Freya lebih memilih makan terlebih dahulu daripada mandi karena dia cukup sadar dirinya sangat lemah sehingga membutuhkan energi. Wanita itu menggeleng saat hendak dituntun. "Aku bisa sendiri. Kalian boleh pergi," katanya menolak karena akan terlihat manja padahal dia sudah mengisi tenaganya.
"Maaf, kami diperintahkan tuan untuk menemani Anda," ujar salah satu di antara mereka.
Freya tersenyum tipis menenangkan. "Tidak usah risau kerena aku tidak berniat kabur. Kalian bisa kembali."
Tidak ada bantahan lagi karena setelahnya Freya keluar lebih dulu. Namun, saat berada di kamar wanita itu kaget dengan keberadaan suami barunya yang menatapnya dalam diam. Apakah ada yang salah dengan dirinya? Bagi Freya dia tak melakukan kesalahan apa pun.
"Kenapa mengusir mereka?"
Oh rupanya itu. "Aku tidak terbiasa jika terlalu ramai," beritahunya. "Maaf jika menyinggung niat baikmu," lanjut Freya sudah mulai lebih santai jika bersinggungan dengan pria itu.
Daxton hanya menatap dalam diam lalu mengusir satu per satu dari kamar hotel. Tinggal mereka berdua yang saling diam, Freya yang tadinya hendak berhias pun urung karena diperhatikan oleh sang suami.
"Saya akan kembali," ujarnya berlalu pergi dari kamar meninggalkan Freya yang menatapnya bingung. Heran dengan tingkah pria itu yang kelihatan seperti malu? Kenapa harus malu? Kepadanya? Yang benar saja!
Aneh, Freya memilih menyelesaikan ritual berhias, yang dia dengar dari pelayan suaminya bahwa mereka akan pulang hari ini juga.
Pulang dan bertemu dengan mertua sepertinya agenda yang sangat buruk dan sialnya dia harus melewati fase itu. "Okay bisa, Freya." Tekad Freya tak lagi lemah. Dia merasa sangat percaya diri ketika sudah dinikahi Daxton ... percaya diri akan mendapat perlindungan penuh dari keluarga orangtuanya, tak akan berani mengganggu dirinya lagi.
Sedangkan pada aktivitas yang lain Daxton kembali berkumpul dengan orang tua dan kakeknya ... ditambah sosok Irzal yang selalu membersamai.
"Kamu dari mana?" tanya Esme memicing curiga ketika Daxton pergi usai menerima telepon, apalagi putranya kelihatan berbeda seperti berusaha berpaling muka.
"Mana istrimu?" Kali ini yang bertanya Renzo, tatapan menyelidik curiga pada cucunya sangat kontras dengan sang ayah yang justru menahan tawa renyah melihat putranya salah tingkah.
"Dia kelelahan, Opa. Saya sengaja memintanya untuk istirahat," jawab Daxton mantap lalu mendelik ke sebelahnya saat kakinya disenggol oleh Irzal. Temannya itu menggoda dia, sialan!
"Tidak kamu temani? Biasanya pagi pertama pengantin baru butuh adaptasi, mungkin nonton?" sambung Dante dengan sengaja.
"Tidak seperti yang kalian pikirkan, saya ... oh mana pesan yang kamu maksud, Zal?" Tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan. Bolehkah Daxton heran dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba kembali mengingat memutar ulang malam pertamanya dengan wanita itu. Tak pernah terbayangkan oleh Daxton s*x mampu membuatnya terbuai, apalagi pagi tadi juga mendapati Freya yang baru keluar dari kamar mandi. Rasa panas menjalar di pipi.
"Opa hampir lupa alasan kamu menyuruh kami berkumpul di sini," ucapnya lalu tatapannya jatuh pada Irzal yang membuka laptop lalu menghadapkan ke Dante. Pria paruh baya itu yang lebih paham karena Renzo sudah tak dapat membaca tulisan.
"Pesan ancaman?" Justru Esme yang merespon lebih dulu. "Tanpa nama pengirim."
"Handerson lagi." Renzo mendengus karena perselisihan mereka sampai detik ini masih terjadi padahal dulu seperti saudara. "Opa percaya kamu bisa tangani ini."
"Ulahmu menikahi cucu semata wayangnya, Nak. Mima rasa wanita itu membawa sial keluarga kita," ucap Esme terus terang-terangan menghina Freya, wanita itu sejak awal tidak menyukainya pun sampai detik ini.
Daxton jelas tahu dan pernah di posisi antara kekasih dan sang ibu. Dulu dia melawan Esme untuk pertama kalinya demi mempertahankan Chaterine yang berujung pengusiran dari Dante, tetapi yang sekarang justru disetujui ayah dan kakeknya. Hanya Esme yang tak setuju karena dari sikap ibunya kelihatan jelas sebagai bentuk khawatir. Tidak benar-benar membenci sosoknya. Khawatir putranya akan kembali patah. Bentuk melindunginya adalah dengan mencela pasangan pilihan sang anak
"Opa bisa percayakan semuanya ke saya," ujar Daxton kemudian melirik sekilas pada Irzal. "Setujui ajakan pertemuan Evander. Saya ingin tahu apa yang akan dia lakukan."
"Mungkin datang dengan adiknya," sahut Irzal tak yakin.
"Itu yang saya mau. Saya ingin lihat apa dia akan melakukan hal yang sama mengingat istri saya adalah keponakannya."
Irzal bergidik ngeri membayangkan akan seperti apa pertemuan Daxton dan saudari kembar itu. Berbeda dengan Irzal yang merasa meremang sekadar membayangkan maka lain dengan Renzo yang menyeringai sedangkan Dante terlihat tidak tertarik. Lalu lirikan Daxton jatuh pada sang ibu yang menatapnya dengan khawatir.
"Mima tenang saja, Irzal bersama saya."
Irzal sang panglima perang sangat diandalkan Daxton.
"Tante tenang aja. Saya pastikan akan bawa Daxton pulang tanpa membawa luka."
Kali ini Esme menghela napas menyerahkan segalanya pada sang putra. "Kalau terjadi sesuatu jangan tunjukkan muka kamu di hadapan Mima!" Lalu setelahnya pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Renzo.
"Ayah, saya kembali ke kamar," pamit Dante menyusul istrinya yang diangguki Renzo.
"Sudah tua tetap aja tunduk sama istri. Wanita memang makhluk yang sangat menjengkelkan," kelakar Renzo menggelengkan kepalanya seraya berdecak. Dia melihat sendiri bagaimana Dante sangat mencintai wanitanya.
***
"Kalau perginya bertiga gue nggak mau jadi supir. Ini yang terakhir kali. Jangan harap gue jadi kacung istri lo," ancam Irzal yang didengar juga oleh Freya. Wanita itu kikuk, sejak pertama ketemu Irzal pandangannya yang tajam dan memperlihatkan tak suka padanya berhasil membuat Freya menjaga jarak.
Entah bentuk tak suka di bagian mana, mungkin karena dirinya wanita biasa-biasa saja yang berhasil dinikahi Daxton.
"Kamu turun saja kalau menolak menyupir, Zal. Saya bisa sendiri," usir Daxton dengan wajah datar.
"Selalu gitu. Gue selalu kalah sama lo. Terakhir!" katanya membuka pintu penumpang mempersilakan istri temannya duduk.
"Terima kasih," ujar Freya akan tetapi, tidak dipedulikan Irzal. Pria itu menutup pintu dengan kencang membuat Freya menyentuh dadanya kaget.
"Kamu mau saya pecat," ancam Daxton bukan memberikan pertanyaan, lebih tepatnya pernyataan lisan.
Perdebatan sengit menurut Freya, tapi sudah biasa bagi Daxton dan Irzal karena biasanya pun sehari setelahnya sudah berdamai kembali. Namun, dari sikap tubuh tegang Freya diperhatikan diam-diam oleh Irzal. Irzal berdecih melirik melalui spion tengah yang langsung mendapat dehaman keras temannya.
Lama perjalanan mobil memasuki area kawasan elit tempat tinggal Daxton beserta keluarganya. Jika kemarin Freya hanya di kamar saja maka berbeda dengan saat ini yang matanya bebas melihat sekeliling.
"Bawakan barang-barangnya ke kamar saya!" perintah tegas Daxton untuk membawakan satu koper sedang, hanya beberapa helai baju dan alat mandi—Daxton sangat teliti untuk barang-barang pribadi— mereka menginap cuma satu malam ditambah Freya tak punya barang-barang penting yang wajib dibawa dari tempat mami Charlotte.
"Kami langsung naik," katanya memberitahu pelayan karena Daxton sangat yakin Renzo akan menanyakan keberadaan bila sampai absen.
"Baik, Tuan Muda. Perlu sesuatu?"
"Tidak," jawab Daxton singkat lalu berjalan lebih dulu yang dibuntuti Freya. Ke mana Irzal? Temannya itu langsung masuk ke kamar yang biasa ditempati. Benar-benar seakan rumah sendiri dan Daxton tidak keberatan akan hal itu.