Gelak tawa beberapa orang mengisi kamar hotel. Harum bunga melati pengantin bercampur lembut dengan aroma parfum mahal menguar di udara. Di sudut ruangan, perias pengantin menyeka keringat dinginnya antara lega, puas, dan gugup jadi satu setelah menyelesaikan riasan sang mempelai wanita. Bagaimana tidak gugup? Pengantin itu memang sudah cantik, tapi kini kecantikannya kian terpancar. Kebaya brukat putih membalut tubuh indahnya dengan anggun, sanggul membuatnya terlihat elegan, dihiasi beberapa mawar di bagian bawah, untaian kuncup melati di atas, dan sebuah mahkota kecil tersemat sederhana di puncaknya. Namun, di balik semua keindahan itu, ada sesuatu yang terasa janggal. Senyum tak pernah benar-benar merekah di bibir merahnya. Wajah cantik itu justru tampak datar, menyiratkan aura tak

