Seorang pria dengan celana cokelat dan atasan kemeja warna beige tengah duduk di sebuah lounge. Musik lembut mengalun pelan, selaras dengan suasana yang lounge yang tenang, sofa-sofa warna navy memenuhi di sepanjang ruangan, tak banyak orang yang ada di sana.
Kaki panjang pria itu menyilang, keluar dari kolong karena tak muat, sebelah tangannya menyeruput sebuah kopi hitam eksklusif. Sebelah tangan nya lalu menyerahkan sebuah dokumen di atas meja pada pria yang berdiri di belakangnya.
“Simpan hati-hati dokumen ini. Kita terpaksa melakukan pertemuan ini di sini, perusahaan terlalu ramai dengan wartawan,” ucap Bara kaku. Wajah tampannya sedikit bersinar, terkena pantulan cahaya sore yang hangat.
Jeki mendekap dokumen dalam dadanya. “Anda sudah benar melakukan suap ini di kamar hotel anda. Terlalu banyak mata yang mengawasi kalau anda melakukan tindakan ini di kantor firma Samuel.” Jeki nampak hati-hati, "bos, boleh tanya?”
Bara memutar bahunya, matanya penasaran menatap asistennya. “Silahkan."
“Bukankah Samuel itu musuh anda? Kamu nggak pernah akur sejak kalian kuliah? Bukankah ini terlalu beresiko kalau kalian kerja sama?”
"Tenang saja. Aku sudah kunci mulut sampahnya, firma hukumnya sudah kusuntik banyak dana. Kalau dia macam-macam aku nggak segan membuatnya bangkrut.” Bara memutar tubuhnya, kembali menyesap kopinya. " “Waktu aku kuliah S2 di Amerika, aku banyak dengar tentang prestasi Samuel di bidang hukum, dia berkali-kali kalau memenangkan hukum para koruptor. Di balik sifat brengseknya, dia menyimpan otak yang masuk akal.” sebenarnya ada banyak pertanyaan dalam benak Bara, Samuel yang dulu sangat mencintai, Hilda, berhasil mendapatkan perhatian gadis itu, sejak kapan mereka putus? Sudah lamakah?
“Sudah dapat nomer Yanto?” tanya Bara malas. Sumpah, jika bukan karena ayahnya yang mendesak agar menikahi wanita itu, ia tidak akan mau berhubungan dengan ayah Hilda.
“Sudah dapat Bos, ini nomer nya.” Jeki menyerahkan ponsel Bara, di dalamnya tertera sebuah nama Yanto beserta nomernya.
“Hari ini dia nggak datang ke rumah?” tanya Bara seraya menatap ponselnya.
“Ini sudah jam lima sore, sepertinya dia tidak akan datang.” jawab Jeki, menatap arlojinya sekilas, memastikan waktu sesuai.
“Apa dia tidak serius ingin menemuiku? Sehari datang, besoknya nggak datang, sudah dua hari nggak datang tiba-tiba besoknya datang lagi.” Bara bersandar pelan di sofa, memperhatikan langit dari kaca-kaca lebar yang perlahan berubah jadi keemasan. Alam begitu tenang, tapi hidupnya tak pernah tenang, pekerjaan, urusan, dan orang-orang mengejarnya bagai angin topan, kencang, jika ia diam nyawanya terancam.
“Kalau kamu mau, saya akan datangi Yanto dan mengajak nya kesini sekarang."
Bara menggeleng. “Aku akan menelponnya sendiri untuk membuat janji."
"BARA…?!”
Seorang pria tiba-tiba berteriak.
Bara pun otomatis mendongak, wajahnya seketika sumringah, ia lalu berdiri, melakukan salam panco, lalu menepuk nepuk lengan pria itu.
“Lama nggak ketemu," ucap pria berkulit coklat tersebut.
"Senang bertemu denganmu.” Bara tersenyum lebar. "Jek, kenalin ini teman kuliahku, namanya Ryan."
Jeki tersenyum lalu menyalami Ryan.
***
Waktu berlalu. Sore kini berubah menjadi malam. Jika Jeki sudah pulang atas perintah bosnya. Tapi Bara justru berbincang bincang dengan teman lamanya. Ingin tertawa bersama setelah sekian lama berpisah. Mereka akhirnya pindah dari lounge ke Bar, tempat yang lebih menyenangkan untuk bercanda dan tertawa keras.
Namun tawa Bara langsung lenyap saat seorang wanita yang berpakaian mini, garis lehermya rendah, memperlihatkan betapa menggoda isinya, duduk mepet di samping Bara, meraba-raba tangannya sambil senyum-senyum.
Srak…
Bara menarik tangannya, ia bahkan pindah di samping Ryan. Awalnya Ryan bingung, namun akhirnya terkekeh.
“Mas, dia udah nikah belum sih?" Tanya wanita asing itu, manja pada Ryan.
Ryan duduk kaku, menggeser pelan duduknya. “Dia belum nikah, tapi aku sudah.” Ryan menunjukkan cincin kawinnya pada wanita itu. Bibirnya nyengir.
“Kalau belum nikah kenapa nggak mau dekat sama aku?" Tanya wanita itu lagi dengan nada manja. Bibirnya mengerucut. Menatap kecewa Bara yang duduk diam memunggungi, enggan menatap dirinya.
“Mungkin dia sudah punya pacar?" jawab Ryan ngawur.
“Huh!!" Cibir Wanita itu, ia berdiri. "Ceweknya pasti nggak secantik aku,” ucap wanita itu sambil berbalik. Pergi meninggalkan Bara, lalu duduk dengan teman-teman wanitanya. Para wanita itu lalu tertawa cekikikan, menertawakan wanita itu yang duduk dengan bibir cemberut, ia lalu tertawa bersama mereka.
"Untung kamu nggak tergoda sama cewek itu. Ternyata mereka taruhan buat goda kamu.” bisik Ryan.
"Aku tau." Bara menyeruput es nya. Memilih tidak minum alkohol, khawatir dirinya menjadi gila. Bara tak mengerti, mengapa tiap kali dirinya habis minum alkohol, dia akan menyebut-nyebut nama Hilda bagai orang gila. “Aku sudah terbiasa sama wanita kayak gitu. Mereka gak akan bisa mempengaruhiku," jawab Bara dingin. Perlahan ia menyulut rokoknya, menyesapnya pelan.
“Aku jadi penasaran.” Ryan duduk mendekat pada Bara. “Lalu siapa yang bisa mempengaruhimu? Ngomong-ngomong ada berapa mantanmu?”
"Gak ada,” jawab Bara sambil menyunggingkan senyum kecil, mengejek Ryan.
“Setelah sekian lama sendiri, nggak pengen nih ada yang menunggumu di rumah? Langsung dibuatkan kopi setelah pulang?”
Bara mengerutkan dahi. "Seperti itukah kehidupan rumah tangga?”
"Iya, emang begitu. Bangun pagi udah ada makanan dimeja. Berangkat kerja semua sudah disiapkan sama istri, pulangnya langsung dibuatkan kopi, di suruh makan, habis makan aku main hp dan istriku mijitin aku.”
“Kamu cari pembantu atau istri?" Bara tertawa.
“Hahaha…" Ryan terbahak-bahak. “Betul-betul tugas istri ternyata kayak pembantu." Tawa Ryan masih belum berhenti. "Tapi istri lebih berguna sih. Istri bisa di pake pembantu gak bisa di pake. Hahaha…”
Bara ikut tertawa.
"Terus kapan kamu pengen punya istri?” tanya Ryan sambil menahan tawanya.
Bara mengedikkan bahu kekarnya. “Entahlah, rasanya aku nggak sanggup buat basa basi kenalan sama cewek, merayu, membujuk itu membuang waktu."
"Pret…!! Emang kamu pernah merayu dan membujuk cewek? Kamu kan nggak pernah punya cewek.”
“Asem!!!” Bara tertawa, kali ini lebih lepas.
“Makanya pacaran Sono, biar tau rasanya bujuk cewek ngambek. Yang paling penting, biar kamu pernah merasa di cintai, biar punya tempat berbagi, biar kalau malam gak kedinginan sih itu intinya, hahaha…”
Bara kali ini tersenyum kecut. Entahlah mengapa dirinya begitu pesimis untuk mencari pasangan.
“Jangan-jangan kamu masih belum move on dari Hilda anak semester satu itu ya?”
“Gak mungkin!" Bara membuang muka.
Melihat Ekspresi Bara yang tiba-tiba berubah, Ryan tersenyum lebar. “Kenapa gak mungkin? Kamu dulu sampai tergila-gila sama Hilda kan? Mau aja di suruh-suruh dia. Bahkan kamu juga mau beliin sesuatu padahal jelas Hilda cuman manfaatin kamu. Masa sekarang udah ga cinta sama sekali?”
“Aku memang bodoh kalau udah urusan sama cewek.” Bara meneguk esnya, wajahnya gugup.
“Cewek? Cewek yang mana maksudmu? Cewek yang membuatmu lemah kan Cuman Hilda?”
“Ah sudahlah, lupakan dia.” Bara tak ingin membahas lagi masalah Hilda.
“Kenapa di lupain? Sudah ada yang baru ya? Yang tersebar di medsos itu kan? Bentar-bentar.” Ryan membuka medsos yang masih membahas masalah Bara tidur dengan wanita. Mata Ryan melotot, mengarahkan layar ponselnya pada Bara. “Cewek ini mirip kayak Hilda.”
“Emang dia Hilda,” jawab Bara cepat.
“Gile… lanjut bosku… kalau jodoh emang gak kemana. Hahaha…”
“Jodoh-jodoh. Aku nggak suka sama dia!” Bara enggan menatap layar ponsel sahabatnya.
“Nggak suka tapi tidur bareng itu apa namanya? Lagi ngelindur kah?” Goda Ryan.
“Ya memang seperti itulah yang terjadi pada kami, nggak sengaja tidur bareng. Anakmu umur berapa sekarang?” Bara sengaja merubah topik pembicaraan.
Ryan tersenyum, kepalanya menggeleng. “Aku belum punya anak. Ya sudah lah di syukuri saja.”
Tring tring tring…
Ponsel Ryan tiba-tiba berdering, ada panggilan video call. Pria itu segera mengangkat telponnya.
“Maaf ya sayang, aku nggak langsung pulang. Habis meeting, aku ketemu kawan lama. Ya sudah aku mampir dulu.” Ryan memperlihatkan layar ponselnya pada Bara. Dan Bara mengangguk pelan pada istri Ryan.
“Kirain ada apa nggak pulang-pulang. Ya udah kalau udah selesai cepat pulang ya? Aku menunggumu dengan baju dinasku nih.” Suara itu genit menggoda.
Ha?
Mata Ryan seketika melebar. Cepat-cepat ia sembunyikan ponselnya. Tersenyum kecut ke arah Bara. Kemudian menyembunyikan layar ponselnya. Tanpa di duga Ryan tiba-tiba sembunyi di bawah meja.
Bara menggelengkan kepalanya. Kelakuan suami istri itu sama randomnya, satu menelpon dengan baju seksi yang satu demi menyembunyikan istrinya yang memakai baju seksi sembunyi di kolong meja.
“Iya iya sayang aku langsung pulang. Ih kamu tau aja gimana caranya nyuruh aku pulang, hihihi…”
Bara hanya bersandar pelan saat temannya keluar dari kolong sambil nyengir padanya.
“Kawan, aku harus pulang."
"Kalau gitu aku juga mau pulang." Bara dan Ryan akhirnya berjalan bersama keluar dari Bar.
“Bara?"
Bugh…!!
Sebuah tinju keras tiba-tiba melayang di wajah Bara.
Bersambung…