Bagian 15. Pulang

1410 Kata

“Sayang!” Dia berdiri di ambang pintu yang terbuka. Sudut bibirnya terangkat, mencipta senyum indah yang sangat kurindu. Matanya teduh menatap ke arahku yang tak percaya, yang terdiam takjub dengan mulut dan mata sedikit terbuka. Aku yang saat itu sedang duduk sambil menyandarkan kepala di sofa ruang tamu dengan mata yang memejam untuk menenangkan beban rasa yang membuncah karena kepergiannya, sontak duduk tegak. “Abang ...!” Aku berseru riang dengan hati yang menggebu rindu, merasakan bahagia yang serta merta datang menyapa, yang masuk memenuhi rongga d**a hingga terasa meluap-luap. Jantung menari riang, mencipta degupan yang membuat hati berdebar. Aliran darah terasa melaju cepat, menimbulkan desir-desir yang menjalar di setiap lini tubuh. Dia masih berdiri di ambang pintu.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN