10. Harapan yang Sirna

1206 Kata
“Hilda?” Suara berat itu terdengar begitu indah di telinga Nina, bagai alunan harapan baru yang tiba-tiba terbit di hatinya. “Kita…, saling kenal?” Nina buru-buru mengingat pesan Samuel, kamu adalah Hilda, kamku kehilangan ingatan. Tapi dalam benaknya, ia jelas masih ingat siapa pria di depannya. Bara. Pria yang dulu menolongnya dari Bimo, lalu mencuri ciuman pertamanya. Kini Nina mengerti, mengapa Bara dulu nekat menciumnya, rupanya ia salah sangka, mengira dirinya adalah Hilda. “Kamu nggak ingat aku?” Bara balik bertanya. Jemarinya perlahan melepaskan tubuh Nina, lalu membantu Nina berdiri tegak. Tinggi tubuh Nina hanya sebatas bahu Bara, membuatnya tampak mungil di hadapan pria jangkung bertubuh atletis tersebut. “Maaf…, aku nggak ingat siapa kamu. Aku habis kecelakaan, dan kehilangan ingatan.” “Oh begitu.” Bara tersenyum tipis. “Untung lupa ingatan,” gumamnya lirih, berbisik untuk dirinya sendiri, sembari menyisir rambut ke belakang dengan jemarinya. Mendengar kata kata Bara, bibir Nina mengerucut. Ia tahu maksudnya, Bara bersyukur ciuman paksa itu takkan pernah dituntut baik oleh Nina maupun Hilda. “Maaf, aku tidak tahu kamu habis kecelakaan. Semoga cepat sembuh dan ingatanmu kembali,” ucap Bara, basa-basi yang terdengar hambar. Nina tahu, pria itu sebenarnya lebih lega bila dirinya tetap kehilangan memori. “Kalau begitu aku pergi dulu. Aku masih ada urusan.” Bara hendak beranjak. “Tunggu!” Nina refleks menahan lengannya. Ada sorak tak kasatmata di hatinya saat pria itu memutar tubuh, dan tatapan matanya menembus begitu dalam, menusuk jantung Nina. Ada sesuatu antara Bara dan Hilda di masa lalu, itu jelas. Yang Nina tak tahu, sedalam apa hubungan Hilda dan Bara? “Bisa bawa aku pergi dari sini? Nanti ku ceritakan di luar." Nina menggigit bibirnya gugup. Dan ia tak mengerti mengapa jakun pria itu bergerak gerak. Matanya mengikuti gerakan lidahnya yang membasahi bibir. “Aku tidak bisa keluar sekarang, ada yang sedang menungguku," jawab Bara. “Ku mohon, tolong aku…, bantu keluarkan aku dari sini, ini benar-benar mendesak." Nina menarik narik lengan baju Bara. Ia tak bisa keluar karena beberapa anak buah Samuel ada di depan pintu masuk. Dan mereka kini pasti sedang bersiaga. Bara menghela nafasnya. “Aku tidak bisa mengeluarkan mu sekarang, tapi kalau kamu mau menungguku di kamar…,” Entah mengapa pria itu kembali menatap bibirnya lagi, jakun Bara kembali bergerak gerak, menelan ludahnya sendiri. “A-aku mau menunggumu di kamar," sahut Nina tak sabar. Lebih baik sembunyi di kandang hyena daripada sembunyi di kandang singa. Setidaknya hyena masih bisa ia tipu. Bahaya di kandang Singa jauh lebih mengerikan dan mengancam nyawa daripada kandang hyena. Srak… Bara tiba-tiba menarik tubuh Nina menempel di tubuhnya. Bibirnya tersenyum miring, berbisik, “kamu mengerti apa arti ucapmu?” Suara pria itu serak, sesuatu berkobar di matanya. Nina mengangguk, tubuhnya lemas menempel di tubuh keras Bara. Ia tak tau apa lagi yang bisa ia lakukan agar lepas dari cengkeraman Samuel. “Tak ada yang gratis di dunia ini," ucap Nina. Bara tersenyum. Wajah mereka dekat, berbagi nafas yang memburu. "Kamu banyak berubah Hilda. Aku suka ini.” "Kalau begitu cepat keluarkan aku dari sini,” ucap Nina tak sabar. Srak… Tiba-tiba Bara menggendong tubuh Nina, tertawa pelan mendengar pekikan Nina yang terkejut. “Ka-kamu mau membawaku keluar sekarang?" Tanya Nina panik. Ia harus berganti baju dulu, memakai masker sambil terbatuk batuk saat keluar dari pintu utama. Begitulah rencana Nina saat melewati pintu utama. Memakai masker saat sedang sakit tentu sangat masuk akal. Anak buah Samuel pasti tak ada yang curiga. “Tunggulah aku di kamar ku." Jawab Bara sambil berjalan cepat. Di belokan seorang pria menghampiri Bara. Buru-buru Nina menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bara, dan ia tak tahu Bara menahan nafas. “Bos, anda mau kemana? Orang-orang sedang menunggumu. Papa anda barusan juga menelpon, menanyakan kamu ada di mana." Nina mengangkat wajahnya. Nafasnya berhembus lega. Rupanya dia anak buah Bara, bukan anak buah Samuel. Perlahan Bara menurunkan tubuh Nina, lalu berkata pada anak buahnya. “Antar dia ke kamar ku.” “Baik, Bos," jawab sang anak buah sigap, pucuk matanya melirik sejenak ke arah Nina, terlihat terkejut namun berusaha untuk tenang, lalu mempersilahkan Nina mengikutinya. Nina pun pergi mengikutinya, jantung Nina berdegup kencang saat kakinya berjalan menuju aula utama, namun tak disangka, anak buah Bara mengajaknya ke jalan lain, lorong lain dari aula, tempat di mana para pelayan dan pekerja hotel keluar masuk aula. Jalan keluar mereka bukan jalan yang sama dengan para tamu. Nina tersenyum tipis. Bara pasti bukan orang biasa. Dari penampilannya yang selalu terlihat mewah dan elegan, punya banyak anak buah, pria itu pasti kaya raya, dia pemilik hotel? Tring tring tring… Ponsel anak buah Bara berbunyi. “Sebentar, saya mau angkat telpon dulu," ucap pria itu pada Nina lalu berjalan menjauh. Nina sendirian, celingukan, mengamati lorong itu sepi, pelayan hanya sesekali melewatinya, tak sabar ingin segera sampai di kamar Bara. “Kemana saja kamu Nina? Aku mencarimu dari tadi!" Suara seorang pria membuat jantung Nina hampir saja melompat. Matanya melotot tak percaya, Samuel menemukannya, tangan pria itu mencengkeram erat lengannya. “Kamu mau lari?" Todong Samuel, matanya melotot nyaris lepas. “A-aku tersesat," dahi Nina berkerut cemas. "Lepasin tanganmu, Samuel. Sakit.” Nina merintih pelan, cengkraman lengan Samuel tak main-main menekan lengan kecilnya. “Jangan sok polos, Nina. Kamu mau melarikan diri kan?” Samuel akhirnya menyeret lengan Nina, memaksanya berjalan menuju aula. Namun Nina berjalan sambil meronta kesakitan, memaksa menghentikan langkahnya, mencakar cakar tangan Samuel agar melepaskan cengkeramannya. Alih alih berjalan ke aula, Samuel justru membawa Nina keluar dari aula. Dan para staf yang melihat Nina dan Samuel berbisik bisik, mengira mereka sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Nina jengkel, tak bisa berteriak karena khawatir sesuatu terjadi pada adiknya. Brak…!! Samuel mendorong tubuh Nina ke sebuah kursi panjang berbahan besi. Aw… Rintih Nina sambil memegangi lengannya. Dorongan keras pria itu membuat lengannya terbentur sandaran kursi yang terbuat dari besi. “Sakit tau!" Protes Nina sambil menggosok gosok lengannya. Erangan Nina seketika berhenti saat wajah Samuel mendekat padanya. Kedua tangan nya mengurung tubuh Nina. “Anak buahku sudah ada di depan rumahmu. Kalau kamu berani macam-macam lagi, mereka akan masuk lalu memperkosa adikmu,” ancam Samuel dengan suara rendah. “Biadab kamu, Samuel. Kamu pria paling menjijikkan. Kamu jahat l - jahat - jahat…" Nina memukuli bahu Samuel. Grep… Samuel menangkap tangan Nina. “Ingat itu sebelum mencoba melawanku. Ingat, Nina. Hidupmu milikku, kamu tak bisa berbuat apapun tanpa izinku." "Bos, kamar sudah siap.” Salah satu anak buah Samuel berdiri di belakangnya. Srak… Samuel menarik kasar lengan Nina, memaksanya berdiri. Lalu menariknya agar berjalan dengannya. “Lepasin aku, Samuel. Aku bisa jalan sendiri." “Dan melarikan diri lagi?" Potong Samuel sambil menarik tangan Nina, berjalan mengikuti anak buahnya menyusuri lorong kamar hotel yang sepi. Menarik semakin kuat saat salah satu kamar di buka oleh anak buahnya. Brak… Samuel mendorong keras tubuh Nina ke atas ranjang. Wajah pria itu merah, matanya membara penuh ancaman. “Diam di sini sampai pria itu mendatangimu. Atau adikmu di perkosa!” Nina diam, duduk cemberut menatap Samuel. Dan saat Samuel berjalan meninggalkannya, Nina melemparinya bantal. "Samuel Sialan!!” Teriak Nina dengan berlinang air mata. Hampir saja pelariannya berhasil. Nina lalu membanting tubuhnya di kasur, menangis sejadi jadinya di sana. Ia yakin, Samuel mulai sekarang akan lebih berhati-hati. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN