Bab 8. Pertaruhan Nyawa Karena Cinta

1022 Kata
Dari sudut pandang Daxton sosok wanita yang duduk di depannya sebatas teman yang dianggap seperti saudara perempuan, apalagi Daxton kan anak tunggal, ayahnya juga tidak memiliki saudara alhasil merasakan kedekatan dua keluarga bisnis membuatnya diuntungkan karena memiliki teman bermain. Sejak kecil mereka sudah didoktrin bahkan sengaja dipertemukan berdua dengan harapan kedua keluarga bisa menjadi besan. Namun, cinta bertepuk sebelah tangan, nyawa seseorang menjadi taruhannya. "How are you, Dax?" tanya wanita itu tanpa melepaskan kacamata hitamnya. Padahal Daxton belum duduk, tapi sudah dilayangkan sebuah sapaan manis. Ya, senyumannya memang manis. Sialnya dia tak memiliki perasaan apa pun justru tertarik dengan teman wanita itu. "Seperti yang kamu lihat, saya selalu baik." Jawaban tegas Daxton seperti template karena jawaban inilah yang selalu dilontarkan tak peduli bahwa perasaan sedih menyelimuti maka Daxton terlatih menyembunyikan. Luarnya akan selalu terlihat keras. "Sudah aku duga. Tidak penasaran dengan kabarku setelah mendengar kabar pernikahanmu, Dax?" Alis Daxton terangkat naik lantas tertawa karir. "Saya tidak bertanggung jawab untuk patah hatimu, Eva." Hening menyelimuti usai Daxton melontarkan kalimat yang terdengar sangat pedas. Pria itu tahu bahwa yang merencanakan pertemuan ini jelas bukan Evander karena lokasinya berbeda jauh. Mereka ada di sebuah private bar yang dipesan mahal oleh Evalia. Jika Evander yang mengundang, mereka lebih sering menggunakan hotel dan pembahasan bisnis. Walaupun rival keluarga, tapi untuk urusan bisnis Daxton dan Evander cukup bisa bersikap profesional. "Segera katakan tujuanmu, Eva. Saya tidak punya banyak waktu," ujar Daxton mendesak, gerakannya yang mengangkat tangan melihat jam membuat Evalia berdecak tidak suka. "Aku hanya minta bertemu kurang lebih dua jam, tidak menyita waktu tujuh harimu. Santai sedikit, pesan minuman yang kamu mau," kata Evalia tak mau kalah. "Sepertinya keponakanku cukup menjadi pancingan pertemuan kita. Tidak pernah berubah entah dulu ataupun sekarang, perasaanku masih sama bahkan semakin bertambah." "Jangan sentuh dia!" sentak Daxton dengan wajah datar dan tak lupa rahangnya terlihat mengeras sampai menonjolkan urat-uratnya. Evalia yang disentak sama sekali tidak ada rasa takut-takutnya justru wanita itu dengan berani memajukan tubuhnya menyeringai dengan sengaja. "Kenapa? Dia hanyalah bocah kecil yang keberadaannya membawa sial." Lalu tubuhnya kembali duduk dengan tegak. Sial! Jika yang mengatakan Esme tentu tak akan diambil pusing oleh Daxton, tapi ini bibinya sang istri yang kelihatan sangat tidak menyukai keponakannya dinikahi Daxton. "Akan saya perlihatkan bocah kecil pembawa sial yang kamu maksud barusan akan diperebutkan termasuk oleh ayahmu sendiri." Skakmat! Daxton beranjak, tetapi tak langsung pergi. Tatapan mata telanjangnya mengintimidasi dengan cara memindai yang tak dipedulikan oleh Evalia. "Saya pastikan tidak akan bernasib seperti Chaterine, saya tidak akan tinggal diam." *** "Di mana?" Ponsel yang ada di daun telinganya Freya jauhkan saat suara seorang pria mengagetkan dirinya, nomor asing yang tidak dia ketahui. Namun, suaranya seperti familiar. "Ini siapa?" "Suamimu." Jawaban di seberang sana membuat Freya tersentak. Dia mendelik menatap ke depan—pada kolam renang—lalu membasahi bibirnya sebelum menjawab. "Aku di halaman belakang." Sambungan langsung diputus sepihak. Freya meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Dia keluar dari kamar saat merasa jenuh selama seharian berada di sana. Karena tidak mengenal anggota keluarga ini juga merasa segan jika sok kenal alhasil Freya mendatangi halaman belakang yang sangat luas. Hanya duduk seorang diri selama hampir dua jam dengan lamunan panjang. Tidak lama kemudian seseorang duduk di kursi rotan sebelahnya. Posisinya yang bersebelahan membuat Freya kurang nyaman. Membenarkan posisi duduknya lalu menoleh pelan-pelan. Tidak ada pembicaraan apa pun karena baik Freya dan Daxton sama-sama menatap ke arah kolam. Isi kepala mereka terlalu sibuk sendiri-sendiri. "Saya bertemu dengan Evalia," ujar Daxton tiba-tiba. Tak ada respon berarti dari sang istri membuat Daxton menahan sabar. "Saudari orang tuamu. Kami berbisnis baik dengan Evander." "Mereka juga kembar?" Kepala Freya menoleh ke samping secara sepenuhnya menjadikan Daxton pusat perhatian. Yang barusan dibilang suaminya baru didengar Freya karena dia tidak tahu saudara ayah dan ibunya. Yang dia tahu kakeknya yang iblis dan dua anaknya lagi. Tidak ada balasan dari suaminya wanita itu pun tak menunggu penjelasan lebih, baginya tidak begitu penting informasinya orang-orang yang mengutuknya; tidak menyukai kelahirannya. “Kamu bisa saja tidak mau tahu. Informasi barusan penting kamu ketahui, berhati-hatilah terhadap Evalia.” Usai mengatakan peringatan pada istrinya Daxton beranjak meninggalkan Freya seorang diri. Seakan jamuan malam pertama mereka sudah dilupakan pria itu sehingga sikapnya kembali seperti sedia kala. Freya menggeleng menghela napas, memangnya apa yang diharapkan dari sosok Daxton? “Seperti ini caramu menyambut suami pulang,” ujar Esme berdiri di belakang kursi yang diduduki menantu barunya. “Tidak pernah diajarkan bakti seorang istri oleh ibumu?” “Ibuku sudah meninggal.” Rahang Esme mengeras. “Sengaja membuat saya merasa bersalah?” Sinis Esme langsung berdiri di hadapan Freya yang masih duduk menghadap kolam renang. Hubungan mertua dan menantu memang sangat aneh. “Maaf, aku tidak berniat menyudutkan,” balas Freya santai lantas berdiri berhadapan dengan sang mertua. Senyum wanita itu sangat mencerminkan kesopanan walaupun lisannya berkata sangat datar akan tetapi, Freya menghormati Esme dengan tulus. Memang cara bicaranya yang seperti ini yang dinilai kurang sopan. "Cih." Esme berdecih tidak suka. "Jangan senang karena berhasil dipilih Daxton. Jika kamu berniat mengambil sesuatu dengan masuk ke rumah ini jangan harap!" "Maaf bukan aku yang menginginkan masuk ke rumah ini. Daxton sendiri yang mendatangiku dengan menjanjikan sesuatu, aku rasa hubungan kita sudah jelas karena saling membutuhkan. Anda tidak perlu khawatir, aku tidak tertarik dengan harta keluarga ini." Cerdas sekali perkataan Freya, tak berniat mengintimidasi secara langsung akan tetapi, lawan bicaranya langsung kena mental, tutur katanya juga terdengar sopan, meskipun membalas ketidaksukaan Esme. Esme berpikir menantu barunya sangat lugu yang mudah dipengaruhi jelasnya dibodohi. Dia berpikir mudah menyingkirkan Freya dari sisi Daxton, tetapi baru pertama kali berhadapan langsung dapat menyimpulkan sesuatu. Bukan seringai lagi yang Esme perlihatkan, menatap punggung menantunya yang berlalu meninggalkan dia seorang diri ada segaris senyum tipis. "Dia orangnya?" Lalu terkekeh sarkas berdeham pelan. Sedang di dalam kamar, saat Freya balik badan dibuat terkejut karena rupanya sang suami berdiri di belakang pintu. "Mima terkesan." "Aku tidak melakukan apa pun." Entah sebuah pertanyaan atau pernyataan Freya tak begitu peduli, wanita itu berlalu hendak menuju ke kamar mandi akan tetapi, lengannya dicekal oleh sang suami. Keduanya saling berhadapan. Freya mengerjap saat wajah pria di depannya semakin mengikis jarak. "Ayo kita menangkan permainan ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN