Bagian 3

2367 Kata
Tidak ada yang menyenangkan untuk hari ini bagi seorang Clara Diana. Perempuan beriris biru kristal itu tengah bersembunyi di sudut lemari bersama air matanya yang tetap setia mengalir sejak kemarin sore, tepat di mana kata-kata Rain masih terngiang jelas untuk menikahi Luna, yang sudah jelas bahwa kehamilannya bukan lah sebuah tanggungjawab dari Pria beranak satu itu. Hari ini pun Clara memutuskan untuk absen, rasanya tak sanggup jika dia harus mengikuti mata pelajaran yang pastinya akan terganggu oleh bayang-bayang wajah Duda incarannya, dan entah kenapa pula rasa jatuh cintanya kali ini begitu menyika, semakin dia mencoba untuk melupakan, semakin besar pula dia mencintainya. Menyebalkan memang. Ting. Ting. Tiba-tiba saja terdengar nada notifikasi pesan singkat dari Manda, screen ponsel Clara berkedip dua kali, membuat sang empunya merasa penasaran setengah mati dengan pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya. Mandaaa • Cla, lo gk masuk sekul? • Tugas numpuk nih, gw jd gk bisa nyontek, hewhew Read. Clara mematikan kembali ponselnya, dia tak berminat membalas pesan dari Manda yang menurutnya tidak memiliki makna penting, bahkan tidak menyangkut kabar berita tentang Duda atau kabar tentang acara pernikahannya akan dibatalkan? Ting. Mandaaa • Cla, duda lo mao merit sm si luna, njir! Ktnya acara dilaksanain 4hr lagi, gokiiill, tp lo baik2 aja kn? Read. Tidak sanggup. Tidak sanggup. Tidak sanggup. Clara tidak sanggup lagi! Ini benar-benar menyakitkan. Semuanya benar-benar membuatnya kesal! "AAAAAAAAAAAAA!!!" Clara teriak, perempuan itu langsung memegang kepalanya, berdiri dari tempatnya bersembunyi dan berjalan lunglai menuju kamar mandi. Menyalahkan shower dan membiarkan tubuhnya basah bersama air mata yang terus meledak menjadi-jadi. "Kalo kayak gini terus caranya, mana mungkin gue bisa idup," lirihnya sambil mengambil sabun cair di dalam lemari kaca yang tersedia. ××× Dilain tempat, Bima sedang memakaikan body lotion untuk Rey dan juga untuk dirinya sendiri. Siang seperti ini memang sangat rawan untuk manusia yang takut dengan sinar matahari, terutama Bima. Pria tampan nan abstrak itu mulai menepuk pelan punggung kecil milik Rey, anak dari Duda tampan yang kini sedang dilanda rasa bosan. "Om Bimo, Yey mau main sama Tante Cyaya." Bima mendengus, siang-siang seperti ini lebih bahagia jika merebahkan diri di atas kasur dengan kipas angin yang menyala, apalagi kalau ditambah dengan hidangan jus jeruk asam-manis di sampingnya. Tapi apa lah daya seorang Bima kalau anak sahabatnya meminta main dengan Perempuan yang baru dikenalnya akhir-akhir ini. "Kapan-kapan aja deh, Rey. Om Bima capek, mending kita tidur siang aja yuk!" Ajak Bima. Rey menggeleng. "Om Bimo, kata Pap--" "Ayo kita otw!" Potong Bima dengan cepat, sebelum anak laki-laki tampan itu berbicara lebih jauh dan semakin membuat Bima pusing tak karuan. "Yes!" "Tapi ada syaratnya," Bima menguap. "Kita tunggu Tante Manda pulang sekolah dulu, karena yang tau rumah Tante Clara cuma Tante Manda, oke?" Sambungnya. Rey mengangguk lucu, kemudian melihat pergelangan tangannya yang terdapat jam bergambar Mickey Mouse sambil tersenyum merekah. "Sekalang udah jam belapa Om?" tanya Rey pada Bima sambil menunjukan jam barunya kapada Pria tampan nan malas itu. "Jangan sombong Rey, Om gak akan tertarik dengan jam gambar boneka kayak gitu, lagipula Rey 'kan cowok, kenapa gak minta dibeliin jam bergambar Hello Kitty atau Cinderella?" "Om Bimo!" Bima nyengir, kemudian menarik lengan Rey untuk melihat jarum pendek yang berhenti di angka keberapa. "Rey, kamu percuma aja dibeliin jam tapi gak tau kalo sekarang ini jam berapa." "Om Bim--!" "SEKARANG JAM SATU LEWAT LIMA BELAS, REEEY!" Bima, langsung lari terbirit-b***t sebelum Rey menyemburkan ingusnya karena kesal dan tentu saja kaget karena ucapannya. ××× Pukul 2:54 P.M. Itu berarti siang ini akan berubah menjadi sore hari dalam kurun waktu beberapa jam kemudian, dan saat ini perempuan setinggi 161 cm itu tengah menikmati sebuah kuaci sisa-sisa dari terakhir kalinya dia keluar rumah sebelum memutuskan untuk mengurung diri. Miris memang, tapi ini lah cara dari seorang Clara Diana untuk mengganjal perutnya yang sudah berteriak histeris meminta diberikan jatah. Karena ikrar aksi mogok makan dan minumnya, hingga tidak ada pula manusia yang mengingatkannya untuk mengisi perut, jadi lah seperti ini nasib yang sekarang dia lalui. "Emak gue arisan mulu kerjaannya!" "Hari ini mogok makan-minum, itu pun sama aja rasanya kayak hari-hari biasa." "Emang begini nasip jadi perawan." "Coba aja, Duda ada di sini, auto khilaf biar dia nikahin gue, eh?" "Dasar Luna cabe-cabean!" Clara mengerang, dia membuang sembarang kulit kuacinya dikolong tempat tidur bersama ponsel canggih yang sekarang tengah berkedip-kedip dua kali, menandakan ada pesan yang masuk. "Gue gak perduli, gue capek--" "CLARAAAA BUKA PINTUNYAAA! DI SINI ADA REY SAMA BIMA LOOOOOHH--!" Clara melotot, itu suara Manda. "DUDANYA ADA GAK?" "DUDA LAGI FITTINGS BAJU SAMA LUNA LAH, BEGE!" Clara lemas, kemudian dia bangkit, hancur sudah caranya untuk move on kalau sekarang saja dia masih menanyakan Duda nya, dan apa tadi yang dibicarakan oleh Manda? Ada Rey di luar kamarnya? Gila! Ini kesempatan emas, dan ini beneran terbukti, pelet ikan telah berada di tangan gue yang notebenenya sebagai pemancing, jadi, bisa berbuat apa lagi si Duda yang jadi ikannya kalo si Rey aja demen ke gue terus? Batin seorang Clara Diana yang tidak berakal, dan tidak berkeperimanusiaan, mengingat kesimpulannya tempo hari. Akhirnya, dengan sedikit semangat dan niat yang di bawah rata-rata, Clara memutar kunci, kemudian menarik knop pintu dan terlihatlah tubuh tingginya Bima, tubuh kecilnya Manda yang tidak semampai dengan dirinya, dan juga tubuh mungil Rey yang tengah memeluk kaki jenjang milik Pria malas yang kini telah memasuki kamar seorang Clara Diana sebelum diizinkan masuk oleh si pemilik. "Heh, gak sopan lo!" Cetus Manda. Bima hanya menyengir, sedangkan Rey melihati jam tangannya yang baru. Lagi-lagi Bima memulai ulah. "Heh, Rey! Gak boleh sombong, Tante Clara gak suka anak yang sombong--" "Hush! Lambene lemeeeeesssss ora ada apik-apik e." Kata Manda. Bima melotot, Manda kembali ikut melotot sedangkan Clara yang melihatnya mulai jengah dan sesegera mungkim untuk keluar dari kamarnya bersama Rey, kemudian mengambil kunci dari dalam dan mengurung mereka berdua. Clara tersenyum mengejek, Rey pun mengikutinya. "BIKIN DEDEK YA, MAN, BIM!" "Tante, Om Bimo sama Tante Mandla mau bikin dede?" Rey bertanya lugu. Clara memalingkan wajahnya menuju kontur mungil milik Rey dan segera mengangguk cepat. "Iya, Tante Manda sama Om Bima mau buat dede bayi biar Rey ada temen mainnya. Setuju, kan?" "HEH! MULUT LO GUA SUMPEL BIKINI, MAO?!" Teriak Manda dari dalam. Clara hanya tertawa, kemudian pergi bersama Rey yang juga ikut tertawa. ××× Tidak terasa, waktu telah berlalu begitu cepat, pernikahan akan segera dilaksanakan tiga hari mendatang, membuat julukan 'Duda' pada dirinya akan berganti menjadi seorang 'Suami' dari perempuan bernama lengkap Luna Marliana tersebut. Pagi yang kurang bersahabat, langit yang tidak terbilang gelap ataupun cerah, cuaca hari ini benar-benar menggambarkan isi hati seorang Rain Reino, Duda tampan yang sangat diidamkan oleh Clara, Perempuan yang kini dilanda rasa dilema. Rain tersenyum. "Andai, waktu bisa diputar." Duda beranak satu itu mulai memejamkan matanya di hadapan cermin kabinet yang bertengger dengan kokoh. "Tapi itu hanya andai, saya tidak bisa mengubahnya, apa lagi kalau sudah menyangkut urusan perasaan, itu hanya Tuhan yang mampu membolak-balikan rasa setiap manusia." Rain mulai membuka mata, menatap dirinya sendiri di hadapan cermin yang lebih besar darinya. "Saya jadi ingat kenangan di mana awal pertemuan saya dengan Perempuan cantik bernama Clara itu." Lalu, Rain tersenyum lagi, lebih terlihat hampa dan menyakitkan, pikirannya mulai menerawang pada tempo lalu, tepat di mana pertama kalinya dia merasa damai saat melihat wajah Perempuan yang damai walau sikapnya begitu hiperaktif. Ya, Perempuan itu adalah Clara. Di pagi itu, cuaca begitu terlihat gelap, angin serta debu-debu kecil terlihat saling bersahutan, membuat kedua Perempuan yang berada di depan halaman rumah Bima mengaduh taktala butiran debu yang bergerak karena angin mengenai mata mereka. Rain yang melihat aktivitas mereka dari balik jendela rumah sahabatnya itu hanya tersenyum kecil, lucu rasanya melihat kedua Perempuan tersebut tengah mengedipkan matanya berkali-kali. Tapi, fokus Rain kali ini hanya untuk satu Perempuan diantara keduanya. Siapa, Manda? Tentu saja jawabannya tidak! Yang berada pada tatapan intens Rain bukanlah Manda, tetapi Clara. Ya, seorang Clara Diana. Rain terus menatap Clara, Duda beranak satu itu terus dibuat fokus oleh rasa penasarannya. Dia dapat melihat Clara yang tengah memegang sebuah cermin kecil hanya untuk melihat matanya yang mungkin saja terasa perih karena berhasil dijumpai oleh debu-debu nakal yang menghadang. Rain juga dapat mendengar ucapan keduanya yang begitu memekik karena udara kali ini terbilang cukup dingin. Clara mulai menatap Manda saat mata merahnya sudah lebih baik dari waktu sebelumnya. "MANDA! KITA BOLOS AJA YUK!" Sedangkan Perempuan yang dipanggil namanya mulai membelalakan mata, dapat terlihat bahwa dia tidak suka dengan tawaran yang berikan oleh Clara. "AYOK!" Rain menggeleng, hanya karena cuaca mendung dan dabu-debu yang berhasil menjadi tamu pada dua bola mata mereka di pagi hari ini, dengan mudahnya pula dua Perempuan cantik berbeda warna kulit itu merencanakan bahwa tidak akan adanya masuk ke sekolah untuk hari ini, begitu isi pikiran Rain. Dan ... itu adalah cerita pertemuan pertama Rain dengan Clara. Walau mereka tak saling bertatap muka, hingga akhirnya pertemuan mereka benar-benar terjadi ketika Rain dan Luna ingin menjemput Reyhan dikediaman sahabatnya. Awalnya Rain kikuk, tetapi dia harus bisa membiasakan diri seolah tidak memilik perasaan apa pun pada perempuan yang masih berstatus sebagai pelajar itu. Perasaan, ya? Benar sekali, Rain telah menyimpan perasaan untuk Clara. Secara tidak sadar Pria beranak satu itu telah lebih dulu menyimpan rasa untuk Perempuan yang akhir-akhir ini selalu dia ikuti dalam diam. Semenjak pertemuan di hari itu, hingga saat ini. Rain telah mencintai Clara. Rain juga tahu bagaimana aktivitas Clara bersama Rey ketika Bima justru asik tertidur di siang hari ketika dia titipkan anaknya pada sahabat tidak tahu dirinya itu. Dia juga tahu Clara lah yang telah menjaga anak pertamanya hingga berhasil membuat hatinya terpukau. Tapi sayangnya, sekarang takdir berkehendak lain, Rain harus bertanggungjawab atas perbuatan yang bukanlah tanggungjawabnya. Dia harus menikahi Luna. Rain benar-benar tidak semangat, namun dia juga tidak merutuki kata-katanya. Anggap saja pernikahan ini adalah sebuah balas budi karena Luna selalu ada di sisi Rey, anaknya. Semoga pula, Rey dapat merasakan kebahagiaan mempunyai seorang Ibu dan semoga pula Luna dapat menjadi seorang Ibu yang baik untuk Rey dan anak yang sedang dikandungnya. Walau nyatanya, Rain akan menyakiti masing-masing hati dari dua Perempuan yang sangat memiliki arti yang berbeda di dalam dadanya. ××× Tidak begitu membosankan untuk Rain, berbekal kopi dan dinginnya malam ini, dia dapat bersantai di teras rumahnya yang langsung terpampang jelas langit gelap yang tidak terisi oleh benda apapun selain bulan yang sebentar lagi tertutup awan. Pukul 2:02 A.M. Itu tandanya pernikahan Rain semakin mendekat, hari ini adalah hari Jum'at, tepat dua hari lagi pernikahan akan segera dimulai. Tetapi Pria tampan dan berwibawa itu tak kunjung mengistirahatkan dirinya, membuat Bima yang sedang asik mengukir setiap nama seseorang di atas kertas undangan pernikahan berwarna gold itu melirik tak minat. "Kenapa lo?" Rain menoleh sesaat sadar bahwa dia yang tengah diajak berbicara oleh sahabatnya. "Gak pa-pa," "Yakin?" Kemudian Bima menghampiri Rain, dia juga ikut bersinggah di samping Duda sambil melihat langit malam yang begitu membosankan baginya. Bima membuang napas lelah, kemudian dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kalo gak ada rasa, kenapa harus dipaksa sih?" Bima bertanya, menatap kearah sahabatnya yang kini memejamkan mata. Mungkin dia sedang berpikir sesuatu, itu yang ada dipikiran seorang Bima Andreas. Rain tak kunjung menjawab, membuat Bima tak tahan dengan diamnya. "Kalo butuh pendengar yang baik, gua bisa ... Rain yang sekarang beda banget sama Rain yang gua kenal dulu waktu sekolah, dia yang dulu kalo ada masalah selalu cerita ke gua." Rain membuka matanya, menatap Bima dengan tatapan sayu. "Gak setiap masalah bisa diceritain, Bim." Tersenyum, itu yang sedang Rain lakukan sekarang. "Kalo kesel, gak suka, dan banyak masalah, ungkapin! Jangan dipendam sendiri, kita itu bukan Perempuan, In, kita itu laki-laki yang udah dari dikodratin lebih kuat dari Perempuan, masa lo kalah sama Perempuan yang kuat, lo bukan banci, kan?" Jelas Bima, terkadang Pria itu sangat bijak, tetapi bijaknya sangat menyakitkan. Dengusan lemah Rain begitu terdengar pilu di telinga Bima. Kedua Pria tampan itu mulai diam dalam beberapa menit sampai akhirnya Bima lah yang mulai angkat bicara meneruskan pembicaraan mereka, bersama angin malam yang menjadi saksi bisu di mana perasaan milik Rain yang sebenarnya. "Gua lanjut kerja lagi, jangan lupa tambahin pesangon buat kata-kata mutiara yang tadi ya!" Bima nyengir, kemudian terbahak sendiri dan tiba-tiba berhenti. Pria itu memang sangat tidak waras. Rain hanya menatap Bima sekilas, kemudian kembali memejamkan matanya, menikmati semilir angin malam dengan secangkir kopi yang sudah mendingin. Rain benar-benar dilema, dan ini untuk pertama kalinya dia terlihat lemah hingga tidak mampu menyemangati diri. Duda tampan itu menatap kearah Bima yang masih menuliskan masing-masing nama dari setumpuk kertas undangan. Dia tersenyum hampa, mungkin ini saatnya Bima tahu yang sebenarnya. "Gua jatuh cinta sama Clara, Bim." Sedangkan manusia yang tengah fokus menulis itu langsung memekik kaget. "HAH?!" "Kalo sampe Rey bangun, gak bakal gua kasih pesangon ke elu, Bim!" Bima melotot entah menggambarkan ekspresi yang seperti apa. "DEMI DEWA FORTUNA DAN DEWA-DEWA TAMPAN LAINNYA YANG MENURUNKAN KETAMPANANNYA PADA GUA, LO SERIUS SUKA SAMA CLARA SI RATU BAWEL ITU?! HAH--?!" Bima ... terkejut bukan main. Bagaimana ini bisa terjadi? "Papaaaaaa--" itu suara Rey. "Anak gue bangun, lo gak akan gue kasih pesangon!" Rain beranjak menuju kamar Bima, menemani anaknya yang terbangun setelah mendengar teriakan sahabat tidak warasnya itu, sedangkan Bima terus mengawasi kepergian Rain, dia masih tidak menyangka sampai akhirnya punggung kokoh milik Duda incaran Clara menghilang dibalik pintu cokelat dengan satu tempelan gambar bertulisan 'Aku Tampan' di depan pintu kamarnya. Bima menggeleng. "Gila, gua gak nyangka!" "... gua bener-bener gak nyangka, gila, ini crazy, serius, gua gak bo'ong. Ini gila banget, gimana observasinya itu orang bisa demen sama Clara? Astaga, demi Dewi-Dewi cantik yang sekarang tengah melihat ketampanan gua, gua masih gak nyangka ..." "... tapi gak pa-pa juga, dari pada sama Cleo, Perempuan yang dongonya sampe minta ampun, yang justru ninggalin Rain pas itu orang lagi sayang-sayangnya padahal Rain itu ganteng, tajir, banyak fulusnya juga, aduhh, padahal ngelunakin hatinya Rain itu susah loh asal kalian tau. Sekalinya bisa juga tau ah gak bisa deskripsi lagi gua, manusia itu terlalu sempurna walau masih sempurnaan gua, hahaha~ jangan sampe ada rival lagi." Bima ... tersenyum kecut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN