Amora berjalan santai keluar dari kamar mandi tanpa menghiraukan tatapan 'lapar' dari Xander. Membiarkan titik-titik basah dari ujung rambutnya menetes begitu saja. Masuk ke ruang ganti dan melolos satu tshirt serta celana Panjang. Setelah berpikir panjang mendengar apa yang Xander ungkapkan, ia berpikir menjadi sangat egois karena Xander miliknya adalah pilihan yang benar. Tuhan saja pemaaf dan selalu memberi kesempatan yang tak terhitung pada umatnya. Lantas, Xander hanya meminta satu kesempatan kenapa dirinya tidak bisa. "Kau menggodaku?" Xander berseru. "Apa?" Amora menyahut santai. Xander beranjak bangun. Siang hari di Hat Yai terlalu terik baginya yang biasa menikmati musim gugur Paris. "Kau memberi kode seolah siap untuk aku terjang.” Xander berbisik rendak di antara

