Bagian 16. Laki-laki Tidak Waras

1217 Kata

"Mak, di rumah sepi enggak ada Bang Zain. Apa Aya boleh menginap di sini?" Aku menatap wajah lembut Umak penuh harap. Baru beberapa menit aku di sini, rasanya hati terasa lebih nyaman dan tentram. "Tentu saja boleh," sahut Umak cepat, "Sebelum Zain selesai dengan urusan di sana, sepertinya memang lebih baik kamu menginap di sini. Selain sepi, di rumah kamu sendirian juga mungkin tidak aman." "Benar boleh, Mak?" tanyaku semringah. "Iya. Umak justru sangat senang kalau kamu mau menginap. Di rumah berdua saja dengan Abah rasanya sangat sepi. Makanya dulu kami meminta kamu dan Zain tinggal di sini. Tapi kalian justru pindah." "Iya, Mak. Sebenarnya Aya mau saja tetap tinggal bersama Umak dan Abah di sini. Tapi bagaimana pun juga kami perlu belajar untuk hidup mandiri." "Iya. Umak paham. Ti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN