Reino's Apartemen.
Buram. Satu kata yang saat ini sedang perempuan berkulit pucat itu alami ketika matanya baru saja terbuka kembali.
Rasanya perih dan begitu menyiksa, tarikan lakban hitam berhasil terbuka paksa dari mulutnya yang kering, tidak ada kata-kata yang dapat dia lontarkan selain rintihan rasa sakit.
Gesekan panas itu timbul lagi, namun berasal dari pergelangan tangan dan kakinya. Dia sangat yakin, gesekan itu telah berhasil membuat kulitnya menipis hingga cairan kental berwarna merah itu tiba-tiba menetes tak tahu arah.
Dia sudah tidak tahan.
Suara tepuk tangan tiba-tiba saja menggema dua kali, lampu sorotpun hidup persis di hadapan wajahnya. Ini begitu silau, matanya menjadi sakit. Dia tidak bisa melihat dengan baik, tetapi telinganya dapat mendengar suara langkah heels yang semakin lama semakin mendekat, hingga rahangnya dicengkram dengan tangan mungil berkuku tajam dan berhasil membuatnya mual.
Siapa yang berani melakukan ini? Lalu untuk apa mereka menjadikannya bahan culikkan?
"Hai." Suaranya lembut, itu berati seseorang yang tadi adalah perempuan. Namun sayang, dia tidak dapat mengenali, suaranya telah dimanipulasi karena terdengar seperti seseorang yang sedang memakai topeng.
Dia tidak bisa membalas, bahkan untuk berteriak pun rasanya perih. Tenggorokannya kering, sudah berapa hari dia disekap dan berteriak hingga kini dia kehabisan tenaga. Dia benar-benar lelah, bahkan dia memohon, jika memang ini akhir dari kehidupannya, dia lebih memilih langsung dibunuh dan langsung mati dari pada harus disiksa habis-habisan hingga seluruh tubuhnya penuh luka.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi, masa depannya masih panjang, dia tidak boleh lemah, ada misi yang harus dia kerjakan demi masa depannya.
"Toh--loh--ngh," rintihnya.
Tidak ada perubahan, lampu itu masih menyinari wajahnya, membuat mata biru kristal itu semakin terang. Tali itu juga masih terlilit di tangan dan kakinya, bahkan sekarang kuku tajam itu mencengkram lengan atasnya sampai dia merasakan cakaran yang disengaja.
"Kah--mu, s--sih-sihapa?" Suara perempuan itu begitu menyakitkan, terdengar pilu dan tersiksa. Namun bagi wanita bertopeng, suara merintih adalah hiburan, terbukti dengan beberapa kali tepukan tangan yang semakin lama semakin bertambah serta suara tawa yang terua mendengung.
"Clara Diana," kata wanita itu. "Kamu Clara Diana, bukan?" Sambungnya, bertanya pada Clara seolah-olah dia tidak tahu namanya.
Benar, yang disekap adalah Clara. Perempuan yang menghilang sejak kemarin, perempuan yang sedang dicari oleh Bima dan perempuan yang mungkin saja akan mati hari ini disepasang tangan orang yang tidak bertanggungjawab.
Siapa yang menculik Clara sebenarnya?
Clara menangis. Bahkan sejak sadar bahwa dia diculik dia telah menangis tertahan. Dia merindukan keluarganya, dia merindukan sahabat dan teman-temannya. Dia merindukan Mamanya yang sekarang entah sedang melakukan kegiatan apa? Clara sesegukan, tubuhnya masih memakai seragam sekolah yang telah kusam. Tidak ada makanan selama dia diculik.
"Perkenalkan, aku adalah--"
"Heh!" tiba-tiba, suara berat yang diyakini Clara adalah seorang pria memotong ucapan si Wanita bertopeng tadi. "Acaranya akan segera dimulai," sambungnya.
"Tapi aku ingin bermain dengan Perempuan nakal ini dulu, sayang--"
"Cepat! Jangan bikin mereka curiga! Clara adalah urusan gua! Jangan ikut campur tangan," hentak Pria itu.
Clara diam. Dia ... mengenali suaranya, Clara benar-benar mengenali suaranya, tapi apa mungkin kalau pria itu yang menculiknya?
×××
"Rey," panggil Manda. Perempuan yang sudah cantik dengan balutan kebaya berwarna nude itu tengah memegang Jas berukuran kecil menuju toilet laki-laki. "Rey tunggu Tante!"
Siapa lagi yang dia kejar kalau bukan anak dari Duda incaran sahabatnya?
"Yey mau pipis tante!" Rey terus berjalan cepat sambil memegang alat kelaminnya. "Yey udah gak tahan lagi." Tiba-tiba saja, laki-laki kecil itu berhenti mendadak sebelum satu langkah memasuki toilet di Apartemen.
"... Yey ga beyani masuk sendiyi, Tante Mandla halus temenin Yey masuk," ujar bocah laki-laki itu.
"Ih-- gak ah Rey, jangan tarik Tante."
"Tante halus tunggu di sini!" Perintah Rey pada Manda yang kini tengah berdiri di hadapan wastafel dengan was-was. Tentu saja, Manda 'kan perempuan dan dia harus masuk ke dalam toilet laki-laki.
"Rey, jangan lama-lama, Tante malu." Pesan Manda, perempuan itu mulai menutupi wajahnya dengan Jas milik Rey yang kecil taktala bocah tersebut mulai memasuki salah satu bilik.
"Yey udah selesai," ucapnya yang kini telah berdiri di hadapan Manda, perempuan hitam manis itu masih menutupi seluruh bagian wajahnya.
Rey menggoyangkan tubuh Manda. "Yey udah selesai, Tante!"
Manda mendesah lega. "Yaudah ayo, pernikahan Papa udah mau dimulai--"
"Enggak Tante!"
"Rey, kamu gak bole--"
"ENGGAK TANTE!" Manda terpelonjat, Rey berteriak tidak seperti biasanya.
"Rey," panggil Manda, pelan. "Rey kenapa?" Karena tidak mengerti mengapa bocah tampan ini berteriak, Manda mencoba bertanya.
"Tante." tiba-tiba saja, setetes air mata anak kecil itu mengalir. "Yey cuma sayang sama Papa, Yey cuma sayang sama Tante Cyaya, dan Yey juga sayang sama Tante Mandla. YEY GAK SAYANG SIAPA-SIAPA LAGI."
"Rey--,"
"Tante, Yey mau celita Tante."
×××
"Kamu kenapa sih lebih mentingin Clara dibanding aku?!" Bentak wanita bertopeng tersebut.
"Karena aku mencintai Clara, bukan kamu!" Ungkap Pria kepada wanita bertopeng. Sedangkan Clara yang sejak tadi mendengar perbincangan mereka mulai membeku dengan pernyataan yang keluar dari mulut pria itu. Tiba-tiba saja lampu yang menyoroti wajah Clara padam, dia dapat melihat kedua pelakunya. Pelaku yang tak pernah dia duga.
"K--kahlian?"
Tiba-tiba saja, pria itu menarik paksa lengan wanita tersebut dengan kasar, membawanya keluar dan kembali menutup pintu dengan kencang.
Clara diam tak habis pikir. Ternyata mereka berdua benar-benar jahat, bahkan tega sampai menculik Clara yang tidak tahu apa-apa. Tetapi, apa yang harus Clara lakukan? Bergerak pun rasanya sudah tidak mampu lagi, bahkan berbicara layaknya manusia normal itu sulit sekali, Clara kehabisan tenaga.
Saat ini Clara harus apa? Lalu siapa yang akan menolongnya?
Clara mulai melirik kulit kakinya yang menipis. Dia berniat untuk menggerakannya sedikit, tetapi rasanya benar-benar terlalu perih. Tali itu telah merusak kulitnya. Kemudian, Perempuan yang semakin lama semakin pucat itu mulai menyapu pandang ruangan yang sekarang berhasil mengurungnya. Sial. Ruang ini kedap suara.
Clara menghembuskan napasnya lelah. Tak ada pilihan lain selain mati di tangan mereka. Misinya pun sudah hancur lebur bersama ponsel canggih di sisi kirinya yang entah sejak kapan telah rusak bagai barang tak layak lagi untuk digunakan.
Ya Tuhan, kalo memang jalan kehidupanku harus berakhir seperti ini, tolong sampaikan rindu Clara untuk Mama dan Papa, Clara sayang mereka ... Clara membatin.
Clara menangis dalam diam. Meratapi pisau-pisau besar yang tergantung rapih di sisi dinding.
Sebenarnya ini ruangan apa?
×××
Terbalut dengan kemeja batik dan jaket bomber berwarna hijau tua, Pria yang kini berada di dalam gedung lantai dua itu tengah menyapu pandang dan menyipitkan mata bulatnya, taktala melihat anak kecil dengan jas berwarna hitam pekat berjalan lesu dari arah yang berlawanan. Dia kenal dengan anak laki-laki tampan itu. Ya, dia sangat mengenalnya.
"Rey ...." Pria itu menyapa.
Rey menatap Pria bertubuh tinggi tersebut dengan mata berbinar. "Om Yaka!" anak kecil itu tiba-tiba saja berlari dan memeluk kaki jenjang milik Pria bernama Raka --Pria yang disebutnya dengan cadel.
Raka mengangguk, mengelus pipi berisi milik Rey. "Apa kabar, Rey?"
"Gak baik, Om."
Raka tersenyum, kemudian mengacak rambut milik Rey yang sudah berantakan.
"Reyhan sudah siap?" Raka bertanya.
Anak laki-laki tampan itu ikut mengangguk, senyumnya mulai terbit dan semangatnya mulai membara. "Yey siap, Om!"
"Kalo gitu, ayo ikut Om ... acara pernikahan Papa belum dimulai, kan?"
Rey menggeleng, Raka pun mengangguk, kemudian keduanya berjalan beriringan. Menyusuri setiap ruang yang berada di dalam gedung bertingkat lima belas ini, sampai mereka berada di lantai paling teratas.
"Rey siap?" tanya Raka, Pria itu mulai melihat angkat 000 di atas papan kecil dengan dua kata yang tertempel jelas dengan ejaan, 'Aku Tampan' tersebut. Raka mengerti sekarang, kemudian tatapannya beralih menuju mata Reyhan, anak laki-laki yang kini mulai menggerutukan giginya.
Reyhan berlinang air mata. "Yey pasti siap," lirih bocah kecil itu.
"Siap gak siap, Reyhan harus siap." Raka mencium puncak kepala Rey dengan sayang, Pria dengan bekas luka jahitan di dahi kirinya itu mulai mengambil sebuah kunci dari jaket bombernya. Mencocokannya dengan ruangan yang akan dia masuki, hingga akhirnya--
Berhasil.
Rey lebih dulu masuk dan menyapu pandangannya pada ruangan yang saat ini sangat gelap gulita, sedangkan Raka, Pria itu mulai mencari saklar di dinding dingin yang sebentar lagi akan mengenang kisah pilu.
Tik.
Lampu menyala, ruangan yang gelap akhirnya menjadi terang benderang. Rey pun sudah dapat menemukan objek yang selama ini dia cari-cari. Anak laki-laki tampan itu berlari dengan air mata yang mengalir deras, bersamaan dengan sebuah pisau lipat yang dia keluarkan dari saku celananya.
Rey ... mengambil pisau lipat itu dari kamar Bima tempo hari dan menyimpannya sampai saat ini.
Anak laki-laki itu mengacungkan pisaunya, dia meraung, emosinya tidak stabil, membuat Raka membelalakan matanya. Apa yang akan Rey lakukan?!
×××
"Di mana Luna?" Tanya Rain.
Manda pun menggeleng, dia tidak tahu di mana wanita itu sekarang. "Gak tau."
"Akad akan segera dilaksanakan lima belas menit lagi--,"
"Saya di sini, Pak." Potong wanita dengan gaun pengantin tersebut, Luna langsung berjalan cepat sambil diiringi oleh Bima dan wanita paruh baya yang menjadi saksi dipernikahannya.
Manda menatap mereka, lalu matanya beralih menatap Rain yang kini tengah memperhatikan sekitarnya, bukan memperhatikan Luna. "Bapak Rain yang Terhormat, Anda mencari siapa?"
Hening, kemudian suara yang sangat dirindukan Clara itu menjawab.
"Cla-- maksud saya, Luna."
Manda mendengus. "Clara?"
Rain menatap Manda dengan raut bingungnya. "Clara gak akan mau lagi kenal dengan Anda, bahkan dengan teman dan lingkungan di mana Anda berada, lagipula, untuk apa Anda mencari Luna kalau w************n itu sudah di hadapan Anda?"
"Ada apa?" Tanya Luna, bingung. "Kalian ada masalah?" Wanita itu ... seperti tidak mengetahui apa yang sudah terjadi.
×××
Berkat pisau yang dibawa oleh Rey, kini, Raka bisa melepaskan semua tali yang terikat di tangan Clara. Perempuan yang saat ini hilang kesadaran. "Rey, tolong jaga Tante Clara, ya?"
Rey mengangguk, anak laki-laki tampan itu langsung memeluk Clara, Perempuan yang sekarang terbaring lemah tak berdaya. Sedangkan Raka, Pria itu tengah mengambil pisau daging yang tergantung rapih di dinding. Dia kesulitan memisahkan tali tambang berukuran besar dari kaki Clara yang pucat dan sudah mengeluarkan darah, sampai akhirnya hanya pisau itulah yang termanfaatkan.
"Rey ... menjauh."
Rey mengangguk. Kemudian dihitungan ketiga, tali terputus. Clara sudah terbebas dari apapun. Hanya saja, kesadarannya saat ini sangat diperlukan. Raka kembali merogoh saku jaket bombernya, mengambil minyak angin yang sudah dia siapkan sejak awal. Raka membalurkannya pada hidung, kening, telapak tangan dan kaki Clara.
Dua menit berlangsung, Clara terbangun. Dia merintih perih. Pandangannya yang buram perlahan menjadi terang, Perempuan cantik nan pucat itu memandang bingung ke arah Raka, lalu matanya beralih menatap Rey yang kini berada di samping kirinya, memegang tangannya yang lebih besar dari bocah berumur lima tahun tersebut.
"Rey," lirih Clara, Perempuan itu melihat tubuhnya yang sudah terbalut dengan jaket bomber milik Raka. Clara menatap Pria asing di samping kanannya.
"Pertanyaan kamu disimpan dulu sampai misi ini selesai." Seakan mengetahui apa yang Clara pikirkan, Raka berkata demikian. Pria itu melihat kearah Rey.
"Rey, ayo kita bawa Tante ini ke hadapan banyak orang."
Rey mengangguk.
"Om Raka yang akan gendong Tante ini, Rey tolong bukain pintunya, ya?"
Rey mengangguk lagi, anak laki-laki tampan itu berjalan lebih dulu saat Clara sudah berada dalam rengkupan Raka. Pria berperawakan tinggi yang menggendong Clara seperti Bayi berumur satu bulan.
Mereka sekarang mulai berjalan menuju lift, memasuki benda persegi itu tanpa banyak bicara sampai akhirnya tiba di lantai dasar.
Melihat banyak sekali pendatang, membuat Raka kesulitan membawa Clara agar kaki dan tangan Perempuan cantik itu tidak tersentuh oleh mereka. "Rey, tolong panggil Tante Manda," pinta Raka yang kini berjalan melewati beberapa tamu undangan yang mulai menatap aneh dan penasaran.
Rey segera berlari, mencari Manda yang kini sedang duduk dengan cemas sambil melihat keberlangsungan akad nikah dari Rain dan Luna.
"Saya nikahkan dan kawinkan, Rain Reino bin Rando Reindro dengan Luna Marliana binti--"
"PAPA! TANTE MANDLA!"
Luna, Bima, Rain, Manda serta para tamu undangan dan tak tertinggal Bapak penghulu pun diam, mereka semua langsung menatap ke arah Rey yang kini menangis. Badannya terlihat bergetar hebat, pakaiannya pun berantakan, serta keringat dan bekas darah milik Clara berada di tangannya.
"Astaga, Reyhan!" Rain menghampiri anaknya, dia tidak memperdulikan lagi panggilan dari Luna, Bima serta beberapa orang lainnya yang menyaksikan.
"PAPA JAHAT! PAPA NGEHANCULIN SEMUANYA--"
"REY! KAMU YANG NGEHANCURIN SEMUANYA!" Luna berteriak, wanita itu sudah berada di samping Rain yang kini berdiri di hadapan Reyhan, melotot ke arah bocah laki-laki itu dan menjambak rambutnya. Membuat seluruh pasang mata menatapnya dengan berbagai argumen. "KAMU UDAH NGEGAGALIN ACARA INI! DASAR ANAK HARAM--!"
PLAK.
Satu tamparan mendarat di pipi Luna. Siapa yang berani menamparnya?
"JANGAN SUKA KASAR SAMA ANAK KECIL, JALANG!" Ini suara yang dirindukan oleh Rain.
Rain tidak berkutik. Mau bergerak bahkan berbicara pun rasanya kaku, Rain benar-benar seperti batu.
Bima berjalan dengan tergesa-gesa ke arah di mana Luna berada. Manda pun mulai membawa Rey menuju suatu tempat agar tidak melihat hal-hal yang tak seharusnya dilihat, sedangkan Luna tengah mencoba menampar kembali Perempuan yang sudah berani menyentuh pipinya, tetapi itu terhalang oleh Raka yang menahan.
Clara berhasil terhindar dari tamparan Luna.
Namun dia tidak bisa menghindar dari sesuatu yang membuatnya tumbang setelah bersusah payah membiarkan diri menahan rasa sakit dan perih di kakinya. Akibat penculikan itu, untuk berdiri tegak dan menahan sesuatu benda tajam nan dingin itu tidak membuat Clara berhasil menahan kesadarannya lagi untuk membatalkan acara pernikahan Duda incarannya.
Jleb.
Jleb.
Jleb.
Seluruh tamu undangan berteriak histeris. Sedangkan Luna mulai tertawa bahagia bersama Pria yang kini mengajaknya pergi berlari.