11. Surprise Untuk

1745 Kata
Menit berganti jam, waktu berjalan cepat saat kalian tak menginginkan sesuatu. Tangis seorang gadis di dalam kamar hotel telah reda, air matanya surut, ia telah melalui badai pertama, dan badai kedua telah menantinya, bahkan masih ada badai ketiga, kelima, Nina tak tahu berapa badai lagi yang harus lalui. Sekarang Nina hanya bisa pasrah pada keadaannya sambil memikirkan rencana apa yang akan ia buat. Mencari peluang di setiap celah kelalaian. Seorang wanita cantik dengan tubuh yang nyaris sempurna berpadu dengan wajah cantik yang mempesona tangah berjalan mondar mandir di kamar hotelnya. Berpikir keras apalagi yang harus ia lakukan agar bisa menemui adiknya lalu membawanya pergi sejauh mungkin. Nina sudah lelah menangisi nasibnya, percuma menangis berlama-lama karena tak akan mengubah keadaan. Ia bahkan mulai bersahabat dengan sengsara, terbiasa dengan tekanan sejak orang tuanya meninggal. Pemaksaan yang dilakukan Samuel saat ini tak berarti apa-apa di banding saat penagih hutang datang meneror hidupnya. Oke, ia akan melakukan perintah Samuel, tidur dengan pria tua itu. Lagipula tak ada pilihan lain selain tidur dengannya atau adiknya di perkosa? Brak… Tanpa permisi, pintu kamar tiba tiba dibuka. Nina yang sedang berdiri cepat cepat kembali naik ke atas kasur, lalu memejamkan matanya. Jantung Nina berdegup keras saat suara kaki berjalan mendekat. Pria tua itu pasti sedang mabuk, perlu waktu lama untuk mendatangi ranjang. Betapa terkejutnya Nina saat mencoba mengintip dengan sudut matanya yang terbuka sedikit. Bukan pria tua yang muncul, namun Samuel lah yang datang. Pria itu lalu menarik tangan Nina, memaksanya berdiri. “Ayo ikut aku.” Perintahnya sembari menarik tubuh Nina. Samuel bahkan tak membiarkannya memakai sepatu. Menariknya keluar dari kamar. Menarik dirinya bagai menarik kucing. Samuel menarik tubuh Nina hingga di depan kamar seseorang. "Pria yang harus kamu puaskan ada di kamar ini.” "Aku nggak mau!” tolak Nina. "Kamu mau adikmu di perkosa?” Samuel mencengkeram semakin erat lengan Nina. Mulutnya berdecak kesal. "Kamu harus puaskan dia.” "Kalau hanya untuk memuaskan dia, cari aja pelacurr." “Aku mau dia memasukkan benihnya di dalam perutmu. Kamu harus hamil anaknya agar bisa menikah dengannya." “A-apa? Aku harus menikah dengannya juga? Nggak mau!" Pekik Nina. "Kamu harus mau Nina atau adikmu menanggung akibatnya.” “Sebenarnya apa rencanamu Samuel?” Samuel menarik nafas. “Kamu harus menikah dengannya, buat dia jatuh cinta padamu, lalu diam-diam hancurkan bisnisnya, tidak, kamu harus hancurkan kerajaan bisnisnya. Kalau kamu bisa lakukan itu, aku janji akan kembalikan adikmu padamu. Tentu saja kamu juga dapat uang banyak.” Nina diam, setidaknya ia sekarang tau apa tujuan utama Samuel. Jadi ia bisa menyusun rencananya sendiri mulai dari awal, mencari celah dari rencana itu untuk keuntungannya sendiri. Seorang wanita berbusana seksi tiba tiba datang, melewati Nina, sejenak wanita berpakaian putih dan serba terbuka itu menatap Nina sekilas, saat sadar Nina jauh lebih cantik dan aduhai, wanita itu membuang muka. Wanita itu ternyata berhenti di depan kamar pria tua. Tok tok tok… Wanita itu mengetuk kamar pria tua. Membayangkan pria itu, Nina bergidik ngeri, jika pria itu begitu doyan main dengan wanita sembarangan, jangan jangan dia punya penyakit kelamin menular? Bagaimana kalau dirinya tertular? Srak… Wanita seksi yang sedang berdiri di depan kamar tiba-tiba di sekap oleh salah seorang anak buah Samuel, membuatnya jatuh pingsan dengan obat bius di hidungnya. Samuel lalu mendorong tubuh Nina berdiri di depan pintu. Lalu dia sembunyi sedang salah seorang anak buah nya berjaga di belakang Nina. Tepat saat itu pintu kamar dibuka. Seorang pria muda mempersilahkan Nina masuk. Diakah orangnya? Pria ini tidak tua sama sekali. Namun otak Nina langsung di putar balik saat pria itu berjalan keluar kamar, lalu menutup pintu dari luar. Dia bukan orang yang harus ku tiduri? Ah dugaannya rupanya benar, pria itu mana mungkin masih muda. Nina tak punya pilihan selain masuk, sepertinya memang sudah takdirnya menyerahkan malam pertama nya untuk pria tua. Nafasnya tertahan saat melihat pria tiduran di atas ranjang. Pria tua itu rupanya bertubuh tinggi besar, terlihat masih sangat bugar. Perlahan Nina duduk di tepi ranjang. Ia tak punya pilihan selain menyenangkan hati pria itu. Tapi, ia harus mulai dari mana? Pria itu sepertinya sedang terlelap. Dan dari aromanya, Nina tau, pria itu habis minum alkohol, dia sedang mabuk? Nina tersenyum kecil, orang mabuk pasti lebih mudah ia perdaya daripada orang sadar. Ia akan membuka pakaiannya, lalu melucuti pakaian pria itu, setelah itu tidur di sampingnya. Ia yakin, Samuel entah bagaimana caranya pasti sedang mengintip. Memastikan dirinya bercinta dengan pria itu agar mendapatkan bukti. Srak… Pria yang sedang tidur menelungkup itu tiba-tiba membalikkan tubuh, betapa terkejutnya Nina saat melihat pria itu. Dia bukan pria yang sudah tua seperti yang selama ini dalam bayangan kepala nya. Pria itu masih muda, bahkan wajahnya tampan. Wajah pria itu terpahat sempurna, hidungnya mancung, alisnya tebal, bibirnya sangat cocok berpadu dengan wajah tampannya, dan rahangnya yang kokoh seolah berkata, jangan macam-macam denganku Nina! Dan pria itu membuat kakinya gemetar, lelaki yang harusnya tadi menyelamatkan dirinya, lelaki yang dulu sudah mencuri ciuman pertamanya, justru kini sedang tidur nyenyak di atas ranjang. Melihat Bara, kepala Nina terasa berputar-putar. Ada apa antara dirinya dan Bara? Sudah tiga kali dirinya dan pria itu bertemu tanpa disengaja, seolah ada takdir tersembunyi di antara mereka. “Jek, keluarkan wanita ini!” Bara tiba-tiba berteriak, matanya masih terpejam. Nina otomatis berdiri, rupanya Bara sadar dirinya duduk di tepi ranjang. Melihat wajah Bara yang kaku, teriakannya yang menggelegar, membuat Nina otomatis menjauh takut. “Telingamu tuli, Jek?” Teriak Bara lagi, mata pria itu akhirnya terbuka. Menatap marah pintu keluar yang masih tertutup rapat. "Sudah ku bilang aku tidak butuh wanita manapun, bawa keluar wanita panggilan mu, kecuali…” mata Bara akhirnya tertumbuk pada Nina yang berdiri di dekat dinding, menjauh dari ranjang. “Hilda?" Amarah Bara seketika berhenti tatkala melihat Nina. Tubuhnya setengah bangun. Nina tersenyum kaku, jari-jarinya saling meremas gugup. Perlahan ia berjalan ke arah Bara, saat berada di tepi ranjang, tangannya ditarik tak sabar oleh Bara, Nina pun terjerembab di atas ranjang. “Kamu yang dipanggil Jeki?" Senyum kecil muncul di sudut bibir pria blasteran itu. Nina menggeleng. "Aku datang karena…, janjimu. Kamu sudah janji akan membawaku keluar." Nina membuat-buat alasan. Ia hanya tak ingin Bara menganggapnya sebagai wanita panggilan. “Oke, aku akan penuhi janjiku, tapi sebelum itu…,” Bara yang sedang duduk bersandar di sandaran ranjang. Mengayunkan jari jarinya, menyuruh Nina mendekat. “Naiklah." Wajah Nina seketika merah padam. Pacaran saja belum pernah, bagaimana bisa ia naik ke pangkuan seorang pria? Mengingat ini tugas penting, Nina akhirnya mendekat. Bara yang tak sabaran melihat gerak Nina yang lelet, menarik wanita itu, mendudukkannya di atas kaki kaki panjangnya. “Kenapa wajahmu semerah ini? Kamu malu?” tanya Samuel sambil menahan tawa. Tangannya menelusup di leher Nina, membelainya lembut. Leher Nina yang geli, membuat gadis itu refleks menggeleng. “Aku kedinginan." Nina ngeles. “Aku akan menghangatkanmu," ujar Bara seraya menarik kepala Nina mendekat. Tanpa izin mendaratkan bibir Nina pada bibirnya. Mencium bibir itu dengan irama cepat dan memburu, seolah meluapkan sesuatu yang selama ini terpendam. Bara terus mencium Nina, menarik kepala wanita itu semakin rapat, menenggelamkan bibir wanita itu di mulutnya. Sebelah tangannya dengan mudah menarik tubuh Nina semakin rapat dengan tubuhnya. Naffsu yang berkobar dalam tubuh Bara akhirnya menjalar di tubuh Nina. Gadis itu melingkarkan tangannya di leher Bara, walau awalnya pelan dan malu membalas ciuman Bara akhirnya bisa mengimbangi nya, semakin dalam, saling membalas, saling memberi, menjelajah di setiap incinya penuh rasa penasaran, tangan yang saling mendekap menghilangkan jarak di antara mereka. Bruk… Dengan sebelah tangan nya Bara merengkuh pinggang Nina, dengan mudah memutar tubuh kecil itu berada di bawahnya. Mata Nina melotot, terkejut melihat Bara kini ada di atasnya sedang terburu-buru melepas kemejanya, memperlihatkan betapa indah pahatan tubuhnya yang atletis berotot, Nina tak bisa berkata-kata, namun matanya yang melotot melihat tubuh Bara cukup membuat Bara tersenyum puas, saat wanita itu membuka mulutnya, hendak bicara, Bara langsung membungkamnya dengan bibir. Menciumnya semakin liar dan penuh tuntutan. Tak hanya bibir Bara yang tak pernah puas mencicipi manisnya lidah Nina, tangannya kini ikut menjelajah penasaran, membelai di tiap lekukan, bermain-main disana hingga sesuatu yang lair benar-benar membara. Bara akhirnya melepas semua jarak yang dipakai Nina. Menikmati setiap inci kulit hangat dan halus gadis itu dengan mulutnya, menciptakan tato kepemilikan di sekujur tubuh Nina, bibirnya tersenyum tiap mendengar lenguhan lembut pasrah keluar dari bibir Nina. Yang ditunggu Bara akhirnya tiba, menyatukan tubuhnya dengan tubuh Nina. Namun dahinya berkerut sewaktu akan memasuki tubuh Nina, gadis itu justru mendorong dadanya, alis gadis itu menyatu, keringat membanjiri dahinya. “Jangan lakukan ini, aku…, takut," ucap Nina terbata, sambil berusaha duduk untuk menghindar. "Kenapa takut?” Tanya Bara sambil mendekat pada Nina, mencium lehernya. Otaknya langsung mengerti saat merasakan tubuh gadis dalam dekapannya sekaku batu. Bara lalu menarik wajahnya, “kamu belum pernah melakukan ini?” Tanya Bara dengan dahi berkerut. Nina menggelengkan kepalanya. Bara tertawa pelan. “Kamu habis kecelakaan Hilda, kamu pasti lupa sudah pernah melakukannya dengan Samuel." Nina memutar matanya, mencoba mengingat perkataan Samuel, ingatannya pasti tak salah, Samuel pernah mengatakan kalau dia belum pernah meniduri Hilda, tapi percuma dirinya mengelak, Bara tak akan percaya, pria itu menganggap dirinya sedang lupa. “Aku sudah tak bisa menunggu lagi, Hilda.” ucap Samuel sambil kembali menciumi leher Nina, mendorong tubuh wanita itu terlentang, lalu kembali menikmatinya bagai hidangan yang sangat lezat. Mencium, menikmati setiap anggota tubuh Nina, hingga akhirnya Nina memekik saat Samuel memaksa memasuki dirinya. “Ah sakit…,” pekik Nina, matanya terbuka lebar menahan sakit yang teramat di bagian bawah tubuhnya, seolah ada yang menyayat bagian itu. Bara pun otomatis berhenti, mulai sadar jika Nina tidak berbohong, sulit sekali memasuki tubuh gadis itu. “Maaf, aku tak bisa berhenti.” Bisik Samuel sembari perlahan masuk. Setiap kali Nina merintih kesakitan, Bara selalu berhenti untuk melumat bibirnya, hingga akhirnya ia sukses membuat gadis itu melenguh nikmat. “A-aku sudah tidak kuat lagi, Bara," ucap Nina dengan nafas tak beraturan. Tubuhnya naik turun mengikuti irama Bara. "Lepaskan dirimu Nina," bisik Bara. “ Aku akan memberimu kenikmatan berkali-kali sampai kamu tidak akan bisa melupakan malam ini.” Malam ini, Nina benar-benar tidak bisa mengendalikan diri, Bara membuatnya menjerit berkali kali, hingga akhirnya pria itu melepaskan diri, namun Nina justru menahannya. Ia naik dan mengendalikan . “Turun Hilda, aku mau keluar." “Keluarkan semuanya, Bara." “Kamu yakin?" Tanya Bara ragu, namun Nina yang justru bermain main di atasnya membuat Bara akhirnya melepaskan benihnya, berpikir tak akan terjadi sesuatu karena Nina berada di atas. Malam panas hari itu berakhir dengan kehangatan, Nina terkulai lemas dalam pelukan Bara. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN