Bagian 4

2681 Kata
Pagi yang damai, serta kondisi rumah yang sepi, membuat Clara semakin rindu akan kegaduhan. Perempuan cantik itu tengah mengikat tali sepatunya, memikirkan bagaimana nasibnya untuk dua hari ke depan mengingat pernikahan Pria yang dia rindukan akan segera dilaksanakan. Clara benar-benar sendiri, sang Mama sedang menghadiri sebuah acara di Bangkok, yang pastinya itu adalah ajang untuk saling pamer barang-barang branded milik Ibu-Ibu sosialita lainnya, yang pasti bersifat sama seperti Mamanya sendiri. Clara meneguk hingga kandas segelas s**u cokelat kesukaannya dengan bosan. "Rasanya gak pernah beda, masih kaya dulu, dan itu yang buat aku sayang sama kamu dibanding sama mantan-mantan gue." Nyengir, Clara menaruh gelas yang telah kosong itu di atas meja makan. Dia bergegas untuk berangkat sekolah setelah beberapa hari ini tidak bisa mengikuti pelajaran karena sakit hati. Ya, tolong digaris bawahi untuk kata 'sakit'nya. Perempuan asal Indonesia - Belanda itu mulai berjalan ke arah halte terdekat, untuk menuju sekolah hanya dengan menempuh jarak 10 kilometer dari rumahnya, dia tidak ingin mengendarai motor untuk saat ini, mengingat hatinya sedang diterapi sendiri untuk lebih rileks dengan asumsi kacaunya itu. "Gue gagal jadi pemancing." Clara bermonolog, kemudian langkahnya berhenti taktala telah sampai di depan halte yang ramai sambil menunggu kedatangan Bus. "Ternyata emang bener ya, kita gak akan bisa dapet ikan dengan gampang kalau kita bukan pemancing yang handal." Tiba-tiba, satu suara mengintrupsi ucapannya. "Asumsi kamu jelek banget, walaupun kita bukan pemancing yang handal, asal kita mau berusaha dan bekerja keras, kita pasti bisa dapetin ikan yang lumayan, gak semua pemancing handal itu bisa menjamin dapet ikan-ikan yang banyak." Clara diam, dia menoleh, dia hanya bisa menatap punggung kokoh Pria yang berani berucap dan mengalahkan asumsinya tersebut sampai Pria itu menghilang dari pandangannya bersama motor hitam R15 yang dikendarai oleh Pria tak dikenal itu. "Ada benernya juga, sih." Clara mengangguk sendiri, lalu Bus datang kemudian pergi bersama Perempuan dengan sejuta ucapan yang dia punya. ××× Tiba di sekolah, wajahnya berbeda sejak dia turun dari Bus. Clara berjalan dengan girangnya, Perempuan itu tiba-tiba saja menjadi ekstra hiperaktif walau hatinya masih menyimpan luka. Clara terlalu naif dengan dirinya sendiri, sampai tibanya Manda tepat di belakang Perempuan itu, Clara baru berhenti kegirangan. "Dih, gila lo ya?" Tuduh Manda. Clara nyengir. "Alhamdulillah, hampir." "Astaga dragon, asem uratnya pasti lagi kambuh nih." "Heh, sembuwarangan kalo biwcara." Manda memutar bola matanya, sudah cukup pagi ini dia telah diberikan sarapan yang menjengkelkan dari temannya, ah, lebih tepatnya adalah sahabat gilanya. "Eh iya Cla, by the way pernikahan Duda milikmu sisa dua hari lagi loh." "Bachot!" "No bad word, Cla." "Jangan bikin gua asem urat! Gue juga udah tau!" Clara melotot. Manda nyengir ala-ala Clara. "Dan ... lo juga diundang, Cla!" "Iya gue juga tau, dan gue juga dateng kok, sans," tegarnya. Manda menatap wajah sahabatnya yang tiba-tiba saja menjadi murung. "Lo yakin mau dateng? Yakin juga bisa kuat berdiri waktu salam-salaman di atas panggung sambil ngeliat wajah bahagianya Rain, Luna dan juga Rey?" "Ya--yakin, lah! Lo kenapa sih? Lo cemburu?" Kata Clara, terbata-bata. "Hah?" "Ngaku aja Man, lu juga nyimpen perasaan 'kan buat Rain?" Tanya Clara, Perempuan itu langsung menatap wajah sahabatnya penuh curiga. "Jangan ceroboh, Cla, kalo ngomong. Gua nanya kaya gini karena gua khawatir sama elo! Jadi orang jangan negatif mulu pikirannya, dan juga kalo positif jangan kepositifan, lo itu gampang buat dibodoh-bodohin sama orang," jelas Manda. Mereka berdua diam sejenak, sampai akhirnya Clara yang angkat bicara. "Gua mau ngegagalin pernikahan mereka," lirihnya. Manda diam, dia mendengar pengakuan sahabatnya. Manda benar-benar sakit kepala jika berada bersama Clara untuk waktu sekarang ini, lebih baik Perempuan hitam manis itu pergi menjauh dan membuka ponselnya untuk mengangkat sambungan telepon yang sempat terputus. Sedangkan Clara, dia mulai meneruskan perjalannya menuju perpustakaan, suasana hati yang gaduh ini lebih cocok disuguhkan dengan aroma buku serta papan kayu dan tak lupa pula dengan karya dari Cutenara yang berjudul I LOVE YOU, Duda, rasanya cerita itu benar-benar menggambarkan dirinya. Walau kenyataan Clara lah yang lebih cantik. Hingga waktu istirahat tiba, Clara memilih untuk keluar dari perpustakaan. Bosan, itu yang sedang Clara rasakan. Perempuan itu memilih untuk pergi ke kantin dan membeli beberapa makanan berat serta cemilan yang siap menemaninya. "Waktunya nunggu makanan tiba ...." Setelah menunggu, akhirnya pesanan pun datang. Satu mangkuk bakso pedas, satu piring gorengan berisi tiga tahu isi dan satu tempe mendoan dan tak lupa cilok isi ayam ditaburi dengan bumbu kacang. Serta cemilannya, empat ciki Chuba, tiga ciki Taro, dan dua ciki Detos. Dan jangan lupa pula untuk minuman dinginnya, Fruit tea berukuran besar rasa Blackcurrent. "Ini adalah surga dunia seorang Perempuan." Sudah tidak heran seberapa banyak pasang mata yang melihat ke arah Clara. Selagi perutnya bahagia, Clara juga senang untuk mengisinya. Sampai desas-desis ucapan tetangga yang berada di seberang meja makannya berbicara pun Clara dapat mendengar. "Oi, lo udah pada ngumpulin Kartu Keluarga sama KTP orangtua belom?" Kata gadis gempal berambut kriting pada teman-temannya. "Emang disuruh ya?" kata salah satu dari mereka. "Liat aja dimading, katanya kalo belom ngumpulin kita gak bisa ikut UN," kata gadis berkulit putih pucat itu mendramatisir. Clara hanya menyimak sambil menyantap suapan terakhir baksonya, kemudian telinganya kembali mendengar ucapan demi ucapan mereka. "Hari ini juga free class--" Clara bangkit, membawa snack yang dia beli kemudian pergi meninggalkan sekolah. "Gue mau bolos aja." ××× Setelah mengetahui namanya tercatat dalam tempelan selembar kertas dimading, Manda langsung bergegas untuk pulang, bisa gawat urusannya jika dia tidak bisa mengikuti Ujian Nasional. Lagi pula, yang belum Manda serahkan hanya KTP orangtuanya saja, jadi dia tidak perlu repot mencari berkas-berkas usang di atas lemari tempat biasanya dia menyimpan dokumen. Selesai. Dua fotocopy KTP orangtuanya sudah berada dalam genggaman. Saatnya kini dia serahkan ke ruang Tata Usaha. Namun, sesaat sebelum memasuki, Manda menabrak d**a bidang milik Bima. Membuat kedua KTP yang dibawanya terjatuh. Bima, ya? "Ngapain lo di sekolahan gue?" Bima kaget, dia meniti Manda dengan intens, menoleh ke samping tubuh kanan dan kiri tetangganya itu. "Clara mana?" "Hah?" "Clara nya mana conge?" "Ngapain lo nanyain dia ke gue?" Bima berdecak. "Lo 'kan temennya." "Tumben lo nyariin dia, segala pake pasang muka yang sok serius pula, ada apa, sih?" "Kepengen tau banget lo, jemuran ayam!" Manda melotot, tidak terima jika dia dikasih julukan seperti itu, memangnya Manda seekor ayam? Manda 'kan manusia, sama seperti Bima, cuma bedanya Pria itu agak tidak waras sama seperti Clara, sahabatnya. Berbicara tentang Clara, ke mana Perempuan itu ya? Sejak kejadian tadi pagi dia sama sekali belum melihatnya. "Tadi pagi gue ada problem dikit sama dia, terus sampe sekarang belom ketemu juga," jelas Manda. Bima mengangguk-anggukan kepalanya pertanda mengerti, sampai kepalanya mulai menelusuri kembali ke segala pejuru arah sampai matanya berhenti pada satu titik di mana terdapat kertas yang tak sengaja Manda jatuhkan. Bima bergegas untuk mengambil, dia juga ikut penasaran apa isi dari kertas itu. Siapa tahu saja isinya adalah USG kehamilan Manda, ya 'kan? Ini bisa menjadi kabar gembira seantreo sekolah, itu yang ada dipikiran Bima. Hap. Ternyata dua buah KTP dengan sebuah nama di masing-masing kertasnya. Hanin Mandalun dan Cakra Adijaya. "Jangan liat-liat!" sentak Manda, seraya mengambil kedua kertas kecil itu dan membawanya pergi. Bima hanya menyerngit, kemudian dia melanjutkan perjalanannya untuk mencari Clara, karena ada sesuatu yang harus dia sampaikan mengenai Rain dan Rey. Ngomong-ngomong, nama orangtua Manda seperti tidak asing baginya. ××× Bima, lagi-lagi dibuat pusing. Pria itu benar-benar letih dengan percintaan yang dijalani oleh sahabatnya. Sampai dia lupa bahwa dirinya belum pernah memiliki masalah percintaan seperti yang Rain alami. Lalu, untuk apa gunanya Bima membantu Rain, sedangkan dia belum berpengalaman dengan masalah seperti ini? "Supaya masalah itu Duda cepet selesai, gua bakal bantu sampe titik darah penghabisan Rain, hahaha~" Bima nyengir setelah mengucapkan kalimat tadi, dia melanjutkan ucapannya kembali. "Tapi boong!" Kemudian Pria rajin bekerja keras jikalau ada upahnya itu mulai mengoreksi setiap undangan serta lampu-lampu dekorasi pernikahan sahabatnya dengan teliti, siapa tahu ada yang tertinggal atau terlupakan olehnya. Sampai akhirnya Pria dengan nama lengkap; Bima Andreas itu mengingat misinya yang belum terwujudkan, yaitu mencari Perempuan bernama Clara. Perempuan yang telah berhasil menaklukan hati seorang Duda dengan sifat abstraknya yang menjengkelkan. Itu menurut Bima. Sejak kemarin, Perempuan cantik itu belum juga memperlihatkan batang hidungnya yang mancung, membuat Bima berpikir lebih keras. "Apa jangan-jangan dia diculik, ya?" Tebaknya, kemudian tersenyum sendiri seperti orang crazy. Bima memicingkan matanya tanda berpikir lebih serius. "Tapi, siapa juga yang mau nyulik dia?" "... eh, bisa jadi sih, secara 'kan dia cantik, imut, putih, dan lain-lain. Masa iya gak ada yang tertarik sama manusia purba kaya dia? Ya, kan?" Bima mengangguk-anggukan kepalanya sendiri, kemudian Pria itu memikirkan berbagai cara agar dia bisa bertemu dengan Perempuan putih tersebut sebelum pernikahan Rain dan Luna terlaksana. Lagi pula Rain menikahi Luna 'kan hanya karena hutang budi, berhutang karena Perempuan yang berstatus sebagai sekretarisnya itu karena telah menjaga anaknya dengan baik seperti seorang baby sitter. Itulah yang ada dalam pikiran Bima. Pernikahan harus dilandaskan dengan dasar cinta, kan? Selebihnya karena rasa tanggungjawab dan juga lain-lain, Bima belum tahu-menahu banyak tentang pernikahan. Kalau memang pernikahan itu sakral dan tidak boleh main-main, kenapa Duda itu memilih menikah hanya karena hutang budi? Lantas, kalau begitu yang ada dipikiran Rain, jika saja Pria berstatus Duda itu memiliki hutang budi kepada Nenek berusia 90 tahun, apakah dia harus menikahinya juga, gitu? "No! Ekspetasi itu terlalu buruk, dan gua juga gak bakal restuin, walau kenyataannya dia bakal bikin perut gua sakit." Bima tertawa, Pria itu benar-benar aneh. Pikirannya kacau sekali seperti sedang stres berat. "Nanti deh lanjut nyari Clara nya, mending gua siapin berkas-berkas penting dulu," ujarnya pada diri sendiri. Akhirnya, dia mulai membuka berkas-berkas milik Rain dan Luna. Mengingat pernikahannya akan dilaksankan besok pagi, Bima harus segera menyiapkan semuanya. Membicarakan tentang Luna, bagaimana kabar wanita itu. Bima menjadi penasaran dengannya. Luna Marliana, ya? "Gak respect gua sama dia." Bima bergidik, kemudian tangan beruratnya mulai membuka berkas milik Rain terlebih dahulu, mulai dari KTP-nya Rain hingga KTP orangtuanya. Ajeng Trismoso dan Rendo Reindro. "Oooh~ namanya Ibu Ajeng." Bima mengangguk. "Umurnya 55-- oooh~ nama Bapaknya itu Bapak Rendo, umurnya cuma beda tiga tahun sama Ibunya." Bima berucap, seakan-akan berbicara pada seseorang yang akan dia interview. Kemudian Pria itu beralih menuju berkas milik Luna, mengambilnya dengan jijik seakan-akan ada banyak bakteri yang akan membuatnya mati secara mendadak. Ani Mandalu dan Caka Adjaya. "Oh." Bima mengangguk singkat. Dia tidak mendeskripsikannya seperti yang dia lakukan saat melihat kedua KTP milik orangtua dari sahabatnya itu. Tapi ... "HAH?!" Bima melihat lagi KTP milik orangtua Luna dengan adegan yang begitu mendramatisir, matanya yang melotot, mulutnya yang terbuka lebar serta alisnya yang naik-turun. "Gua kaya pernah liat namanya, tapi di mana ya?" Bima, langsung memejamkan matanya, dua jarinya dia tempelkan di samping kening kanan dan kirinya. Kemudian, bayang-bayang itu muncul. "Kemarin gua jalan ke sekolah buat nemuin Clara. Nyari ke sana-sini gak ada, biasanya tempat nongkinya tuh di kantin, gua tau juga dari Manda pastinya. Tapi kemarin sama sekali gua gak liat mereka berdua, atau mereka bolos ya? Mungkin iya, mungkin juga enggak. Gua jalan ngelilingin sekolah cuma buat nyari Perempuan gila itu, di setiap kelas gua berhenti buat nanyain dia, sampe beratus-ratus pasang mata gua yakin pada ngeliat syok ke arah gua ... ... jelas aja, kemarin gua cuma pake sendal jepit merk selow sama kaos loreng-loreng mirip TNI. Gak lupa juga gua pake celana kolor ala laki-laki, tapi tenang aja, celananya panjang, sebetis kaki gua. Jadi, bulu-bulu manja yang masih sedikit basah karena gua abis mandi langsung terlihat tidak menarik ... ... sampe akhirnya, gua pasrah dan nemuin satu ruangan yang belum gua liat. Yaitu ruang Tata Usaha. Siapa tau aja 'kan si Clara lagi bayar SPP atau apalah yang jelas gua gak tau. Di situ, mata gua mulai jelalatan sebelum akhirnya dengan gak sengaja gua nabrak Manda dan kertas kecil yang dibawanya jatuh ke lantai gak jauh dari gua berdiri ... ... perdebatan pun dimulai. Gua gak bisa kalo ketemu dia itu gak ngeledekin, rasanya hambar, apa lagi model mukanya yang begitu makin buat gua seneng bukan main ngeledekinnya. Gua juga inget banget percakapan waktu gua ngatain dia Jemuran Ayam. Gua juga yakin, dia pasti bingung. Kenapa gua tau kalo dia bingung? Karena gua juga bingung, mulut seksih gua ini gak bisa ngontrol ucapan di depan dia, bawannya ikut sensian juga ... ... katanya kalo sensian sama lawan jenis itu jodoh ya? Kalo gua sih amit-amit banget, dia juga pasti amit-amit lah, gak mungkin kita jodoh dan gua gak bakal mau. Tapi kalo dipaksa, yaudah gua bakal seneng. Ehe, apaan si Bim, bego lo ... ... setelah perdebatan, akhirnya mata gua ngeliat dua kertas kecil yang dibawa sama Manda. Gua liat bacaannya, ternyata itu KTP orangtua dia ... ... Hanin Mandalun dan Cakra Adijaya ... ... gak kepengen ngebaca nama orangtuanya, tapi ini mata tetep maksa. Jadinya gua tau, nama Ibunya itu Hanin Mandalun dan Bapaknya Cakra Adijaya." Bima tersadar, matanya langsung membulat dengan sempurna. Pikirannya mulai melayang-layang dengan kacau, dia tidak tahu lagi, perkiraannya kali ini memang benar adanya atau justru akan salah. Bima menggeleng, dia tidak mungkin percaya dengan ini, tapi apa boleh buat? Karena nama orangtua Luna dan nama orangtua Manda itu hampir sama, bahkan selama dia tinggal bersisihan rumah dengan Manda, dia belum pernah melihat kedua orangtuanya. Manda hanya tinggal sendiri, dia tidak kerja, tetapi selalu ada uang yang datang setiap bulannya. Bagaimana Bima bisa tahu? Jadi begini, "Gua lagi nyapu halaman rumah gua yang kotor, sampah ini bekas jajanan bocah-bocah yang abis main tigtog sambil goyang lagu 'entah apa yang merasukimu'. Sampah bungkus cireng, es seribuan dan ciki-ciki gopean yang mereka beli. Gua berdecak pinggang, kesal rasanya. Untung aja bocah itu pergi sebelum gua liat halaman rumah gua sendiri. Kalo enggak, gua juga bakal terkena virus entah apa yang merasukimu dengan iringan lagu yang ada burung gagaknya ... Untung saja. ... akhirnya udah selesai pekerjaan gua beres-beres halaman depan, sampe akhirnya Manda keluar dari rumahnya, membawa tas kecil dan satu kartu yang gua yakin isinya pasti duit ... "Bim, anterin gue ke Bank yuk," ... sejujurnya gua males, gua juga gak mau berhadapan sama dia, karena apa? Takut gua ledekin terus di jalanan, apalagi dia minta anterin, gua takut dia tiba-tiba nangis dan ngejengkang ke belakang motor ... "Ngapain?" kata gua, kemudian dia senyum aneh. "Ngambil duit bulanan dari--" "Yaudah ayok," ... sayang banget 'kan tuh, gua potong ucapannya." Seandainya Bima tidak memotong ucapan Manda, pasti dia akan mendapatkan informasi dan juga masalah ini selesai. "Emang dasarnya gua d***o kok." Bima menggeleng pasrah. Lebih baik dia lupakan saja masalah ini, dan berlaku tidak perduli dengan kejadian yang sempat dia alami. Akhirnya Pria malas itu membereskan ulang berkas-berkas yang sempat dia siapkan. Sehubung dia sudah selesai melakukan tugas, kini saatnya Pria malas itu bergerak untuk meminum kopi panas buatannya. "Assalamualaikum, Om Bimo." Itu adalah suara Rey. Jika ada Rey, pasti akan ada Rain, Bapaknya. "Wa'alaikumussalam, Rey. Ini Om Bima ya bukan Om Bimo, kalo mau ganti nama eike kamu harus bikinin nasi kuning dulu sama sesajen dan kembang tujuh rupa, ya." Bima nyengir, Rey juga nyengir. Sedangkan Rain tidak perduli percakapan aneh mereka berdua. Dia lebih memilih menghilangkan penatnya di atas sofa milik Bima, bersama kopi panas sahabatnya yang belum tersentuh. "ITU KOPI GUA, HUJAN!" "Sebagai bonus dari pesangon yang gua tambahin kemarin," kata Rain. "Taik." Rey memandang Bima. "Bau dong, Om." "REYHAA--" Ucapan Bima terputus taktala Rain angkat suara. "Rey, kamu ke kamar Om Bimo dulu ya, Papa sama Om Bimo mau ngomong hal penting khusus orang dewasa." Rey mengangguk kemudian melenggang pergi. Rain menghela napasnya sebelum bicara. "Gua mau cerita soal pernikahan gua, Bim." Bima mengangguk-anggukan kepalanya, dalam keadaan seperti ini, dia harus sebijaksana Bapak Mario Teguh untuk sahabatnya. Akhirnya, mereka berdua saling memberikan informasi yang telah didapat, sampai melupakan Rey yang kini tengah memainkan sebuah pisau lipat di kamar Bima lalu menyimpannya dalam saku celana. Dan jangan lupakan bahwa besok adalah pernikahan Rain dan Luna. Siapkan amplop dan do'a untuk kedua mempelai, dan jangan lupa bawa kamera, karena di sana akan ada Bima dengan ketampanan yang dia aku-akui dari Dewa Fortuna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN