Uap hangat masih menempel di kulitnya saat Bara melangkah keluar dari kamar mandi, handuk terikat longgar di pinggang.
Sejenak ia berhenti di depan cermin. Melihat leher, bahu, dan punggungnya yang perih saat terkena percikan air.
Beberapa luka cakaran kuku yang terlihat di cermin membuat seringai kecil muncul di bibirnya. Luka yang ia dapatkan karena memberikan paksa kenikmatan pada seorang gadis. Berkali-kali wanita itu minta ampun agar dirinya menghentikan serangan, namun Bara justru tak mau berhenti, lebih senang melihat wanita itu menjerit dan mendesah oleh serangannya.
Srak…
Bara melepas handuk yang melilit pinggangnya, melemparnya sembarangan di atas ranjang. Sisa-sisa busa terlihat mengkilap di garis bahu dan lengan kekarnya. Membuatnya terlihat bagai pahatan tuhan paling indah. Bara menarik celana bersih yang sudah disiapkan Jeki, sekretaris pribadinya, lalu mengenakan kemeja putih. Dengan gerakan cepat, Bara mengusapkan pelembab di wajah dan tangannya, setelah itu menyisir rambutnya. Dalam sekejap, aura tampan Bara berubah elegan dan berwibawa.
Tatapan Bara menyipit saat mendapati sebuah benda asing tergeletak di ranjang. Sebuah dompet sederhana berbahan kain berwarna keemasan terselip di bawah bantal. Sudut matanya kembali berkerut saat melihat ada bercak noda darah di atas sprei.
Ternyata dia benar-benar masih perawan desis Bara dalam hati. Bayang-bayang Hilda yang sedang merintih membaur di otaknya, antara rindu dan curiga membuncah di otaknya.
Srek…
Bara membuka resleting dompet, beberapa lembar uang ratusan ribu berjajar rapi, di sampingnya sebuah kuncir rambut warna pink terselip rapi. Milik siapa ini? Dahi Bara berkerut. Dan satu-satunya wanita yang memasuki kamarnya adalah, Hilda? Kenapa dia membawa uang tunai sebanyak ini?
Bara menjatuhkan tubuh ke sofa. Pinggang lebarnya bersandar santai, rokok terselip di bibirnya, lalu ia menyalakan korek dan menghisapnya perlahan. Di tangannya, kuncir rambut itu tergenggam erat. Bara mengangkatnya ke hidung, mencium aromanya.
“Hilda…” gumamnya, seolah nama itu mantra yang mengalun dari d**a.
Ia sendiri tak mengerti mengapa Hilda mendadak muncul, meminta pertolongan, lalu menghilang tanpa jejak.
Hilda yang dulu ia kenal adalah gadis arogan yang angkuh, kini justru tampak rapuh. Bukan hanya itu, penampilan gadis itu pun berubah. Lebih cantik, lebih dewasa dan tentu saja lebih indah menggoda… Tubuh yang dulu datar kini berisi, lekuk pinggang dan kakinya menawan. Suara desahnya semalam masih terngiang, candu yang membuat darahnya bergejolak.
Sial.
Mengingat tubuh dan suara itu membuatnya semakin meronta. Gairah yang seharusnya dituntaskan Hilda kini hanya menyisakan gelora tak berujung. Dan wanita itu… lenyap begitu saja.
Sebenarnya Bara tak mengerti apa yang terjadi pada Hilda. Saat pesta baru saja di mulai, gadis itu tiba-tiba datang dan minta tolong. Namun saat dirinya bersedia, gadis itu justru pergi.
Tubuhnya yang terlanjur menginginkan lekukan tubuh Hilda. Mendamba tergila-gila saat menyentuh kulitnya yang lembut, membuat ia uring-uringan setelah minum alkohol. Semakin frustasi karena Hilda tak ada di manapun di setiap sudut aula pesta.
Kehidupan keras Bara saat ini membuat dirinya mengubur setiap nafsu yang datang. Memilih mengalihkan perhatian nya pada dunia kerjanya yang gila. Gelora yang sudah ia kubur sejak kuliah dulu, kini diusianya yang ke tigapuluh dua, Hilda tiba-tiba datang lalu mengobarkannya. Sejak dulu, sejak kuliah, tak ada yang bisa membuatnya kepanasan selain Hilda.
Karena dirinya uring-uringan tak bisa melampiaskan hasrat, Jeki menawarkan seorang wanita cantik yang seksi dengan harga termahal. Entah telinga Jeki yang tuli atau suaranya yang kurang keras, ia sudah mengatakan jika tidak mau dengan wanita panggilan. Namun Jeki tetap memesankan wanita untuknya.
Malam tadi, saat dirinya mengira wanita yang memasuki kamarnya adalah wanita panggilan, betapa terkejut dirinya saat membuka mata. Bukan gadis panggilan yang ia lihat, namun Hilda.
Akalnya seketika terhanyut nafsu, pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu terkubur oleh birahi. Ia menunda mencari tahu, menunggu setelah bercinta. Namun saat pagi menjelang, Hilda sudah lenyap dari dekapan nya.
‘Kalau kamu memang ingin pertolongan, kenapa pergi?’
Ingatan tentang pertemuan mereka di aula pesta masih jelas. Tatapan Hilda yang panik, wajahnya yang tak berdaya. Sesaat Bara benar-benar percaya gadis itu membutuhkan dirinya. Tapi kini, semakin dipikirkan semakin aneh.
Bara meneguk ludah, sudut bibirnya menyeringai dingin. Hilda, kamu yang selalu menghindariku. Jangan pernah berharap aku yang akan mengejarmu. Malam itu sudah cukup aku menutupmu dengan kenikmatan yang tak akan pernah kamu lupakan. Kamu sendirilah yang akan mencariku.
***
Tok tok.
Ketukan di pintu menarik Bara dari lamunannya.
“Bos, mobil sudah siap,” suara anak buahnya terdengar dari luar.
Bara berdiri, memakai jasnya, merapikan penampilannya, rambutnya, lalu keluar kamar.
***
“Semalam kamu mengirim gadis bernama Hilda di kamar ku?” tanya Bara pada Jeki yang sedang menyetir mobil.
“Tidak, gadis pesanan saya bernama Mawar. Ada apa, Bos? Ada yang salah dengan Mawar semalam?" Mata Jeki menatap sekilas bosnya dari kaca spion.
Bara menipiskan bibirnya. Tangannya mengetuk ngetuk kursinya. Logikanya merasa ada yang aneh dengan kejadian semalam. Ia dengan jelas mendengar Jeki menyebut nama Mawar ketika memesan gadis itu. Walau ia tolak, Jeki tetap memesan gadis bernama Mawar.
“Kamu punya fotonya Mawar?” tanya Bara.
“Ada, Bos." Jeki lalu menepikan mobil, setelah itu memberikan ponselnya pada Bara, memperlihatkan foto seorang wanita padanya. Selain wajah yang sangat berbeda, rambut kedua wanita itu juga berbeda. Jika Hilda mempunyai rambut seleher. Rambut Mawar panjang hingga pinggang.
Mobil pun kembali melaju, jika Jeki fokus pada jalanan pagi. Bara justru teringat pada Hilda. Bertanya-tanya bagaimana bisa wanita itu memasuki kamarnya dengan mudah? Di depan kamarnya ada anak buah nya yang sedang berjaga.
Ada yang sedang main-main dengan ku, pikir Bara. “Apa kamu tahu? Wanita yang ada di kamarku semalam bukan Mawar.”
“Ba-bagaimana itu bisa terjadi, Bos? Saya yakin memesan wanita bernama Mawar. Dia wanita tercantik yang paling mahal.”
“Apa kamu tidak melihat wajahnya waktu dia masuk?
"Maafkan kecerobohan saya. Saya sebenarnya tidak terlalu memperhatikan wanita itu, yang saya ingat Mawar cantik, dan karena gadis itu cantik saya mengira dia adalah Mawar."
Brak…
Bara memukul jok mobil penuh emosi. "Kenapa kamu sangat bodoh, Jek?
“Saya kira dia adalah Mawar karena Riki yang berjaga di depan sudah memastikan itu mawar.” jawab Jeki gugup.
“Selidiki Riki, bagaimana dia bisa membiarkan Hilda yang masuk kamarku.” Sebenarnya Bara senang senang saja yang masuk kamarnya adalah Hilda. Namun ia tidak bisa menerima kesalahan sedikit pun. Baginya kesalahan adalah cela yang bisa membuat usahanya menjadi lubang besar yang membahayakan. Ia akan langsung memangkas kesalahan sekecil apapun.
“Siap Bos.” Jawab Jeki.
Bersambung…