Bagian 17. Petuah Umak dan Abah

1927 Kata

"Mana barang-barangnya?" Umak bertanya heran ketika aku kembali dengan tangan kosong. Dahinya tampak bertaut. "Aya enggak jadi pulang, Mak," sahutku. Aku menimbang apakah perlu menceritakan tentang Andra kepada beliau. "Kenapa?" "Ay!" Abah keluar dari arah dalam, menyongsongku yang baru saja menginjakkan kaki di teras rumah. "Abah sudah pulang?" Aku terselamatkan sejenak dari rasa bimbang untuk menjawab apa atas pertanyaan Umak. "Iya," sahut beliau. Aku segera menghampiri laki-laki itu untuk mencium punggung tangannya. Abah juga seorang guru. Beliau mengajar di salah satu sekolah dasar di kota ini. Aku melanjutkan kuliah di jurusan keguruan karena ingin mengikuti jejak beliau. "Kata Umak kamu mau menginap di sini?" "Iya, Abah." "Kata Umak tadi kamu pulang mau ambil baju. Man

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN