama pulang. Padahal Samudera berharap bisa bertemu dengan Jessica lagi. Tapi ternyata tidak. Karena hari ini memang hari pertama dia masuk kuliah. Jadi belum ada mata kuliah yang harus Samudera pelajari. Seperti biasa Jessica selalu pulang tepat waktu. Setelah sampai di rumah, Jessica akan mandi, menyiapkan makan malam untuk dia dan Antonio, meskipun Antonio jarang memakan masakannya. Karena Antonio lebih sering makan malam di luar daripada memakan masakan istrinya. Antonio akan pulang saat Jessica sudah tertidur pulas, tidak pernah ada obrolan tentang bagaimana hari yang mereka lewati. Karena setelah pulang. Antonio langsung mandi dan pergi ke ruangan kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tadi tertunda. Bahkan terkadang Antonio tidur di ruangan kerjanya membiarkan Jessica melewati malamnya sendirian. Dulu saat awal-awal Jessica menikah dengan Antonio. Jessica sering sekali menangis, karena sikap Antonio yang dingin padanya. Tapi setelah tiga tahun menikah, Jessica sudah terbiasa dengan sikap tidak perduli suaminya itu. "Pagi!" sapa Antonio pada Jessica saat mereka bertemu di meja makan. "Pagi," saut Jessica pelan. "Semalam kau tidak makan?" tanya Jessica yang melihat masakannya masih utuh. "Tidak. Semalam aku sangat lelah, jadi tidak berselera untuk makan," jawab Antonio sambil duduk di sebelah Jessica. Jessica hanya diam saat mendengar jawaban suaminya itu. Meskipun sebenarnya Jessica sedih. Karena masakannya sama sekali tidak disentuh suaminya. "Antonio!" panggil Jessica ragu. Pada Antonio yang terlihat sibuk dengan bekas di tangannya. "Hem," "Sudah lama kita tidak pergi jalan-jalan. Apa akhir pekan ini kau bisa menemaniku untuk jalan-jalan ke pantai?" tanya Jessica. Antonio menaruh berkasnya, kemudian fokus pada Jessica."Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu untuk jalan-jalan. Karena ada sedikit kendala dalam penjualan produk ku, jadi kau pergi dengan Mila saja." ucap Antonio. "Apa di akhir pekan kau tetap bekerja?" tanya Jessica. "Ya, ada rapat dengan artis baru yang akan menjadi brand ambassador produk ku. Jadi aku dan yang lain akan tetap masuk bekerja. Karena dia hanya punya waktu di akhir pekan untuk bertemu dengan kami," jelas Antonio pada Jessica yang terlihat kecewa. "Pergi dengan Mila saja, karena aku benar-benar sibuk," "Memangnya kapan kau tidak sibuk?" tanya Jessica sambil meraih tasnya yang dia taruh di atas meja. Jessica pergi dengan rasa kecewa. Karena ajakan liburannya di tolak lagi oleh Antonio. Jessica sampai menitihkan air mata karena sedih dengan kehidupan pernikahannya. Jessica yang sedih sampai tidak fokus saat mengendarai mobilnya. Hingga mobil Jessica menabrak sepeda motor yang ada didepannya. "Sial!" maki si pengendara motor yang langsung turun dari atas motornya, kemudian berjalan ke arah mobil Jessica. Jessica yang panik dan takut buru-buru menurunkan kaca mobilnya untuk meminta maaf pada si pengedara sepeda motor itu. "Jessica?" si pengedara motor itu langsung melepaskan helm yang dia pakai. Yang ternyata dia adalah Samudera. "Samudera," panggil Jessica. "Kau menangis?" tanya Samudera yang melihat pipi Jessica basah dan juga mata Jessica yang sembab. "Tidak!" elak Jessica sambil menyeka air matanya. "Kau tidak apa-apa? Apa motormu ada yang rusak?" tanya Jessica sambil melihat ke depan di mana motor Samudera terparkir. Samudera melihat ke arah motornya sekilas, yang lampu belakangnya pecah. Akibat ditabrak mobil Jessica. "Kau harus mengganti kerusakannya," ucap Samudera."Tapi sebelum itu, kau harus ceritakan apa yang membuatmu menangis padaku," sambung Samudera. "Aku tidak apa-apa," ucap Jessica. "Jangan bohong! Pinggirkan mobil mu," perintah Samudera. "Kita harus ke kampus! Nanti kau terlambat lagi," ucap Jessica. "Pinggirkan dulu!" "Samudera... " "Jessica!" tegas Samudera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN