“Ka-kamu? Kenapa kamu di sini?” suara Nina tercekat, masih ingat betul nama pria itu, Samuel. Lelaki yang pernah menawarkan sesuatu yang tak masuk akal, menjadi Hilda. “Kenapa kamu ada disini?”
Tak ada siapapun di ruangan luas itu selain Samuel. Nina yakin dirinya berada di kamar VIP rumah sakit. Sebuah televisi menggantung di dinding, walau agak jauh namun cukup jelas di lihat dari ranjang. Di depan televisi ada dua buah sofa single, dan sebuah sofa lebar menempel di dinding, kamar itu juga dilengkapi sebuah kulkas mini, AC yang menghembus dingin tak bisa menenangkan hatinya, keberadaan pria itu membuat jantungnya berdebar cemas.
Wajah Nina kaku melihat Samuel menarik kursinya, duduk semakin dekat. Tatapan matanya menusuk, senyum tipisnya seperti belati yang siap mengiris hati.
“Kamu mau duduk?” tanya Samuel, alisnya terangkat sebelah. Tanpa menunggu jawaban, ia menekan tombol di samping ranjang, membuat sandaran naik perlahan, memaksa Nina terangkat.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Nina sinis.
“Aku menunggumu. Kamu nggak lihat?” jawab Samuel santai.
Nina celingukan mencari sosok adiknya. Gadis itu tak ada di manapun. “Ke-kenapa kamu menungguku? Kita nggak punya hubungan apa-apa."
“Mulai sekarang kita punya hubungan Nina," jawaban itu bagai desisan ular yang merayap di lehernya.
“Aku nggak mau!" Tolak Nina tanpa pikir panjang.
“Kalau begitu adikmu yang akan menanggung akibatnya.”
Dahi Nina berkerut. “Kamu gila!” pekiknya. “Ancamanmu nggak akan mempan. Aku nggak takut.”
Samuel membuka ponselnya, menunjukkan sebuah foto. “Ini tempat kosmu, kan?”
Mata Nina seketika perih. Air mata sudah tak bisa bertahan. Dosa apa yang sudah ku buat ya Allah, sampai dunia ku di permainkan penjahat. “Kamu orang jahat!”
“Pintar, cepat paham. Ingat itu kalau berani memberontak. Aku bisa menculik dan menyiksa adikmu.” Seketika dunia Nina runtuh, kata-kata itu bagai badai baru yang siap memporak porandakan hidupnya.
“Jangan libatkan adikku,” desah Nina tak berdaya.
“Makanya patuh. Adikmu aman kalau kamu menurut.”
“A-aku akan melaporkanmu pada polisi.” Nina tau, ia hanya mengancam pada angin yang lalu. Mana bisa ia melaporkan Samuel? Lapor polisi artinya harus menyiapkan uang jutaan.
Senyum tipis Samuel membuat tubuh Nina menggigil. “Laporkan saja kalau bisa. Dan adikmu tidak akan selamat.”
"Apa yang kamu mau?” Nina akhirnya menyerah memberontak.
“Namamu sekarang adalah Hilda."
Nama itu lagi?
"Kenapa aku harus jadi Hilda? Kenapa nggak dia sendiri yang jadi Hilda?” Nina ingin berteriak, tapi khawatir sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Pria di depanmu adalah penjahat, hati-hati, Nina.
Suara Samuel landai, seperti merapalkan rencana yang telah matang. “Hilda sudah meninggal, tapi aku merahasiakan ini dari siapapun. Peran dia sangat penting di hidupku. Makanya dia nggak boleh meninggal sekarang.”
“Apa maksudmu Hilda sudah meninggal tapi nggak ada orang yang tau? Kamu menyembunyikan mayatnya?” Nina masih belum mengerti apa yang dibicarakan Samuel, kata kata pria itu bagai potongan puzzel yang sangat rumit, dan membuatnya gila ketika berusaha menyusunnya.
“Aku nggak menyembunyikan mayatnya." Samuel menggelengkan kepala, bibirnya tersenyum tipis. “Semua orang sebenarnya tau kalau Hilda sudah meninggal, tapi mereka tidak sadar kalau mayat yang mereka temukan adalah adalah Hilda.”
Nina diam, tidak pernah menyangka ia dipertemukan dengan penjahat berdarah dingin, lebih tepatnya psikopat gila.
“Selama ini, aku sudah berkorban terlalu banyak untuk Hilda, dan aku tidak tau kenapa aku rela berkorban untuk wanita yang bahkan belum pernah ku tiduri. Ku akui, dulu aku memang mencintainya karena obsesi ingin memilikinya, obsesi karena ingin merebutnya dari rival ku yang cinta mati sama dia, tapi setelah Hilda sakit, aku malah kasihan, orang tua Hilda yang sudah bercerai tidak ada yang mau merawatnya, ya sudah ku rawat saja Hilda sambil terus berharap dia bisa sembuh dan bermanfaat lagi untukku. Dan pengorbanan ku ternyata tidak sia-sia. Tepat saat Hilda makin sekarat, tuhan mempertemukan aku dengan mu.”
Dengan ujung jarinya Samuel membelai wajah Hilda, bukan belaian penuh cinta, tapi klaim yang dingin. “Wajah ini sangat berguna untuk ku, wajah yang sangat mahal, aku menebus puluhan milyar untuk mendapatkan wajah ini, kaulah pion terpenting dalam hidupku. Nyawamu milikku sekarang, Hilda.”
“Aku bukan Hilda!” Nina membuang muka, menghindari sentuhan Samuel, namun tangan Samuel justru mencengkram dagunya. “Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan nama itu. Namamu Hilda. Bukan lagi Nina, dia sudah meninggal.”
Tepat saat itu layar televisi yang sedang menyiarkan berita membawakan berita yang menusuk telinga Nina. Nina terpaku melihat reporter berbicara tegas di layar. “Telah terjadi sebuah kecelakaan tragis di sebuah gunung di Magelang. Korban dua orang: seorang wanita bernama Nina Eka Cantika dinyatakan meninggal di tempat, sedangkan sopir kritis dirawat di rumah sakit.”
"Apa maksud berita itu? Aku masih di sini, selamat, kenapa mengatakan aku sudah meninggal? Tu-tunggu, siapa mayat wanita yang dibawa mereka?”
"Dia Hilda,” jawab Samuel enteng.
"Hah? Kok bisa kami tertukar?” Nina tak percaya menatap Samuel, namun senyum misterius di bibir pria itu membuat Nina mengerti apa yang sedang terjadi. "Ka-kamu menukar kami waktu kecelakaan?”
“Ideku jenius, kan? Semuanya berjalan lancar. Polisi bahkan tak sadar kalau wanita yang mereka bawa bukan kamu,” ucap Samuel santai.
“Kamu iblis tak berperasaan!” bentak Nina. “Jangan bilang acara manggungku sebenarnya juga settinganmu.”
“Iya. Itu memang settinganku.” Samuel mengangkat bahunya sekilas. “Sekarang memang nya siapa yang mau mempekerjakanmu?”
“Kamu…!!”
“Maki saja aku sesukamu. Itu tak akan mengubah apa pun. Di mata orang-orang, kamu sudah mati. Bersyukurlah masih ada yang memungutmu.”
“Kamu bukan memungut ku. Kamu memanfaatkan, aku” balas Nina dengan napas tersengal.
Samuel mencengkeram wajah Nina, wajahnya dekat, deru nafasnya menyapu wajah cantik Nina. “Sekarang kau tahu seberapa nekat nya aku kan? Nyawa tak ada harganya lagi di tanganku. Jadi jangan main-main dengan ku, aku tak segan menyakiti adikmu kalau kau berani melawanku.”
Samuel berdiri, menatap tajam wajah Nina yang terdiam. Kelelahan jelas merayap di wajah gadis itu, menusuk hingga ke tulang, melawan terasa sia-sia. Di mata dunia ia mungkin telah hilang, tapi adiknya harus tahu jika dirinya baik baik saja. Nina celingukan mencari ponselnya, tak ada di atas ranjang, tak ada di atas meja atau di manapun.
“Mana hpku?"
“Mau apa cari hp mu?"
“Aku harus beritahu Mila kalau aku baik baik saja, biar dia nggak sedih."
“Hp mu ikut jatuh ke jurang. Ingat, kamu sudah mati, jangan hubungi siapapun."
"Tapi setidaknya Mila harus tahu, aku takut dia kenapa-napa.”
“Kamu sudah mati Nina. Adikmu harus bisa terima ini. Jangan pikirkan dia lagi,” bentak Samuel.
Mata Nina berkaca-kaca, “Tapi, aku takut Mila melakukan sesuatu yang buruk, aku takut sesuatu terjadi padanya,” ucap Nina terbata bata.
Samuel membuang nafasnya, suaranya melunak. "Aku sudah urus rumahmu di bank, setidaknya hari ini sudah ada yang datang menemui Mila, rumahnya yang kembali pasti cukup menghibur hatinya. Dan mulai sekarang sudah tidak ada lagi yang mengganggu adikmu. Sekarang hubungan kalian sudah putus, anggap adikmu sudah mati”
“Ku mohon, biarkan aku menghubungi, Mila."
“Jangan membuat kesabaranku habis, Nina!" Bentak Samuel. "Lupakan masa lalumu! Jalani hidupmu yang baru dengan tenang. Ku jamin hidupmu sekarang jauh lebih nyaman dari kemarin, kamu tidak perlu lagi memikirkan uang.”
Nina diam, namun mulutnya sesekali masih mengisak, enak saja Samuel mengatur hidupanya. Nina tak peduli sebesar apapun Samuel membeli dirinya, toh dia tidak pernah memintanya. Sabar Hilda, buat rencana dengan kepala dingin untuk melepaskan diri dari jeratan Samuel.
Karena sudah tenang, Samuel berkata. "Tugas pertamamu adalah, kamu harus jadi gadis lemah yang tidak berdaya. Hilda sudah dua tahun sakit leukimia, dan tiga bulan terakhir dia hanya bisa berbaring di ranjang, buat dirimu tidak bisa apa-apa.”
"Aku tidak pandai pura pura. Gimana kalau ada yang sadar aku bukan Hilda?”
"Kamu bisa melakukannya, kamu kan aktor, pasti pintar pura-pura. Tidak akan ada yang sadar kamu adalah Nina karena aku sudah mengoperasi hidung dan bibirmu agar identik dengan Hilda.”
“A-apa? Kamu bilang sudah mengoperasi hidung dan bibirku? Tanpa seizinku? Kamu benar benar bajingaan gilaa!" Jadi perban di hidung dan bibir ini adalah hasil operasi? Bukan karena kecelakaan? Samuel Gila!!
“Ingat, kamu milikku Nina, aku sudah membeli seluruh hidupmu dengan membebaskan seluruh hutangmu. Jadi sekarang terserah mau ku apakan tubuhmu.”
Nina membuang muka, jengkel, kehabisan tenaga melawan Samuel.
“Jangan menyuruhku mengingat seluruh keluarga Hilda, aku tidak bisa. Otakku terlalu kecil tak akan muat menghafal seluruh nama anggota keluarga Hilda." Nina akhirnya menyerah berdebat, toh dirinya tetap akan kalah.
“Kamu tidak perlu menghafal nama nama keluarga Hilda. Karena kecelakaan ini kamu pura pura lupa ingatan. Dan ingat kamu adalah gadis lumpuh.”
"Maksudmu selama sisa hidupku aku harus pura-pura lumpuh?” Nina tak percaya, ia akan menjalani sisa hidupnya hanya dengan berbaring. Sungguh ini sebuah p********n, ia tak mau jadi b***k selamanya…
Sejenak Samuel berpikir. “Kamu baru boleh bangun setelah satu bulan."
Satu bulan? Itu masih terlalu lama. "Iya.” Nina akhirnya mengiyakan kata-kata Samuel, enggan berdebat, ia akan mengatur sendiri keadaannya.
"Habis ini, ada pembantumu, orang yang selama ini merawatmu datang menjenguk.”
“Namanya siapa?” tanya Nina, setidaknya beri gambaran seperti apa wanita itu.
“Tanyakan sendiri padanya. Kamu kan lupa ingatan. Sekarang mending kamu tidur. Istirahat yang cukup biar cepat sembuh, tugas panjang menantimu. Kalau butuh apa apa, teriak saja, di depan pintu ada yang menjagamu.” Samuel lalu pergi.
“Kamu mau ke mana?" Apa kamu gila? Menanyakan hal seperti ini Nina?
Samuel berbalik, “Masih banyak yang harus ku urus, aku juga punya kerjaan di kantor.” Pandangan matanya lalu melembut, "kamu karyawan ku Hilda, bukan kekasihku. Kekasihku sudah meninggal," ucapnya sambil mengangkat alis, senyum miringnya mengejek Nina. Samuel lalu berbalik, berjalan keluar kamar sambil bersiul pelan.
Tepat saat Samuel berada di pintu, Nina melemparkan bantal padanya, wajahnya panas, merah padam menahan malu. “Daripada pacaran sama manusia keji seperti kamu, mending aku pacaran sama monyet!!" Pekik Nina tertahan. Sebagian bibirnya yang masih diperban membuat suara Nina tertahan.
Bersambung…