Hari berlalu, malam pun telah pergi. Pagi itu Nina memberanikan diri keluar kamar sambil berpegangan tangan, dan kakinya masih sama seperti kemarin, gemetar ketika berjalan. Namun kali ini getaran nya mulai berkurang.
“Pelan pelan mbak Hilda,” ucap Tini penuh kasih, meletakkan sapunya begitu melihat Nina keluar kamar. Memegangi sebelah tangan Nina.
Tak banyak langkah yang diambil Nina, ia hanya berjalan sampai ruang tengah, duduk di tepi jendela yang berlapis kasur kecil yang nyaman. Ia lalu menyuruh Tini melanjutkan menyapu, sedang dirinya hanya duduk diam sambil menikmati pemandangan luar dari jendela, sesekali melihat Tini yang sedang menyapu. Walau kerja wanita itu lambat, namun dia mampu menyelesaikan pekerjaan hingga selesai.
Setelah dirasa kakinya baikan, sudah hilang gemetarnya, Nina kembali berjalan, kali ini ia ke dapur, ingin melihat setiap detail rumah itu.
Dapur itu luas, punya desain modern, lengang, tak ada perabot mahal, tak ada elektronik modern, hanya sebuah kulkas satu pintu dan sebuah Magic Com yang terlihat paling mahal. Beberapa peralatan masak kecil sederhana yang sering Nina temui di pasar tradisional dan beberapa piring plastik terletak dalam rak mini di atas meja marmer.
Ruangan mewah itu seolah sebuah sisa kejayaan yang telah runtuh, menyisakan cerita yang menyedihkan, mungkin ini salah satu penyebab Hilda sakit. Mental yang hancur membuat tubuh sakit.
“Mbak Hilda butuh apa? Mau saya ambilkan?” Tini yang baru saja muncul berdiri di dekat Nina.
“Aku…, pengen minum,” jawab Nina sembarangan.
Tini lalu mengambilkan minum, menuang air dari teko plastik pada sebuah cangkir keramik. Bukan gelas plastik yang ada di dekat teko, gelas tempat dirinya minum biasanya. Namun saat Tini hendak menaruh gelas di depan Nina. Tangan nya yang selalu bergetar karena tua tiba-tiba menjatuhkan gelasnya.
Prang…
Cangkir keramik yang dipegang Tini jatuh berserak di atas lantai. Nina yang melihat itu mendekat. Ikut membersihkan serpihan gelas, mengumpulkannya dalam kantong plastik.
“Maaf Mbak Hilda saya tidak sengaja. Kamu boleh potong gaji saya untuk mengganti gelas ini.” ucapnya pelan dengan wajah menunduk ketakutan. Kedua tangannya saling meremas gugup.
Nina lalu memegang tangan itu, menggenggamnya lembut, senyumnya terukir cantik sewaktu Tini mengangkat wajahnya. “Ini cuman gelas, Bu. Gak apa-apa, gak sebanding sama pengorbananmu selama ini yang sudah merawat semua kebutuhan ku.”
“Beneran Mbak Hilda?” wajah sepuh tiu terlihat berseri seri.
“Iya nggak papa.”
“Ya sudah saya mau buang ini dulu.” Tini menggoyang sedikit kantung plastik berisi pecahan gelas, di tangannya, ia lalu pergi. Sedang Nina berdiri sambil mengetuk ngetuk meja marmer, berpikir bagaimana caranya menghubungi Mila. Selama ini dirinya selalu menahan diri tak menghubungi Mila, karena Samuel yang datang tiap tiga hari sekali mengancam dirinya agar tak menghubungi Mila atau nyawa gadis itu dalam bahaya.
“Bu Tini, boleh pinjam hp mu sebentar?” tanya Nina saat Tini kembali ke dapur. Rasa khawatir meliputi hatinya, takut jika wanita itu menolak permintaan nya.
“Sebentar, saya ambilkan.” tak lama kemudian, Tini sudah kembali dengan ponselnya, bukan android apalagi apple, tapi hp nokia jadul, tak ada wa ataupun chrome, karena ponsel itu hanya bisa untuk menelpon dan mengirim sms.
Nina memandangi ponsel itu, membuka layanan telepon, namun saat memencet nomor otaknya jadi kosong. Ia tak ingat nomer Mila, ia hanya ingat nomornya sendiri.
“Ada apa Mbak? Kamu mau telepon seseorang? Mas Samuel?” Pertanyaan Tini seolah tak terdengar di telinga Nina, diam membeku, mencoba mengingat nomor adiknya, tapi sia sia, ia tak ingat sedikitpun. Tini kembali bertanya, bingung melihat ekspresi wajah Nina yang kosong. “Ada apa Mbak? Kamu ingat sesuatu?” tebaknya.
Nina menggeleng. “Entahlah, aku merasa harus menelpon seseorang, tapi aku nggak tau siapa dia, nomernya juga nggak hafal.”
“Aku tau, kamu pasti pengen nelpon Mas Samuel kan? Di dalam ada nomernya Mas Samuel kok.”
“Hilda! Apa yang kamu lakukan di sini?!!!” Sara bentakan pria membuat Nina menoleh, wajahnya seketika berubah sesuram mendung, walau bibir nya diam, tapi hatinya berisik. Aku muak tidur terus, Samuel bodoh!!!
Nina refleks mundur saat Samuel datang menghampirinya, menarik tangannya. “Ayo ikut aku.” ucapnya sambil menarik tangan Nina.
“Pelan-pelan, Mas Samuel, mbak Hilda baru bisa jalan.” ucap Tini khawatir.
Samuel yang menyadari Nina sulit berjalan, sontak menggendongnya, membawanya ke kamar, menghempaskan tubuh itu di atas ranjang, lalu menutup rapat pintunya.
“Apa kamu sudah gila? Kenapa sudah berjalan? Aku kan sudah bilang kalau kamu baru boleh jalan setelah satu bulan.”
“Aku nggak betah tidur terus, badanku sakit semua.”
“Dan gara gara kemarin kamu berjalan, Bu Tini curiga sama kamu.”
“Dia mencurigaiku?” Alis Nina berkerut khawatir, ternyata wanita itu diam diam melapor pada Samuel apa yang dia lakukan selama ini. Walau begitu, entah mengapa ada perasaan lega dalam hatinya. Senang seseorang mengerti dirinya bukan Hilda.
“Tadi malam Bu Tini menelpon. Katanya, kalau kamu nggak seperti Hilda yang dulu. Suara mu, sifatmu, bahkan bentuk tubuhmu juga beda dengan Hilda. Dan yang paling dia curigai adalah jam tanganmu, hilda berangkat pakai jam tangan putih, dan kamu malah pakai jam hitam, Dan dia makin curiga gara gara kamu bisa jalan.”
“Terus gimana dong?” tanya Nina panik.
“Terus aku akan menculik dan menyiksa adikmu, sesuai dengan perjanjian kita. Kalau kamu melakukan hal bodoh, Mila akan ku siksa.”
“Jangan, aku mohon jangan lakukan itu.”
“Makanya hati hati kalau mau bertindak, nyawa Mila ada di tanganmu.” Samuel menjendul kepala Nina. “Baiklah, karena kamu sudah bisa jalan, maka tugas mu ku percepat.”
“Tugas ku?” Perasaan Nina tak enak.
“Dua minggu lagi ada pesta ulang tahun seorang anggota dewan. Kau harus ikut dengan ku.”
“Memangnya apa tugasku?” tanya Nina.
“Tugasmu merayu seorang pengusaha yang ikut di acara itu. Dapatkan hatinya, rayu sampai dia mencintaimu setengah mati.”
“Aku mana bisa membuat seseorang mencintaiku? Apalagi hanya semalam?”
“Kau pasti bisa, aku jamin itu.” Nina bergidik waktu melihat senyum miring Samuel.
“Ada syaratnya.” nina membuat Samuel menoleh padanya, mata itu menatapnya tajam. “Berikan aku hp kalau aku berhasil merayu pria itu.”
“Aku tidak sedang bernegosiasi dengan mu Hilda. Dan aku tidak akan pernah memberikanmu hp.”
“Ya sudah, aku nggak mau berangkat.” Nina menegakkan duduk , membuang muka seolah sedang merajuk.
“Kau mau aku menyiksa adikmu?” Ancaman itu bagai mantra nenek sihir. Lebih tepatnya kakek sihir yang selalu mengancam mangsanya.
“Kalau kamu siksa Mila, aku akan membunuh diriku sendiri.”
“Kau sudah gila!” gerutu Samuel.
“Kau lebih gila!” pekik Nina tak terima.
Samuel menghela nafas keras-keras. “Jangan berisik, oke?" Samuel kali ini terlihat memohon. Ia menarik kursi ke dekat ranjang, lalu mendudukinya. “Kenapa kamu ngotot sekali pengen hp Nina?” Tanya nya frustasi. “Silahkan nikmati nonton film sepuasmu di rumah ini, tv rumah ini sudah langganan saluran film, makanlah sepuasmu, banyak Snack di lemari kamarmu, kalau pengen makanan tinggal bilang ke Tini. Kecuali hp, kamu nggak boleh main hp.”
"Ini sama saja mengurungku!” protes Nina. Memang benar rumah Hilda bagus, dan semua tersedia, ada satpam yang menjaga pagar rumah, Nina merasa dikurung dalam sangkar emas.
“Aku memang mengurungmu, ingat, kau milikku, Nina.”
“Aku nggak mau jadi b***k orang yang nggak bisa dipercaya, aku benci kamu, Samuel.” pekik Nina.
“Jangan berisik, Hilda!" Mata Samuel hampir keluar, melotot tajam ke arah Nina. "Apa maksud kamu aku nggak bisa di percaya? Selama ini aku selalu menepati kata-kataku. Dan sejak awal aku sudah jelas bilang tidak akan memberimu hp.”
“Apa alasanmu aku nggak boleh main hp? Kamu pasti cuma pura pura kan kalau Mila sudah kembali ke rumah?”
“Kamu nggak boleh main hp, aku takut kamu nggak bisa menahan diri menghubungi adikmu!” Tatapan tajam Samuel tak membuat Nina gentar. “Kalau kamu nggak percaya adikmu sudah kembali ke rumah mu, aku punya bukti, nih.” Samuel memperlihatkan sebuah foto yang diambil dari kejauhan, Mila sedang naik sebuah motor di depan rumahnya.
“Aku nggak hanya mengembalikan rumah kalian, aku bahkan ngasih uang lima puluh juta ke adikmu. Sepertinya dia beli motor pakai uang itu.”
Melihat foto Mila. Nina tak bisa membendung air matanya yang menganak sungai. Rindu menyesakkan dadanya.
Bersambung…