Ruang meeting di sebuah rumah megah berdinding putih terlihat megah dengan atap yang menjulang tinggi, di sangga dengan tiang-tiang besar nan megah berdiri arogan di teras rumah.
Pemilik Jagat Raya Mineral Holding baru turun dari mobil, berjalan cepat masuk ke dalam rumahnya. Sebelah tangannya masuk ke dalam saku celana, berjalan percaya diri dengan sepatu pantofel yang menghentak lantai. Beberapa orang yang di d******i pria berpakaian serba hitam langsung berhenti dan memberi hormat ketika pria itu lewat.
Rumah megah yang berdiri di Kalimantan itu hanyalah salah satu rumah dari beberapa rumah pria itu yang tersebar di Indonesia. Sebuah rumah megah selalu berdiri di dekat pabrik tempat usahanya yang bergerak di bidang pertambangan.
Dan hari ini rumah megah yang berdiri di Kalimantan itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Para karyawan yang memakai baju serba hitam satu persatu masuk ke dalam sebuah ruang meeting. Setelah itu sang bos memasuki ruangan di ikuti dengan asisten dan dua sekretaris nya.
Bara menjatuhkan tubuhnya di atas kursi putarnya yang lembut. Berputar mengikuti gerakan tubuhnya. Ujung kakinya bergerak-gerak tak sabar, sorot matanya tajam menembus jiwa-jiwa yang sedang berdiri tak jauh darinya. Sebagian besar duduk dibalik meja besar berbentuk lingkaran, dan tiga orang berdiri di depan Bara dengan wajah menunduk lesu.
Hari itu Bara memulai interogasi di depan tiga orang yang ia curigai membawa Hilda masuk ke ruangan nya. Ingin tau apa alasan mereka melakukan itu? Jika terbukti punya maksud buruk pada dirinya atau perusahaan nya, ia tak segan menghabisi nyawanya.
“Kalian yakin tidak terlibat dengan Riki?” Tanya Bara sambil melipat kedua tangannya di depan d**a kekarnya.
Coki mengangguk cepat. “Malam itu, saya dan Restu makan di bawah, jadi tidak tau menahu Hilda masuk kekamar mu."
“Betul, Bos. Kami memang di suruh turun sama Riki," sahut Restu.
"Saya menyuruh mereka turun karena mereka memang belum makan. Kebetulan saya sudah makan, jadi kami bisa gantian jaga.” Riki yang di tuduh memberikan Izin Hilda masuk berusaha membela diri.
“Lalu apa alasanmu menukar Mawar dengan Hilda?" Bara berusaha tetap terlihat tenang.
“Saya…, sebelum nya saya minta maaf karena tidak memberitahukan ini dulu." Riki menunduk penuh penyesalan.
"Lancang sekali kamu. Kau kira kau siapa melakukan tindakan tanpa permisi? Memangnya kamu bosnya?" Salah satu anak buah Bara yang duduk di kursi berdiri, membentak Riki tak terima.
“Tindakan sekecil apapun kalau di lakukan tanpa izin dariku bisa membahayakan aku, nama baikku, bahkan bisa juga berbahaya bagi perusahaan. Dan aku merasa ada yang janggal dari Hilda.” Suara Bara tenang, mengusahakan logikanya yang bekerja bukan amarah semata.
“Jangan ragu hukum dia kalau terbukti bersalah, Bos!" Teriak salah satu anak buah Bara.
"Katakan alasanmu menukar mawar dengan Hilda.” Bara bertanya sekali lagi.
“Itu…, karena saya melihat Hilda sudah berdiri lama di dekat kamar anda. Dia juga berkata kalau dia sudah punya janji akan menunggu anda di kamar. Itulah alasan kenapa saya membolehkan dia masuk.”
"Tetap saja kau harus izin dulu dengan ku.” Mata Bara menyipit menatap Riki.
“Saya pikir karena anda sedang mabuk, tidak akan mengerti apa yang saya katakan.”
Tiba-tiba Bara melempar dua buah tongkat golf di atas lantai, tepat di depan Coki dan Restu. “Pukul dia sampai matii.” Perintah Bara dengan suara landai.
“Tapi bos…!!” Restu tampak keberatan dengan perintah Bara. Kakinya mundur menjauhi stik golf.
Srak…
Sebuah pistol tiba-tiba Bara arahkan pada Restu. Menarik pelatuknya. “Kau pukul dia sampai mati, atau kau yang akan mati?!!" Bentak Bara tak sabar.
“Ba-baik Bos." Coki mengambil tongkat golf di depannya, melotot pada Restu agar melakukan hal sama dengannya.
Saat Restu dan Coki mengangkat tongkatnya, tiba tiba Riki berlutut, lalu berkata, “tu-tunggu dulu, Bos. Bukankah Hilda memang gadis yang anda inginkan? Sa-saya melakukan ini karena…, anda terus menolak wanita yang di berikan Jeki. Apalagi gara-gara ini kamu mabuk sampai menyebut nyebut nama Hilda, terus mengatakan tidak akan tidur dengan wanita manapun selain Hilda. Dan saat anda mabuk, anda mengancam kami, membunuh kalau tidak menemukan Hilda, makanya saya lakukan ini.”
Wajah Bara seketika tampak merah. Menahan rasa malu dan harga diri. Apalagi anak buahnya sekarang sedang berbisik-bisik memandang tak percaya pada dirinya. Bara lalu menunjuk Jeki, memberi isyarat mendekat.
“Yang dikatakan Riki benar?" tanya nya.
Jeki mengangguk. "Malam itu, setelah anda minum langsung mabuk. Mengatakan pada kami untuk mencari Hilda. Dan gara-gara kamu uring-uringan papa anda menyuruh kami membawamu ke kemar. Lalu saya menawarkan gadis panggilan untuk kamu.”
“Dan yang datang ternyata Hilda,” gumam Bara sambil memejamkan mata. Saat itu ia benar-benar menggila gara gara minuman laknat. Dua Minggu yang lalu, hanya karena ingin menghormati tamu di hadapannya dirinya yang selalu menghindari minuman beralkohol akhirnya meminumnya.
Dan hal terburuk yang benar-benar ia waspadai agar tak pernah muncul benar benar terjadi. Gara-gara minuman itu dirinya mabuk. Entah hal memalukan apa lagi selain meminta Hilda.
Bara lalu memutar lagi kursinya menghadap Riki yang masih berlutut dengan wajah cemas.
“Memangnya kau anak kecil? Kenapa langsung percaya apa yang dikatakan Hilda? Bagaimana kalau dia bohong?” Gawat juga punya anak buah yang mudah diperdaya dengan kata-kata.
“Hari itu, kebetulan saya juga melihat anda menggendong Hilda. Saya juga dengar anda menyuruh Hilda menunggu di kamar. Makanya saya mempersilahkan dia masuk.”
Salah satu anak buah Bara tiba-tiba berdiri, berjalan ke arah Bara sambil memegang tab di tangan nya. Setelah itu ia menunjukkan sebuah Video pada Bara.
“Di beritakan, diduga seorang pengusaha muda sukses, direktur utama Jagat Raya Mineral Holding yang mempunyai beberapa perusahaan tambang di seluruh Indonesia terkena skandal tak senonoh. Foto tak terpujinya viral membanjiri media sosial, sedang memadu kasih di sebuah kamar hotel bersama seorang wanita.” sebuah berita yang dibacakan di salah satu televisi membuat telinga Bara merah menahan amarah. Giginya bergemerutuk, jari jarinya menggenggam erat pistol di tangan nya saat saluran berita itu memperlihatkan wajah dirinya sedang memeluk Hilda yang sama-sama tak memakai apapun. Tubuhnya di blur, namun wajah keduanya terlihat jelas.
Otot-otot Bara tegang, nafasnya berat, matanya tajam terarah pada Riki. Tau, siapa dalang di balik foto ini.
Sedang wajah Riki pucat. Tubuhnya gemetar.
Dor…!!!
Tanpa peringatan, Bara menembak Riki. Wajahnya tanpa ekspresi melihat Riki perlahan ambruk, terkapar di lantai bersimbah darah. Tembakan Bara tepat mengenai lehernya.
Bara berjalan ke arah Riki. Darah keluar deras dari lehernya. “Ini akibatnya kalau kamu main-main dengan ku, Riki. Tak ada kesempatan kedua apalagi memaafkan pengkhianat.” Desis nya. Kaki Bara menginjak tangan Riki yang bergerak-gerak, menunjuk padanya.
“Punyamu terlalu besar, Bos. Hilda sampai kesakitan begitu. Aku jamin, dia… tidak akan mau tidur denganmu lagi." Usai menghina, Riki menghembuskan nafas terakhirnya.
Bara yang hendak menendang kepala Riki pun mengurungkan nya. Kakinya menghentak lantai menahan amarah.
Bara mengepalkan tangannya. Malam itu Hilda pasti sembunyi-sembunyi menaruh sebuah kamera dikamarnya. Ia harus mencari Hilda. Perbuatan wanita itu tak kk dimaafkan.
Lalu apa tujuan wanita itu memperlihatkan foto dirinya sedang bercinta? Ingin merusak nama baiknya? Bara mengangguk anggukkan kepalanya.
Memang aneh melihat tingkah Hilda yang sekarang. Rupanya tak hanya ingatan nya saja yang hilang. Wanita itu bahkan tidak ingat bagaimana bencinya wanita itu padanya.
Bukankah aneh jika wanita yang dulu sewaktu kuliah sangat membenci dirinya, tiba-tiba sekarang ingin dekat dengannya? Lebih anehnya dia mengajaknya bercinta. Rupanya kamu cuma pura-pura hilang ingatan Hilda.
Bara tersenyum miring. Tidak pernah menyangka, walau waktu sudah berlalu bertahun-tahun, wanita itu masih menyimpan benci di dalam hatinya, bahkan sekarang lebih nekat, dia berani merusak nama baiknya.
Bara memukul dinding penuh emosi. Cinta dan Benci membuatnya bimbang dan kehilangan arah.
“Bereskan dia,” ucap Jeki pada kordinator lapangan yang bertugas membersihkan sisa-sisa kejahatan mereka. Menciptakan alibi untuk Bara, membuat alasan mengapa Riki tertembak. Menutup kejahatan mereka di balik bisnis yang megah.
Bersambung…