Hari ini Cia kembali beraktifitas. Dia tidak bisa absen terlalu lama atau nasib pekerjaannya akan dipertaruhkan. Selain itu, dia juga tidak bisa membebankan semuanya pada Dika. Pria itu belum sepenuhnya pulih dan saat mengingat begitu banyaknya pekerjaan yang dikerjaan oleh sekretaris Agam, tentu Cia tidak bisa tinggal diam. Apalagi sekarang dia memiliki hutang yang nominalnya bisa ia gunakan untuk berlibur di kapal pesiar termegah di dunia. "Saya bantu." Dika tiba-tiba datang untuk membantu Cia yang tengah menyusun map agar bisa ia bawa sekaligus. Pria itu baru saja kembali dari lantai bawah dengan membawa sebuah buket bunga di tangannya. Mawar merah, bunga yang terlihat mencolok karena warnanya yang begitu menyala. "Nggak usah, Kak. Saya bisa kok," ucap Cia melirik bunga itu penasaran

