Seorang gadis tengah berputar pelan di depan cermin lebar kamar, menatap kagum pantulan dirinya setelah tangan terampil sang makeup artist selesai merias wajahnya.
Gaun hitam berkilau yang membalut tubuhnya menampakkan lekuk sempurna. Bahu mungilnya terbuka, memperlihatkan keindahan dadanya yang ranum. Rambut hitam sebahu berkilau, membingkai wajah ayunya bak lukisan hidup.
“Kamu cantik sekali, Mbak,” puji sang makeup artist sambil merapikan perlengkapannya.
Namun Nina menatap bayangan dirinya dengan ragu. “Baju ini… terlalu terbuka, kan?” suaranya lirih. Gaun panjangnya memang menjuntai hingga lantai, tetapi belahan tinggi di sisi rok memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
Linda, sang makeup artist, tersenyum tipis. “Gaun seperti ini wajar di pesta kalangan elit. Semakin kamu cantik dan seksi, semakin banyak kesempatanmu dikenal orang. Dan itu akan menguntungkanmu,” ucapnya sambil menutup kopernya yang berisi puluhan make up.
Nina terdiam. Kata-kata Linda ada benarnya. Semakin banyak orang yang bisa ia dekati, semakin besar peluangnya untuk lolos dari cengkeraman Samuel. Hatinya berdegup cepat, tak sabar menanti pesta itu, kesempatan yang bisa jadi jalan pelariannya.
Dan Samuel langsung menyambutnya saat pintu kamar terbuka. Pria itu berdiri membatu, pandangan matanya jelalatan, menyapu tubuh Nina dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan matanya tak mau beralih sewaktu naik kembali, berhenti di d**a Nina.
Nina yang risih otomatis memutar tubuhnya, tak ingin memberi tontonan gratis pada pria yang selalu menindasnya. Sungguh ia ingin memakai kemeja untuk menutupi dadanya.
Nina tahu benar tujuan gaun ini, untuk menggoda pria tua lawan bisnis Samuel. Rival yang membuat Samuel selalu panik tiap kali pria itu membuat kebijakan di perusahaan nya, membuat firma hukumnya kerap kali diguncang badai ketika mereka datang, ia bahkan pernah hampir meregang nyawa karena salah satu pengacara yang bekerja di firmanya tak bisa menyelesaikan permasalahan sang Rival.
Dan Nina belum pernah melihat atau bertemu wajah rival Samuel. Menurut pria itu, dia akan memperkenalkan dirinya dengan Rivalnya di pesta.
Nina memutar matanya. Dalam hati bersumpah tidak akan melakukan perintah Samuel, apalagi bercinta dengan pria tua itu. Nina bergidik jijik.
Malam ini, bermodal kecantikan dan kemolekan tubuhnya Nina akan mencari relawan yang mau membantunya melarikan diri. Ia telah mengantongi uang pemberian Samuel hingga belasan juta. Meminta relawan itu agar mengantar dirinya menemui Mila, setelah itu mengajak adiknya melarikan diri sejauh mungkin.
Srak…
Tiba-tiba, Samuel menyelimuti bahu Nina dengan jas hitam miliknya. Lengan kokohnya terulur, seolah menawarkan sandaran.
Dahi Nina berkerut, matanya melirik tak percaya pada Samuel. Tak biasanya ia lembut, apalagi menawarkan lengannya menjadi sandaran Nina.
Bodo amat, gak usah banyak mikir, Nin. Rangkul aja tangan nya, toh kamu juga butuh sandaran, sulit kan jalan pakai hak tinggi? Apalagi tubuhmu yang nyaris tanpa baju membuatmu tak bisa berdiri tegak percaya diri.
Nina akhirnya bergelayut di lengan Samuel, namun ketika berpapasan dengan Tini, ia langsung memeluk wanita tua itu.
“Doakan aku, Bu Tini," pinta Nina.
Dahi Tini berkerut semakin dalam. "Kenapa minta di doakan? Kamu mau pesta bukan ke Medan perang.”
"Doakan kegiatan kami lancar. Biar aku bisa pulang secepat mungkin, nggak ada halangan apapun,” ucap Nina bermakna ganda. Bibirnya tersenyum ke arah Tini. Berharap, semoga doa wanita tua itu bisa menembus langit.
Tini mengangguk-anggukkan wajahnya, menggenggam lembut jemari lentik Nina. “Aku akan mendoakan mu untuk semua kebaikanmu. Sekarang cepat berangkat, Mas Samuel menunggumu."
Setelah pamitan, Nina kembali berjalan keluar rumah, bersandar di lengan Samuel, lalu masuk mobil mewah Samuel yang sudah terparkir di halaman. Nina tak bisa menahan diri mengagumi mobil mewah pria itu.
Kursinya lebar dan nyaman, membuatnya menikmati posisinya. Sebuah televisi lebar sedang dinyalakan oleh Samuel. Layarnya yang lebar menutupi pembatas antara bangku depan dan belakang. Dan setelah jendela tertutup kelambu. Nina seolah berada di home teater.
“Ini… mobil kamu?” tanya Nina polos.
“Samuel tertawa kecil. “Kau kira aku menyewa? Aku bahkan punya dua. Satunya sudah kubuang karena rusak.”
Mobil melaju menembus malam. Meski hatinya tertekan, Nina berusaha bercanda, menutupi kecamuk batinnya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah hotel bintang lima. Aula megah disulap bak taman Aladin. Lampu-lampu emas berkilauan, karpet merah terbentang, tirai emerald bergelantungan, meja-meja berlapis kain emas berderet.
Sang Menteri dan istrinya yang sedang merayakan anniversary pernikahan berdiri di tengah aula, tertawa bahagia menyambut setiap tamu yang datang menemuinya. Di belakangnya terdapat panggung, seorang penari perut yang hampir telanjang menyambut siapa saja yang datang. Tubuhnya yang hanya tertutup bra menari liar diatas panggung, bagian bawah tubuhnya hanya tertutup celana dalam warna senada dengan bra dan sebuah kain transparan menutupi bagian belakang celana dalamnya. Tubuhnya bergerak menggoda, membangunkan hasrat para pria.
“Kau mau naik dan menari di atas sana?” bisik Samuel saat baru selesai menyalami pemilik pesta.
“Kamu sudah gila?"
"Aku tidak gila. Aku pernah melihat kontenmu menari perut, tarianmu lebih seksi dari penari itu, bentuk tubuhmu juga lebih indah dari dia,” ucap Samuel, matanya tak pernah lepas dari penari. Sedang tangannya menggenggam erat tangan Nina.
"Kenapa aku harus menari di sana? Sudah ada penari di atas sana.”
"Menarilah bergantian sama dia. Setelah itu menari bersama-sama. Aku yakin pria itu pasti semakin gak kuat lihat kamu.”
“Gak mau! Ini gak masuk dalam rencana kita." Aku bukan b***k yang bisa kau mainkan sesuka hatimu Samuel.
Samuel menarik Nina semakin dekat, suaranya rendah namun cukup mengancam di telinga Nina. "Kau milikku Hilda, hidupmu berjalan seperti keinginanku." Samuel mencengkeram lengan Nina. “Atau adikmu yang akan menanggung akibatnya?"
Huh… Mila lagi, Mila lagi! Dengkus Nina dengan bibir cemberut.
“Ayo!" Samuel menarik paksa tangan Nina. Membawanya masuk ke dalam ruang kru, ia lalu bertanya pada mereka apakah Nina bisa ikut bergabung dengan penari? Mengatakan jika Nina juga pandai menari perut.
Setelah meneliti tubuh Nina, kru memberi pakaian penari, sebuah bra, celana dalam, rok tipis emas transparan, dan sabuk rumbai-rumbai.
Saat Nina hendak masuk ke ruang ganti, Samuel mengikutinya. Namun pria itu pergi menjauh saat ponselnya tiba-tiba berdering. Nina tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Buru-buru Nina berbalik arah, jalannya cepat keluar dari ruangan kru. Di luar, Nina mengendap endap di belakang Samuel, berlari lari kecil menuju sebuah pintu lebar, begitu keluar dari pintu itu, ia berjalan cepat menyusuri lorong yang sepi. Rupanya aula pesta menyediakan ruangan luar yang dilengkapi kolam renang, tempat pesta outdoor. Dan ia akan bersembunyi di tempat gelap di sekitar kolam renang yang tak tersorot lampu.
Bruk…
Karena Nina berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, ia tak melihat seorang pria yang berjalan di depannya, tubuhnya menubruk tubuh tinggi seorang pria, dadanya lebar dan atletis, sama sekali tak bergerak walau tertabrak tubuh Nina, justru memegangi pinggang Nina saat gadis itu hampir terjatuh.
“Hilda?” suara berat itu bergema.
Nina membeku. Pria itulah yang dulu menyelamatkan dirinya dari Bimo, ia yakin pria itu kali ini juga tak akan menolak menyelamatkan dirinya.
Bersambung…