12. Jejak yang Tertinggal

1646 Kata
Buku mengalami banyak perombakan, silahkan ulangi baca mulai bab 5. Tubuh indah seorang gadis tengah menggeliat saat telinganya menangkap suara panggilan ibadah di subuh hari. Panggilan yang selalu membuatnya terbangun lalu merasakan kedamaian menyentuh jiwanya. Meresapi suara adzan subuh membuat Nina sejenak melupakan masalah dalam hidupnya. Sebenarnya Nina ingin memenuhi panggilan itu layaknya seorang muslim yang lain. Tapi entahlah ia tidak tau dari mana memulainya, ia tak pernah melakukan sholat, kecuali sholat hari raya. Nina terkesiap saat merasakan hembusan hangat membelai lehernya. Tubuhnya merinding saat sadar sebuah lengan atletis memeluk perutnya. Kehangatan yang menyelimutinya membuat gadis itu tersadar, ia masih berada di kamar seorang pria tampan, Nina menatap pria campuran Indonesia - eropa yang sedang mendengkur di sampingnya, dirinya dan pria itu masih sama-sama polos, tak mengenakan apapun di balik selimut. Seketika ingatan Nina terbang di malam tadi, di mana Bara menggaulinya dengan brutal, membuat sisi tersembunyi yang tak pernah Nina tau keluar dalam hidupnya, terungkap memalukan. Gigi Nina mengeretuk, tak pernah menyangka ia bisa segila itu, membiarkan pria yang bukan apa apanya melihat tubuhnya tanpa sehelai benang pun, mendengar suara lenguhan nikmatnya berkali-kali, seolah pria itu ingin melihat sebinal apa dirinya. Wajah Nina seketika merah. Perlahan Nina melepaskan pelukan Bara, melihat dirinya dan Bara masih tak mengenakan apapun, Nina bergidik jijik. Bagaimana bisa ia yang awalnya hanya berniat menyenangkan pria itu hanya sekali, tak berniat benar benar menikmati, tapi semua berubah saat dirinya terbakar rasa yang di bangkitkan oleh Bara, dan kini dirinya dan pria itu bagai suami istri. Tunggu, petang begini apa anak buah Samuel masih ada? Mereka sudah pulang kan? Atau, paling tidak masih tidur kan? Buru-buru Nina berpakaian, setelah itu membasahi wajahnya dengan air dari wastafel, sambil mengenakan sandal hotel Nina mengendap keluar dari kamar. Jantungnya berdegup keras ketika melihat keluar kamar, tak ada siapapun. Tapi anak buah Samuel bisa berada di manapun kan? Nina lalu kembali masuk ke kamar, mengambil jas Bara yang tergeletak di lantai, memakainya lalu mengintip luar kamar lagi. Setelah memastikan lorong sepi, ia menutup pintu perlahan lalu berjalan secepat mungkin menyusuri lorong, mencoba melawan pinggulnya yang terasa pegal untuk berjalan, kakinya bahkan gemetar ketika memasuki lift. Jantung Nina kembali berdegup keras walau telah sampai di lantai bawah, memilih berjalan di sisi-sisi gelap yang tak tersorot lampu. Keluar dari hotel dari sisi pintu yang lain. Di halaman, Nina kembali berjalan dalam tenang, bayangannya tak terlihat dalam kegelapan, tak ada bunyi sandal menapak lantai batako ketika keluar dari gerbang. Nina langsung mengelus dadanya, berharap bisa menenangkan jantungnya yang terus berdenyut tak terkendali. Nina celingukan, tak ada siapapun di luar pagar, bahkan kendaraan satupun tak ada. Nina akhirnya melanjutkan berjalan, yang penting sekarang ia harus menjauh dari hotel. Grep… Seseorang tiba-tiba menangkap tubuh Nina. Membekap hidungnya dengan kain berisi obat bius. Tubuh lemas gadis itupun dibopong ke dalam mobil. *** Pagi telah pergi, siang pun datang menggantikannya, memberikan sinarnya yang panas, menyengat wajah gadis yang sedang terlelap di atas ranjang. Menyelinap ke dalam jas hitam yang sedang dipakai, membuat peluhnya satu persatu berjatuhan. Tubuhnya mendidih dalam balutan gaun hitam dan jas hitam, basah oleh uap panas keringat, gadis itu pun akhirnya membuka mata. Nina menggosok matanya, Kepalanya sakit, tubuhnya gemetar, bahkan kakinya masih ngilu. Kini ia sadar sudah berada di kamar Hilda. Rupanya dirinya tertangkap oleh anak buah Samuel. “Samuel bajingann!!!” Umpat Nina sembari melepas jas yang ia pakai, melemparnya kesal ke atas lantai, jas yang telah membuat tubuhnya basah kuyup oleh keringat, sama dengan pemiliknya yang bisa membuat tubuhnya dibanjiri keringat. Ternyata percuma ia tidur dengan Bara, pria itu tak bisa membawanya kabur, tapi apa jadinya kalau dirinya semalam tak kabur? Bara akan menyelamatkan nya dari Samuel? Ah nasi sudah jadi bubur. “Bodoh - bodoh - bodoh…!!!” Nina memukul dan menendang-nendang kasur penuh rasa sesal. Brak… Pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar. Seorang wanita tua muncul dengan wajah terperanjat. “Ada apa, Mbak Hilda?" Tanya Tini dengan nafas tersengal, terkejut mendengar teriakan Nina dari dalam kamar hingga membuatnya lari terbirit, sebuah sendok sayur masih dalam genggamannya. "A-aku…, kaget saja. Ternyata aku sudah ada di sini lagi,” gumam Nina. Kecewa sudah kembali ke dalam sangkar yang dibuat oleh Samuel sialan. “Tadi subuh anak buah mas Samuel yang ngantar kamu ke sini. Katanya kamu mabuk lalu ketiduran di kamar hotel.” "Oh…," jawab Nina dengan senyuman kecut. Tak menyangkal perkataan Tini. “Tubuhku gerah, aku mau mandi dulu,” seloroh Nina sembari turun dari tempat tidur, berjalan pelan ke arah kamar mandi. Jalan kakinya masih ngangkang, pelan karena menahan gemetar, ulah Bara ternyata membuatnya menderita sampai pagi. Setelah Nina masuk ke dalam kamar mandi, Tini menggelengkan kepala. Anak buah Samuel maupun Nina tak bisa menipu dirinya, ia tau apa yang sebenarnya terjadi pada Nina. Namun ia tak mau tau dengan siapa nonanya tidur. “Mbak Hilda, habis mandi, cepatan sarapan ya? Aku membuatkanmu kolak labu kesukaanmu,” ucap Tini mengeraskan suaranya. “Iya,” jawab Nina dari dalam kamar mandi. Perlahan ia menggunakan sisa tenaganya untuk melepas bajunya yang berat. Dan ia panik saat menyadari dompetnya yang berisi uang sebelas juta tak ada di celana dalamnya, dompet yang sengaja ia selipkan ke dalam celananya sewaktu berangkat ke pesta malam tadi. Nina berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi, mengacak-acak rambutnya panik dengan jari-jarinya. “Jatuh dimana dompetku?” keluh Nina sambil memijit mijit kepalanya, berharap ingatannya segera kembali. “Di kamar Bara?” Desisnya tak percaya. *** Hari hari berlalu seperti biasa, Nina mengisi waktunya dengan berteman dengan Tini, tak bisa kemana-mana karena gerbang full dijaga oleh satpam. Untuk mengisi waktu luangnya, Nina sering membantu pekerjaan Tini, tak peduli pembantunya tuanya yang baik hati mengomel, meminta dirinya tak ikut bekerja karena takut sakit leukimianya kambuh, selalu mengalah jika berdebat dengan Nina, memperhatikan dirinya seperti anak nya sendiri. Siang itu setelah Nina ikut melipat baju, ia duduk duduk di depan televisi bersama Tini. berbagi cerita layaknya seorang teman. “Tumben, Mas samuel dua minggu ini gak ke sini. Biasanya setiap tiga hari pasti ke sini. Aneh kan? Dulu ku kira setelah kamu sembuh Mas Samuel makin lengket sama kamu, ku pikir kalian langsung nikah.” “Ogah, nikah sama dia.” Nina membuang muka. “Kamu kenapa? Kalian bertengkar?” tanya Tini dengan wajah cemas. Nina cemberut. “Samuel udah ku blokir dari rumah ini, dia nggak boleh datang! Aku muak lihat wajah dia yang selalu mengaturku. Memangnya siapa dia? Suamiku? Mana ada pacar yang selalu ngatur hidup ceweknya? Aku sudah putus sama dia!” Nina menggerutu. Puk…!! Tini memukul pelan tangan Nina. “Hus, jangan begitu sama Mas Samuel, dia itu sangat berjasa dalam kesembuhanmu. Selama ini dia lah yang paling peduli selama kamu sakit leukimia, membiayai hidupmu saat papa dan mamamu meninggalkanmu. Kamu sama sekali nggak ingat?” Sudut mata Tini berkerut sedih, sekelebat ingatan Hilda sakit terlintas di matanya, dan rasanya kini ia bagai mimpi, tak pernah menyangka gadis itu kembali membaik. “Sebenarnya sedekat apa sih aku dulu sama Samuel?” tanya Nina penasaran. “Kalian sangat dekat, bahkan kalian dulu selalu memanggil dengan panggilan ‘sayang’. Mas Samuel tidak segan merawatmu, sudah terbiasa mengganti popokmu dan menyeka tubuhmu. Dia juga membawamu berobat ke singapura. Selama ini wajar kalau kamu dalam kendali Mas Samuel, karena orang tuamu sendiri yang menyerahkan kamu sama dia.” “Mereka tega melakukan itu pada Hilda? Ehm…,” Nina berdehem, sudut matanya melirik Tini salah tingkah, buru buru membenahi kata-katanya. “Maksudku, kenapa ada orang tua yang tega membuang anaknya pada pacarnya?” mata Nina berkedip kedip. “Mungkin…, karena saat itu masalah keluarga kalian sedang tinggi-tingginya. Papamu yang ketahuan selingkuh di diamkan mamamu, dia justru membalasnya dengan selingkuh juga. Dan akhirnya kamu sendirilah yang membongkar perselingkuhan mereka, waktu itu kamu baru kerja di perusahaan BUMN satu tahun. Tapi langsung resign setelah kamu sering pingsan tanpa sebab, sering juga mimisan. Menurutku sakitmu pasti terpengaruh oleh suasana hatimu.” Tini lalu menatap Nina dengan perasaan lega, membelai lembut rambut gadis itu. "Syukurlah kamu sekarang sudah sembuh, bahkan sekarang kamu jauh lebih cantik dari sebelum sakit. Orang tuamu pasti menyesal tidak ada yang memperdulikanmu.” Sudut mata Tini berkerut, tersenyum tulus. Nina membalas senyumnya. “Terus…, apa kamu tahu Bara?” tanya Nina, penasaran siapa pria itu? “Bara?” Tini mengulang pertanyaan Nina, matanya menatap langit langit, berpikir keras. "Entahlah, aku tidak tau. Aku tidak pernah mendengar namanya.” Tini mengangkat bahu kurusnya sekilas. “Mungkin kamu lupa? Mungkin dia dulu pernah datang ke sini?” Dilihat dari cara Bara bersikap santai padanya, seolah sudah lama mengenalnya, seolah dulu mereka adalah teman dekat. “Aku sudah kerja di sini sejak kamu masih SMP, jadi aku tau siapa saja teman-temanmu sejak SMP sampai kuliah yang sering main ke sini. Aku yakin tidak ada yang namanya Bara. Memangnya ada apa sama Bara? Kalian kemarin habis bertemu dan dia ngaku temanmu?” “Entahlah,” Nina mengedikkan bahunya. “Kemarin waktu di pesta, aku ketemu pria, namanya Bara, katanya dia dulu mengenalku. Sepertinya dia juga kenal Samuel.” “Tunggu-tunggu, sepertinya aku pernah dengar Mas Samuel nyebut nyebut nama Bara.” Garis muncul di antara alis Tini. "Dan ekspresi Mas Samuel selalu jengkel waktu menyebut nama Bara.” Mata Tini tiba-tiba melotot ke arah televisi. "Mbak Hilda lihat!” ucap Tini sembari menunjuk layar televisi. Nina pun otomatis mengikuti arah mata Tini, menatap nanar layar kaca yang sedang menayangkan program berita dengan latar foto wajah seorang gadis dan pria saling berpelukan. “Di beritakan, diduga seorang pengusaha muda sukses, direktur utama perusahaan tambang di Kalimantan terkena skandal tak senonoh. Foto tak senonohnya viral membanjiri media sosial, sedang memadu kasih di sebuah kamar hotel bersama seorang wanita.” Sebuah foto lalu di tampilkan di layar utama televisi, tubuh seorang pria dan wanita sedang berpelukan tanpa busana di blur, namun wajah pria dan wanita itu jelas di layar kaca. “Itu kamu kan mbak Hilda?” Celetuk Tini sambil menatap Nina tak percaya. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN