“Kalau jam dua belas masih ada yang demo, kalian yang kupecat!”
“Si-siap, Bos!”
Begitu ruangan sepi, Bara membanting diri di kursi. Kepalanya berat. Dadanya sesak.
Masalah datang seperti air bah, dan semua karena satu wanita.
Bara sadar, akar permasalahan ini bermula dari seorang gadis yang datang ke kamar hotelnya. Mengira gadis cantik itu yang bodoh, tapi nyatanya dirinya lah yang di bodohi gadis itu.
Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Hilda dulu, gadis cantik nan angkuh yang sudah lama mengisi hatinya, tetap membantu walau tau gadis itu tak pernah mengucapkan terima kasih. Dan bagaimana bisa setelah sekian lama, wajah Hilda masih tak menunjukkan tanda kedewasaan, justru berubah semakin cantik, segar, dan bagian lain anggota tubuhnya justru makin indah, seksi, menggoda matanya, membuatnya tak bisa berpaling, tak peduli tatapan matanya liar, terang-terangan menginginkan gadis itu. Ia bagai singa yang sudah lama menahan lapar.
Semua makin aneh saat Hilda mengatakan jika dia sedang dalam kondisi lupa ingatan. Benarkah lupa ingatan bisa mengubah sifat seseorang? Gadis yang dulu waktu kuliah punya geng, tebar pesona kesana kemari, namun langsung mengabaikannya saat ada yang tertarik. Hilda dahulu adalah definisi bunga mawar. Indah namun menyakitkan dengan duri-duri nya.
Entah mengapa sifat ketus gadis itu kini jadi lembut, tutur katanya anggun, nadanya rendah, sopan santun, tak ragu mengucapkan maaf dan terima kasih, kata-kata yang tak pernah diucapkan Hilda dulu.
Dan kini, Bara merasa kembali di masa-masa kuliah dulu, kembali bodoh seperti saat mengejar cinta Hilda. Bodoh karena sampai sekarang, setelah pesta itu berlalu selama dua minggu dirinya masih tak berminat mencari tau di mana gadis itu tinggal, tak berminat meminta gadis itu untuk bertanggung jawab atas semua masalah yang di buat.
Selama ini dirinya sudah menjadi pria rasional, tak pernah memberi ampun pada siapapun yang membuat masalah dengannya, bahkan ia tak ragu untuk membunuhnya jika kesalahan nya terlalu fatal. Namun Hilda? Dirinya memaafkan begitu saja? Melepasnya tanpa bertanya mengapa ia melakukan itu?
Bara mengacak-acak rambutnya frustasi. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Mengapa ia begitu lunak pada wanita? Apa semua wanita punya sihir yang bisa melemahkan kekuatannya?
Namun jari-jarinya langsung menyisir rambut tebalnya dengan jari-jari saat sadar asisten pribadinya berdehem di depan meja.
“Ada apa?" Bara tak ingat jika di ruangannya masih ada asistennya.
“Telepon dari ayah anda, Bos." Jeki menyerahkan ponselnya pada Bara.
Bara menghela nafas berat. Ia tahu percakapan itu tak akan menyenangkan.
Begitu panggilan tersambung, suara berat Romli langsung menggelegar. “Kamu menghindari Papa, hah? Dari tadi Papa telepon nggak kamu angkat!”
Reflek jari telunjuk Bara mengorek-ngorek telinganya, seolah suara itu membuatnya jadi tuli. “Maaf, Pa. HP-ku mode senyap,” jawab Bara.
“Alasan!” bentak ayahnya. “Masalah ini sudah sebulan, tapi kamu belum nemu solusi. Kalau kamu nggak bisa beresin, mundur saja dari jabatan Direktur Utama! Papa pilih orang lain yang lebih profesional.”
“Aku juga profesional. Aku lulusan bisnis di Amerika,” Bara mencoba menahan nada suaranya. "Beri aku waktu lagi, kalau satu bulan masalah masih belum selesai aku siap mundur.”
"Pegang janjimu.”
"Siap, Pa,” jawab Bara sambil meneguk air.
"Siapa wanita yang kamu tiduri?”
Brush…
Air yang di minum Bara seketika muncrat keluar. Tak menyangka ayahnya bertanya siapa Hilda.
“Dia…, teman kuliah.” Bara mengelap bibirnya dengan tisu, berusaha bersikap biasa-biasa saja.
“Kalian pacaran?"
Bara memutar matanya, bingung harus berkata jujur atau bohong. “Kami nggak pacaran," entah mengapa dirinya akhirnya jujur.
“Latar belakangnya bagaimana?" Romli bertanya bagai penyelidik mengintrogasi penjahat.
“Seingat ku, ayahnya pegawai negeri."
“Ibunya?" Romli menaikkan sebelah alisnya.
“Mungkin ibu rumah tangga?" Terus terang Bara tak tahu, ibunya Hilda bekerja atau jadi ibu rumah tangga, "Aku tidak tau, kami dulu tidak terlalu dekat."
“Dan sekarang langsung b******u setelah kalian ketemu? Pergaulan macam apa ini, Bara? Selama ini seperti inikah caramu bergaul dengan wanita? Jangan-jangan selama ini kamu suka jajan sembarangan.”
"Enggak, Pa.”
"Ngelak aja terus. Jelas-jelas kelakuan mu b***t masih ngaku baik! Jangan tidur sama wanita sembarangan. Kamu mau kena penyakit kelamin? Kamu suka di porotin perempuan sampai uangmu habis? Kalau kamu suka perempuan itu nikahi, jangan cuma ditiduri lalu di tinggal pergi.”
“Bukan seperti itu, Pa.”
"Terus seperti apa?”
"Aku terbawa suasana karena habis minum.”
"Terus kamu suka kan hubungan badan sama dia?”
Bara diam. Di jawab malu.
"Nikahi dia, Bara. Papa nggak mau perusahaan jadi tambah kacau.”
Tapi Papa tidak tahu, cewek itulah penyebab semua kekacauan ini.
Bara menatap kosong meja di depannya.
Hilda. Wanita itu dulu sangat membencinya. Lalu kenapa sekarang muncul, hanya untuk menghancurkan hidupnya?
“Papa nggak mau tahu. Kalian harus nikah.”
Tut… Sambungan terputus.
Bara terdiam.
Matanya menatap kosong ke udara. Apa sebenarnya tujuan Hilda?
***
“Bos!” Seorang staf datang tergesa, napasnya tersengal.
“Ada apa lagi?” Bara menoleh malas.
“Seorang pria di Jogja mengaku ayahnya Hilda. Dia datang ke rumah, minta pertanggungjawaban anda.”
Dahi Bara berkerut. “Sekarang dia masih di rumah?" Ia berdiri, membenahi kemeja putihnya.
“Dia sudah pulang. Sebenarnya…, bapak ini sudah datang dua kali.”
Bara sontak menoleh, matanya melebar menatap anak buahnya. “Kenapa baru sekarang kamu bilang?!”
“Maaf, Bos. Kemarin Anda sibuk, saya takut info ini mengganggumu. Saya menunggu waktu yang tepat…,”
“Keluar! Kamu dipecat!”
“Tapi, Bos…”
“KELUAR!!”
Pria itu menunduk dan pergi dengan wajah menahan amarah.
“Jeki, atur penerbangan ke Jogja. Atur secepatnya pertemuan ku dengan ayah Hilda.”
Bersambung…