7. Kamu Ketahuan

1052 Kata
Pagi baru saja meninggalkan peraduannya. Namun sinar matahari sudah menunjukkan kuasanya. Jam baru menunjuk angka sepuluh pagi tapi sengatnya sudah membakar kepala, menyiksa gadis yang berbaring di atas ranjang, letaknya yang tepat di samping jendela membuat sinar matahari terasa memanggang kulitnya. Gadis itu frustasi, sudah dua minggu tak bisa kemana-mana, pasrah setiap hari kulit putih bersihnya terpanggang matahari pagi, sedang akting pura-pura lumpuh. Menurut pembantunya, ini adalah salah satu terapi agar segera sembuh dari leukimia, berjemur di bawah sinar matahari pagi setiap hari. Tapi aku kan bukan Hilda! Ah ya sudahlah. “Uh gerah banget…,” Nina tak bisa menahan diri lagi. Matahari pagi ini memang lebih ganas dari biasanya. Tubuh indahnya sampai bermandi keringat, lehernya lengket, kulit kepalanya lepek. Sudah tiga hari pembantu tak mencuci rambutnya. Mata bulat Nina lalu memindai seksama pintu kamar yang tertutup. Tatapannya waspada, mengira ngira, kapan pembantunya masuk lagi ke kamar? Bu Tini baru keluar setengah jam lalu, biasanya wanita sepuh itu masuk lagi sekitar tiga jam kemudian. Nina sudah berada di rumah Hilda selama dua minggu, ia mulai hafal kebiasaan pembantunya. Nina menyeka lehernya yang lengket, ia sudah tak tahan, ingin sekali merasakan kesegaran air mengalir di sekujur tubuhnya, merindukan sabun yang menggosok kulitnya, dan kelembutan sampo yang menenangkan otaknya. Kamar mandi itu ada di dalam kamar. Cukup mandi dengan hati hati dan pelan pelan saat mengguyur air tentu tidak akan terdengar di telinga tua Tini. Selama ini Tini hanya menyeka tubuhnya, mencuci rambutnya setiap tiga hari sekali. Tentu semua itu tak bisa memuaskan dahaga mandinya. Nina duduk, lalu menurunkan kakinya. Ia terkejut, kaki kakinya langsung gemetar sewaktu dirinya mencoba berdiri. Apa ini karena kecelakaan? Otaknya memberi respon ketakutan ketika kakinya menyentuh lantai? Atau karena terlalu lama berbaring membuat otot-ototnya lemah? Sehingga butuh waktu agar otot-ototnya pulih seperti dulu? Selamat Nina kamu benar benar mirip dengan Hilda. Sejujurnya Nina sangat penasaran dengan foto Hilda, beberapa foto gadis itu ada di meja rias, ada juga yang bersama orang tuanya. Walau Nina penasaran setengah mati dengan foto Hilda, ia tak berani meminta Tini untuk mengambilkan foto itu, khawatir jika wanita itu curiga padanya dan Mila dalam bahaya. Sebelumnya Nina sudah berakting, bertanya pada Tini di mana orang tuanya? Tini lalu bercerita jika orang tua Hilda sudah bercerai. Karena keduanya sudah menikah, mereka memilih tinggal di rumah masing masing yang baru dibelinya. Meninggalkan rumah lama mereka bersama putri tunggalnya. Dan Nina terkejut, ia bisa menangis mendengar cerita hidup Hilda yang menyedihkan, ternyata tak hanya wajahnya yang mirip dengan Hilda. Hidup mereka sama sama menyedihkan. Tini yang merasa iba lalu meminta orang tua Hilda untuk datang menjenguk bersama. Dan lagi lagi Nina kembali menangis, membuat kedua orang tua Hilda ikut menangis dan meminta maaf, berjanji jika mereka akan lebih sering menjenguk Nina. Srak… Nina memaksa kakinya melangkah, kakinya yang lemah dan terus bergetar membuat Nina harus berpegangan ketika sedang berjalan. Sambil berpegangan lemari ia berjalan perlahan, saat mencapai meja rias, kaki Nina berhenti. Sebuah bingkai berisi foto seorang gadis menyita perhatiannya, wajah itu sangat mirip dengannya, memakai baju SMA, rambutnya panjang, wajahnya berseri, tersenyum cantik di apit kedua orang tuanya. Tawanya cerah secerah orang tuanya yang sama sama merangkul bahu Hilda. Menurut Tini beberapa hari yang lalu, itu adalah foto Hilda yang terakhir bersama kedua orang tuanya saat perpisahan SMA. Setahun kemudian, orang tuanya bercerai. Nina menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya yang cantik sedikit berubah pada hidung dan bibir. Cuping hidungnya yang sedikit lebar diperbaiki agar mengecil, dan bibirnya yang tipis sedikit berisi setelah di operasi, dan rambut panjangnya yang sudah di pangkas sebahu oleh Samuel membuat wajahnya semakin identik dengan foto Hilda yang terbaru. Kret… Pintu kamar tiba tiba dibuka. Nina yang sedang berdiri seketika melepaskan pegangannya. Tepat saat tubuh Nina jatuh terduduk, Tini melihatnya. “Ya Allah mbak Hilda…, ada apa ini? Kenapa kamu disini?” Tini berlari, wajahnya syok melihat Nina ambruk di atas lantai. Nina terkekeh, “nggak ada apa-apa kok.” Nina cengar cengir, "aku…, cuma latihan jalan kaki aja, dan kaget waktu kamu tiba tiba masuk sampai jatuh.” "Saya minta maaf sudah membuat kamu jatuh. Tapi…, benar kamu sudah bisa jalan?" Dahi keriput wanita itu semakin banyak berkerut saat bertanya. Nina mengangguk. “Aku akhir akhir ini merasa baikan, makanya pengen coba jalan.” terangnya sambil meremas kedua tangannya, entah mengapa tangannya juga ikut gemetar. “Tapi kaki ku ternyata masih gemetar banget." Tini mengangguk-anggukkan kepalanya, “butuh waktu supaya tenagamu bisa kembali seperti dulu lagi,” ucap Tini sambil tersenyum. “Alhamdulillah…, saya senang sekali, akhirnya ada perubahan dalam kesehatan mu." "Kamu senang?” Gak curiga sama aku? Padahal dirinya setengah mati ketakutan wanita itu akan curiga lalu marah-marah padanya. “Aku senang lah. Kamu nggak tau kan kalau selama ini, setiap malam aku selalu mendoakan kesembuhanmu?” "Terima kasih," ucap Nina dengan wajah berseri. "Aku sudah capek, kalau begitu aku mau tidur lagi.” Nina lalu ngesot menuju ranjangnya. "Sini ku bantu berjalan.” Tini memegangi lengan Nina agar gadis cantik itu berdiri. Namun Nina justru menarik lengannya. “Aku jalan gini aja, Bu. Sekalian olahraga." Nina kembali ngesot. Tini tersenyum, geleng-geleng kepala melihat tingkah majikannya yang semakin aneh sejak pulang dari rumah sakit. Atau aneh sejak pulang dari gunung? Entahlah. Tini membuntuti Nina yang sedang ngesot di lantai. Dan ia sigap membantu saat gadis itu naik ke ranjang. Di atas ranjang, Nina bersyukur, cahaya matahari sudah bergeser. Ia tidak akan kegerahan seperti tadi. Tini lalu menata bantal untuk Nina, “syukurlah kamu makin sehat," ucapnya sembari membenahi letak sprei, berantakan karena Nina bergerak gerak. “Kamu harus sering sering latihan mbak. Biar bisa jalan lagi." Nina mengangguk. “Ternyata usahamu ke gunung gak sia-sia. Kamu semakin sehat.” Tangan Tini lalu mengambil smartwatch di samping Nina, mengamatinya sejenak, "ini punya kamu?” Tanya nya sambil meletakan arloji hitam Nina di atas nakas. “Iya, ada apa?” entah mengapa tatapan was was wanita itu membuat Nina khawatir. “Aku nemu jam ini di kamar rumah sakit. Mungkin pasien sebelumnya lupa membawanya pulang.” ucap Nina ngawur. “Oh begitu.” sahut wanita itu sambil mengangguk angguk. “Kalau begitu, istirahatlah, kamu pasti capek habis latihan jalan. Besok kalau butuh bantuan, panggil saya." Nina mengangguk dengan wajah ceria. Dan Tini pamit keluar kamar, namun sebelum ia keluar, sejenak mampir di keranjang baju kotor Nina, mengambilnya, lalu segera pergi. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN