23. Kamar Lain

1072 Kata

Asap mengepul pelan di sebuah warung kopi tepi jalan. Rintik hujan membasahi tenda terpal, menciprat ke tubuh kekar seorang pria yang duduk sendirian di sudut. Kakinya bergerak-gerak tak sabar, matanya menatap kosong jalanan yang sepi. Sesekali kendaraan lewat, membelah malam pukul dua belas. Warung itu satu-satunya tempat yang masih buka. Toko dan resto sudah tutup, lampu-lampunya padam. Bara memilih duduk di sana, butuh ketenangan setelah melewati hari yang penuh sandiwara. Pernikahan yang tak pernah Bara bayangkan, tak pernah ia pikirkan, tak pernah berpikir kapan akan menikah, akhirnya terjadi padanya. Lebih buruk lagi, istrinya bukan lagi wanita yang ia inginkan. Hari yang seharusnya suci, tapi justru terasa seperti penjara. Hilda bukan lagi wanita yang ia inginkan. Ya, Hilda mema

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN