20. Keputusan Yang Di Desak

1062 Kata
Musik jazz mengalun lembut di sudut bar hotel, bercampur riuh rendah tawa para tamu. Lampu gantung berwarna keemasan memantulkan cahaya lembut di atas meja-meja kaca. Bara baru saja keluar dengan Ryan, sahabat kentalnya sewaktu kuliah. Tawa renyah sesekali masih keluar dari bibir nya saat sahabatnya berkelakar, mengenang cerita betapa naifnya Bara dulu. Bugh!! Sebuah tinju keras tiba-tiba mendarat tepat di pipi Bara, pria itu pun terhuyung ke belakang. Buru-buru Bara bangkit, jangan sampai pria itu kembali menyerangnya. Bibirnya berdesis pelan saat merasakan perih di di sudut bibirnya. Ujung lengan Bara mengusap bibirnya yang perih, darah hangat mengalir dari sudut bibirnya, membasahi ujung lengannya yang putih. “Bara!”Ryan berteriak panik, mengambil tisu di atas meja, mengelap ujung bibir Bara yang berdarah. “Pulanglah, istrimu menunggumu." Dahi Bara berkerut menatap sahabatnya. Tak ingin pria itu terkena masalah karena dirinya. “Aku nggak bisa pulang sekarang, aku nggak akan meninggalkan mu, Bara." Ryan hendak membersihkan lagi ujung bibir Bara yang masih merembeskan darah. Namun Bara menghindar. Bibirnya tersenyum kecil, tangannya kini bahkan mengeluarkan ujung kemejanya dari dalam celana dengan santai. “Aku nggak sendirian, bro. Ada anak buah yang menungguku di luar.” ucap Bara sambil memiringkan kepala. Menghindari pukulan pria tua yang berusaha memukulnya lagi. “Ya sudah aku pulang ya? Hati-hati." Ryan akhirnya pergi, wajahnya berkabut khawatir. Namun langsung menghembus lega saat melihat dua anak buah Bara akhirnya muncul, menepis pukulan pria tua yang membabi buta menyerang Bara. Dua pria bertubuh tegap berkaos hitam dan celana hitam muncul, sigap menghalau serangan pria paruh baya, kini pukulan berputar balik. Pria paruh baya itu jatuh, di hajar dan di injak oleh anak buah Bara. Bugh-bugh… Bunyi tangan dan kaki yang menghajar tubuh tak berkutik di atas lantai membuat Bara menyuruh anak buahnya berhenti memukul. Ia berjalan mendekat pada pria itu. “Kenapa memukulku? Ada masalah dengan ku?” Bara yakin, pria tua itu hanyalah pembenci dirinya, mungkin salah satu karyawan nya yang ia pecat? Daripada menghajarnya tanpa ampun di saat dirinya dalam skandal besar, khawatir kamera-kamera gelap menyebar foto keburukan nya, lebih baik ia bicara baik-baik. “Orang yang mengambil keperawanan anak ku layak di hajar! Kurang ajar kau, Bara.” bentak pria itu. "Keperawanan anakmu?" Bara tertegun, matanya memincing. Maksudnya Hilda? Dia ayahnya? Semua sudah berlalu terlalu lama, aku tak lagi mengenali dirinya, dia juga sepertinya lupa denganku. “Pura-pura lupa sudah mengambil keperawanan anak ku ya?" Yanto mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Mengarahkan kamera pada Bara. “Seperti inilah kelakuan motivator yang kalian puja-puja. Setelah berhasil merayu anakku, dia membuangnya seperti sampah. Ah aku tau kenapa kau lupa sudah mengambil keperawanan anakku. Sudah berapa banyak keperawanan yang kau ambil sampai lupa habis mengambil punya anakku?” "Matikan kamera mu!” Bara meraih ponsel Yanto, namun gagal, pria itu berhasil menghindar. “Apa? Kenapa aku harus matikan kamera hah? Takut kelakuan bejatmu di lihat orang-orang? Laki-laki yang setiap malam keliling hotel buat nyari cewek baru, kamu lagi nyari mangsa baru kan? Dasar cowok sialan!” Yanto hendak meninju lagi, namun Bara berhasil menghindar. Dan… Srak… Salah satu anak buah Bara berhasil merampas ponsel Yanto. “Kembalikan hp ku, Bara!" Bentak Yanto pada Bara. Bara membuang nafasnya kasar. "Ku kembalikan hp mu setelah kita bicara. Ikut aku!” Bara berlalu pergi. “Kembalikan dulu hp ku!" Yanto mencari ponselnya di salah satu anak buah Bara, namun gagal karena dia di dorong kasar. Yanto akhirnya mengalah, pergi mengikuti Bara ke salah satu kamar. *** Brugh… Tubuh tegap Bara duduk kaku di atas sofa, sebelah tangan nya menekan pelipisnya, kepalanya jadi pusing setelah melihat Yanto. Sesekali menyeka bibir bawahnya yang pecah karena tinju tadi. Dan Yanto tanpa di persilahkan sudah duduk di depan Bara. “Kali ini kamu tidak bisa lolos dari ku, Bara.” Suara Yanto berat. “Dasar berandalan, ternyata selama ini aku kesulitan mencari mu gara-gara kau sembunyi di hotel. Pengecut, berani berbuat tapi nggak berani tanggung jawab. Sudah ku duga kau cuma besar mulut, cuma pinter ngomong, koar-koar memberi motivasi anak-anak muda dengan kata-kata bijakmu, ternyata otakmu kosong, hatimu busuk. Sekarang nikmati saja…,” "Apa maumu?” Potong Bara cepat. "Aku ingin seluruh dunia tau kalau kau bukan pria suci yang terhormat. Apalagi…,” “Apa kau mau anakmu punya suami lelaki gagal? Ekonomi jelek?" “Memangnya kamu mau nikahi Hilda?" Nama itu, Hilda, entah mengapa ada sesuatu yang aneh dari mata sendu Hilda, sesuatu yang bisa menghipnotis dirinya. Bara teringat bagaimana ia menemukan Hilda setelah sekian lama berpisah, tatapan mata wanita itu memelas, membuat Bara tak berkutik, akhirnya ia menuruti apa yang di minta Hilda. Dan sekarang? “Apa aku pernah bilang tidak mau menikahi Hilda?" Ah Hilda sialan. Dalam semalam dunianya berbalik seratus delapan puluh derajat. “Selama ini kamu selalu menghindar, kamu tidak ingin menikahi putri ku.” “Aku sibuk. Gara-gara dia upload foto itu perusahaan-perusahaan ku banyak yang memprotesku." “Sok sibuk!!” potong Yanto tajam. “Kau terlalu sibuk dengan ceramah-ceramahmu?! Terlalu bangga dengan sebutan ‘motivator muda’ sampai lupa kalau ada seorang gadis yang menanggung malu karena perbuatan mu?!” Yanto berdecih. "Cih, kau mau tanggung jawab setelah ku desak kan?” Bara diam, enggan membantah jika dia harus menikahi Hilda bukan karena Yanto namun karena ayahnya sendiri yang mendesak. Seperti inikah akhir kisah lajangnya di usia tiga puluh dua? Karena enggan sibuk mencari pasangan, ia akhirnya menikah dengan wanita yang di paksakan orang tuanya? Ah rupanya dirinya harus di jodohkan agar bisa menikah. Awas kau Hilda! “Aku minta kertas. Kita harus membuat kesepakatan kalau kau serius menikahi Hilda.” Tak berapa lama, beberapa lembar kertas berisi kesepakatan yang di inginkan Yanto sudah tergeletak di atas meja. “Dalam waktu seminggu, aku harus sudah dengar kau mengurus pernikahan.” ucap Yanto dengan senyuman lebar, puas saat tangannya menandatangani kesepakatan mereka. Tak peduli dengan wajah Bara yang tertekan, tatapannya kosong menembus kaca jendela yang gelap. “Anakmu mungkin sedang tumbuh di rahim Hilda sekarang.” suara getir Yanto sontak membuat Bara tertegun, matanya membesar perlahan. “Apa maksudmu? Hilda sedang hamil?” Ada rasa bahagia menancap di dadanya, tapi juga perih. Bara memejamkan mata. Perlahan Yanto berdiri, menatap Bara yang kini tampak lelah. “Kamu tak punya banyak waktu, Bara,” ujarnya sebelum melangkah pergi. Pintu tertutup. Dan Bara terdiam di sana, sendirian, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela, wajah seorang pria yang baru saja melihat seluruh kehidupannya retak dalam satu malam. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN