15. Tanggung Jawab

1005 Kata
Suara televisi berdengung pelan di ruang keluarga yang hanya di huni oleh seorang gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun bersama pembantu rumah tangganya yang sepuh. Televisi di ruang tengah itu menyala Sia-sia, tak ada yang menonton, justru menjadi penonton tragedi kemarahan seorang ayah kepada gadis yang ia kira anaknya. Dua wanita yang duduk di sofa, saling menggenggam tangan tak ada yang berani menyela amarahnya, apalagi seorang pembantu sepuh yang sejak tadi hanya berani mondar mandir di ruang keluarga dan dapur. Berusaha memberikan camilan dan minuman yang terbaik, berharap bisa meredakan amarah pemilik rumah yang sesungguhnya. Di sofa, seorang gadis duduk kaku dalam dekapan lengan ibu angkatnya. Wajahnya pucat, tangannya gemetar di atas pangkuan. Dialah Nina, gadis dua puluh tiga tahun yang kini berpura-pura menjadi Hilda yang sudah meninggal, anak orang kaya yang berusia dua puluh tujuh tahun. Dan kini, di hadapannya berdiri seorang pria dengan amarah yang meledak-ledak. Yanto. Ayah Hilda. “Jangan bilang semua ini gara-gara kamu kehilangan ingatan, hah?!” suaranya menggelegar. “Sampai lupa kalau harga dirimu mahal?! Kamu sudah gila, Hilda!” Langkah kakinya mondar-mandir di lantai marmer. Suara nafasnya berat, bagai desis hewan buas. Nina menunduk makin dalam, dadanya sesak. “Mas, jangan begitu!” seru Rina, mantan istri Yanto. Ia merangkul bahu Nina, mencoba melindunginya. “Jangan salahkan Hilda terus. Dia begini juga karena kita. Coba kalau dari dulu kita lebih banyak di sampingnya…,” “Kamu nyalahin aku?” potong Yanto tajam. “Kamu yang didik dia! Tugasku cari uang. Aku aja masih sempat nasehatin dia. Tapi hasil didikanmu? Anak kita tidur sama pria sembarangan, persis kelakuanmu dulu!” Rina berdiri. Matanya merah, suaranya bergetar tapi tegas. “Aku selama ini sudah mendidik Hilda dengan benar. Kamu lah yang memberi dia contoh dengan perselingkuhanmu. Dosamu terlalu banyak, gara-gara kamu selingkuh aku jadi selingkuh, gara-gara kamu Zina sama selingkuhanmu anakmu nyontoh perbuatanmu. Coba kalau kamu gak selingkuh, keluarga kita gak akan pecah seperti ini, Hilda gak akan melakukan Zina karena kita selalu mengawasinya.” Yanto mendengus. “Aku selingkuh karena kamu nggak pernah ngasih aku hakku! Aku laki-laki, Rin. Aku butuh istri, bukan patung di rumah!” “Aku capek, Mas!” bentak Rina. “Capek kerja, ngurus rumah, ngurus anak, ngurus semuanya sendirian! Coba kamu bantu sedikit aja, aku pasti nggak nolak permintaan mu!” “Cukup!!” Suara Nina memotong keras. Ia berdiri di antara keduanya. “Berhenti saling nyalahin! Perbuatanku nggak ada hubungannya sama kalian! Aku... aku beneran kehilangan ingatan! Aku nggak ingat apa pun! Termasuk nasehat kalian!” usai berkata seperti itu, Nina berbalik dan berlari ke kamar. Pintu dibanting. Melempar tubuhnya ke atas kasur. Nafasnya berat, matanya kosong. Haruskah aku benar-benar sedih karena kehilangan keperawanan di tangan pria yang bukan suamiku? Atau pura-pura sedih di depan orang tua yang bukan ayah ibuku? Ketukan pelan di pintu memecah lamunan Nina. “Hilda?” suara lembut Rina terdengar dari luar pintu. “Maafkan Mama, Nak. Mama tahu ini juga salah kami.” Pintu terbuka. Rina masuk, diikuti Yanto yang berdiri kaku di dekat ranjang. Mereka berdiri terpisah, memperjelas jika mereka bukan lagi pasangan suami istri. Rina duduk di tepi kasur, menggenggam tangan Nina. “Kita harus selesaikan ini baik-baik, Sayang,” katanya hati-hati. “Tapi ini mungkin... akan melukai hati Samuel.” Nina mengangkat kepalanya, dahinya berkerut menatap Rina. “Kenapa melukai Samuel? Kami sudah putus.” “Putus?” Rina terkejut. “Bukannya kalian habis datang ke pesta bareng?” Nina menghela nafasnya. “Iya. Tapi di pesta itu, kami putus.” Walau tak ada kesepakatan yang jelas hubungan antara dirinya dan Samuel. Namun Nina tau, inilah yang di inginkan Samuel, bahwa hubungan mereka telah usai. “Ini pasti gara-gara kamu tidur sama Bara, kan?” Yanto menyela kasar. “Makanya Samuel membuangmu!” Nina diam. Tak ingin membantah, lagipula memang inilah yang di inginkan Samuel. Dirinya menikah dengan Bara. Untuk saat ini Nina tak bisa mengelak permintaan Samuel. Toh pada akhirnya dirinya akan kembali pada Mila. Tapi, jika ada kesempatan kabur, tentu dirinya tak akan melewatkan kesempatan itu. “Bara harus tanggung jawab!” bentak Yanto. “Tanggung jawab... gimana maksud Papa?” Nina pura-pura tak tau. "Apalagi? Kalian harus menikah? Berita sudah seramai ini kalau Bara tidak menikahimu mau di taruh mana muka Papa?” Hebat... semua sesuai skenario Samuel. Nina nyengir kecil dalam hati. Tanpa perlu aku dorong, semuanya berjalan seperti rencananya. “Kalau Bara nggak mau?” tanyanya pelan. “Papa bakal paksa dia!” “Dan kalau dia tetap menolak?” Yanto menatap tajam. “Kalau perlu Papa bongkar semuanya! Biar dunia tahu siapa Bara sebenarnya, pemimpin perusahaan yang tidur sama anak orang, tapi nggak tanggung jawab!” Rina ikut bicara, nada suaranya dingin. “Dia itu inspirator muda, kan? Teladan anak muda? Pantes nggak kelakuannya kayak gini?!” Tangan Yanto mengepal. Pukulan keras menghantam meja, meyebabkan gelas jatuh, pecah berserak di atas lantai. “Dia harus bertanggung jawab. Aku tak peduli seberapa tingginya nama Bara. Aku akan datangi dia!” ‘Menarik…’ gumam Nina dalam hati. ‘Ternyata aku sepopuler itu sekarang.’ Semakin dirinya terkenal, tentu membuat Samuel semakin tak bisa membatasi hidupnya. Nina lalu duduk. “Tapi Pa. Aku harus belanja baju dulu. Baju-baju ku sudah ketinggalan zaman.” "Oke, nanti sekalian kamu ke salon. Aku akan hubungi Bara. Malam ini kita ke rumah nya.” *** Hari telah sore dan Nina tampak menikmati waktunya belanja bersama Rina. Sementara Yanto duduk di kafe lantai atas, sibuk menghubungi Bara yang sulit dihubungi. Saat Rina sibuk memilih baju, Nina diam-diam meninggalkannya, berjalan membungkuk di antara rak pakaian agar tak terlihat. Jari-jari Nina mencengkeram erat tas kecilnya yang berisi uang lima belas juta. Uang yang ia minta dari Yanto dan Rina. Mereka tak curiga, mengira untuk belanja baju, sepatu, ponsel, dan beberapa barang-barang yang diinginkan Nina. Jantung Nina berdebar semakin kencang. Saat berhasil keluar dari toko, takut Yanto yang sedang nongkrong di kafetaria di lantai atas melihat dirinya. “Mau kemana kamu?" Suara berat seorang pria membuat jantung Nina hampir copot. Brak… tubuh Nina tiba-tiba didorong merapat di dinding. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN