"ANGKAT TANGAN KALIAN!" Luna berlari, menabrak dengan sengaja polisi yang berada di hadapannya. Luna juga berhasil mengambil senjata api cadangan dari saku Pria paruh baya yang kini sudah berada digenggaman tangan mungilnya. "ANGKAT TANGAN KALIAN DAN MENYERAHLAH!" Luna menarik platuk dan-- DOR. Membuat suara tembakan itu menyaring di ruangan yang kini hanya tersisa dirinya dan Bima beserta para polisi yang mengepung mereka. DOR. Tembakan itu melesat, memecahkan kaca besar dengan serpihannya yang berhamburan. Luna tidak tinggal diam, dia harus bisa melarikan diri bersama calon anaknya, dia tidak akan mau berakhir tragis di bui besi yang akan membuatnya pening, bahkan membayangkannya saja mampu membuatnya mual. Lagi-lagi, dalam situasi tegang seperti ini, Luna harus memikirkan baga

